RSS

Arsip Penulis: furqontrimashuri

Tentang furqontrimashuri

simpel tapi misterius

“KEKUATAN AMBAK, LINGKUNGAN BELAJAR DAN GAYA BELAJAR”

 Pendahuluan

Tempat belajar mandiri dapat dilakukan di sekolah, di rumah, di perpustakaan, di warnet dan dimanapun tempat yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar. Tetapi lingkungan belajar yang sering digunakan yaitu di rumah dan sekolah. Lingkungan tersebut perlu mendapat perhatian khusus sehingga pembelajar merasa nyaman melakukan kegiatan belajar. Cara belajar: pembelajar memiliki cara yang tepat untuk dirinya sendiri. ini antara lain terkait dengan tipe pembelajar, apakah ia termasuk auditif, visual, kinestetik, atau tipe campuran

Sehingga akan muncul sikap untuk berfikir dalam melakukan suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu lebih berfikir “AMBAK” (Apa Manfaatnya Bagiku), apabila melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, maka seseorang tersebut pasti tidak akan melakukannya. Disilah keutamaan dan manfaat dari “ AMBAK” yang sangat baik dilakukan untuk mengawali dalam melakukan suatu aktivitas yang akan dikerjakan, sehingga tidak ada terjadi kekecewaan yang bersifat sementara.

 

 

Pembahasan

AMBAK adalah singkatan dari “ Apa Manfaat BagiKu”

Dalam banyak situasi, menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat terhadap apa yang sedang dipelajari dengan menghubungkannya pada “dunia nyata”. Ini terutama benar dalam situasi belajar yang formal. Mereka perlu bertanya pada diri sendiri, “bagaimana aku dapat memanfaatkannya dalam kehidupanku sehari-hari? Setiap individu selalu dapat menemukan sesuatu yang dapat menarik baginya. Meningkatkan kariernya, atau membantunya agar lebih mudah berkomunikasi, atau mungkin merupakan batu loncatan menuju sesuatu (misal : pendidikan) yang lebih tinggi.

 

Menemukan AMBAK sama dengan menciptakan minat terhadap apa yang sedang dipelajari dengan menghubungkannya pada “dunia nyata”. Mereka perlu bertanya pada diri sendiri, “ Bagaimana dapat memanfaatkannya dalam kehidupanku sehari-hari. Menciptakan minat memiliki keuntungan instrinsik. Tantangan terbesar baginya adalah menemukan waktu untuk mencapai semuanya.

 

Ketika seorang siswa bertanya, “Apa manfaat bagiku?” pastikan dengan perayaann dalam memasukkan jawabannya. Sering kali membuatnya pesimis dan putus asa. Karena tujuan yang akan dicapai masih jauh. Dan sebaliknya jika dapat berhasil mencapainya mereka mengatakan tidak sulit. Maka penting baginya untuk merayakan prestasi tersebut. Ini akan memberikan perasaan sukses, berhasil, penyelesaian dan kepercayaan, yang akan membangun motivasi baginya untuk meraih tujuan berikutnya.

Perayaan inilah yang menandai setiap langkah penting kearah tujuan dan memberikan kegairahan klimaks untuk pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik.

Bekerja di Lingkungan yang ditata dengan baik, akan terasa lebih mudah untuk mengembangkan dan mempertahankan sikap positif dan sikap positif akan menghasilkan pelajar yang lebih berhasil. Bagi pelajar Quantum ini, bahwa sikap positif merupakan aset yang berharga untuk belajar. Mengatur lingkungan merupakan langkah utama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar secara keseluruhan. Hal ini sangat membantu siswa menjadi pelajar yang lebih baik. Sebelum pembelajaran dimulai, ruang kelas hendaknya ditata sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu tempat dimana siswa-siswa akan merasa nyaman, terdorong, dan mendapatkan dukungan.

Kursi-kursi diberi bantalan supaya lebih nyaman, jendela-jendela dilap dan dinding-dinding dihiasi dengan poster-poster indah dan tulisan-tulisan yang bermakna positif dan masih banyak lagi. Para siswa merasa nyaman dengan diri mereka sebagai individu dan sebagai anggota kelompok. Selanjutnya, para siswa mulai memperkenalkan keterampilan-keterampilan akademis yang membantu mereka agar menjadi pembelajar yang lebih baik disekolah

Alasannya karena musik sangat penting untuk lingkungan Quantum Learning adalah karena musik secara tidak langsung maupun langsung berhubungan dengan kondisi fisiologi seseorang dan dapat terpengaruhi. Setelah suatu percobaan intensif dengan para siswa, ia akan mendapatkan bahwa musik dalah kuncinya. Musik barok merupakan yang membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi.

Ada pula teori yang mengatakan bahwa, dalam situasi otak kiri sedang bekerja, seperti mempelajari materi baru, musik akan membangkitkan reaksi otak kanan yang instuitif dan kreatif. Memasang musik adalah cara efektif untuk menyibukkan otak kanan ketika seseorang sedang berkonsentrasi pada aktivitas-aktivitas otak kiri.

Dalam Pembelajaran, jeda yang berulang-ulang dianjurkan untuk setiap sesi belajar. Jeda sangat penting hingga para siswa perlu memberikan kebebesan mendapatkan dan menikmatinya. Ada beberapa alasan antara lain :

Jeda merupakan saat untuk konsolidasi, untuk mengumpulkan informasi dan membiarkannya menetap secara mantap kedalam pikiran sadar dan bawah sadar. Jeda berarti mundur kembali dan masuk ke dalam ruang pribadi siswa, atau lingkungan mikro. Dan inilah manfaat menggunakan jeda agar siswa dapat fresh dalam berkonsentrasi pada materi yang akan dipelajarinya, sehingga tidak membuat pikiran siswa selalu berfikir yang tegang dan secara terus menerus tanpa adanya waktu untuk berfikir.

Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kemampuan belajar di sekolah. Di sekolah, para guru hendaknya menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara dan gaya yang berbeda dalam mempelajari informasi baru.menurut Rita Dunn, dibidang gaya belajar, menemukan banyak variabel yang mempengaruhi cara belajar orang yaitu mencakup faktor-faktor:

Dua kategori utama tentang bagaimana seseorang belajar, pertama, cara menyerap informasi dengan mudah(modalitas). Kedua, cara mengatur dan mengolah informasi tersebut (kerja otak). Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Pada awal pengalaman belajar, salah satu langkah pertama yang penting adalah mengenali modalitas seseorang dalam belajar, baik modalitas visual, audiorial, atau kinestetik (VAK). Orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial melakukannya melalui apa yang mereka dengar, dan pelajar kinestetik belajar lewat gerakan-gerakan dan sentuhan.

Cara menemukan modalitas adalah dengan mendengarkan petunjuk-petunjuk dalam pembicaraan kita. Cara lainnya adalah memperhatikan perilaku kita ketika menghadiri seminar atau loka-karya. Perbedaan dari orang-orang auditorial lebih suka mendengarkan materinya dan kadang-kadang kehilangan urutannya jika mereka mencoba mencatat materinya selama presentasi berlangsung. Orang-orang visual lebih suka membaca makalah dan memperhatikan ilustrasi yang ditempelkan pembicara di papan tulis. Mereka juga membuat catatan-catatan yang sangat baik. Pelajar kinestetik lebih baik dalam aktivitas bergerak dan interaksi kelompok.

Ciri-ciri yang akan membantu kita dalam menyesuaikan modalitas belajar kita yang terbaik adalah sebagai berikkut:

Masalahnya mungkin ada ketidak cocokkan antara gaya belajar siswa dengan gaya belajar mengajar dosennya.

Gejala ini sangat menonjol pada pergantian dari sekolah lanjutan ke perguruan tinggi karena pengajaran yang diberikan berganti dari sangat visual menjadi sangat auditorial. Orang-orang visual berbicara dengan cepat, auditorial sedang-sedang saja, dan kinestetik berbicaranya lebih lambat. Kalangan pendidik telah menyadari bahwa siswa memiliki bermacam cara belajar. Sebagaian siswa dapat belajar secara baik dengan melihat orang lain melakukannya. Mereka menyukai penyajian yang runtut. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru.

Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman langsung dan konkret daripada mempelajari konsep-konsep dasar terlebih dahulu dan baru kemudian menerapkannya. Dari semua ini, menyimpilkan bahwa cara belajar dan mengajar aktif sangat sesuai dengan siswa masa kini. Agar bisa efektif, guru harus menggunakan yang berikut ini: diskusi dan proyek kelompok kecil, presentasi dan depat dalam kelas, latihan, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi kasus.

Sistem identifikasi VAK membedakan bagaimana cara menyerap informasi. Orang yang termasuk dalam dua kategori “sekuensial” cenderung memiliki dominasi otak kiri. Sedangkan orang-orang yang berfikir “acak” biasanya termasuk dalam dominasi otak kanan. Jadi, keuntungannya yang bisa diperoleh dari hal itu adalah bisa menentukan manakah yang dominan dan apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan cara berfikir yang lain dalam dirinya.

Berpegang pada kenyataan dan proses informasi dengan cara yang teratur, linear, dan sekuensial. Catatan atau makalah adalah cara baik bagi orang-orang ini dalam belajar.

Mempunyai sikap eksperimental yang diiringi dengan perilaku yang kurang terstruktur. Mereka lebih berorientasi pada proses daripada hasil; akibatnya tugas-tugas sering kali tidak sejalan sesuai dengan yang direncanakan karena kemungkinan- kemungkinan yang muncul dan mengundang eksplorasi selama proses.

Adalah dunia perasaan dan emosi. Mereka tertarik pada nuansa dan sebagian lagi cenderung pada mistisisme. Pikiran acak abstrak menyerap ide-ide, informasi, dan kesan mengatur dengan refleksi.

Adalah dunia teori metafisis dan pemikiran abstrak. Mereka suka berfikir dalam konsep dan menganalisis informasi. Proses berfikir mereka logis, rasional dan intelektual. Aktivitas favorit pemikir sekuensial abstrak adalah membaca, dan jika suatu proyek perlu diteliti, mereka akan melakukannya secara mendalam.

Kesimpulan

Dalam melakukan kegiatan maupun suatu hal yang bermanfaat atau bahkan merupakan madrarat yang berpengaruh dengan pribadi kita dalam melakukannya. Maka perlu adanya sikap bertanya pada diri sendiri tentang apa yang akan dilakukannya. Sehingga akan muncul sikap untuk berfikir dalam melakukan suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu lebih berfikir “AMBAK” (Apa Manfaatnya Bagiku), apabila melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, maka seseorang tersebut pasti tidak akan melakukannya.

Disinilah, manfaat AMBAK sangatlah penting dalam langkah awal dalam melakukan kegiatan yang akan diharapkan, sehingga akan bermanfaat baik bagi dirinya tersebut. Setelah mengetahui apa manfaat yang dilakukannya, variabel seperti Lingkungan belajar sangat juga berpengaruh dalam menentukan tercapainya dalam proses yang menjadi faktor dalam berhasilnya peserta didik yang akan dicapainya. Lingkungan belajar yang kondusif dan tertata dengan baik sangat disenangi siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang berlangsung.

Setalah itu, siswa dapat mencari dan mengamati dan menentukan gaya belajar bagaimana yang akan dilaluinya agar lebih cepat dalam tujuan yang diharapkannya. Dari AMBAK, Lingkungan belajar dan gaya belajar merupakan proses pembelajaran yang sangat berhubungan dan saling memberi manfaat dan tujuan bagi siswa atau peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, segala sesuatu dapat kita lihat dari proses awal, pertengahan atau prosesnya dan yang terakhir tercapai tidaknya tujuan yang telah diharapkan.

Daftar Pustaka

Hamruni, Edutainment dalam Pendidikan Islam, Yogyakarta: Fakultas UIN Sunan  Kalijaga, 2009.

Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif-Menyenangkan, Yogyakarta : Fakultas UIN Sunan Kalijaga, 2009.

Haris Mudjiman,”Belajar Mandiri”, Surakarta: LPP UNS, 2008.

http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/12/28/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-kinestetik/

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2012 in pendidikan

 

bahasa dari sudut pandang sikologi

BAHASA

Referensi:

Passer, M.W., & Smith, R.E. (2007). Psychology. The Science of Mind and Behavior. 3rd Ed. New            York: McGraw-Hill International Edition

 

Bhs adl “permata dalam mahkota kognisi” (Pinker, 2000) dan “esensi manusia” (Chomsky, 1972). Berpikir, penalaran dan problem solving kebanyakan melibatkan bhs.

 

Pengertian bhs:

sebuah sistem simbol-simbol dan aturan untuk menggabung-gabungkan simbol ini sedemikian rupa sehingga menghasilkan pesan dan makna yang jumlahnya tak terbatas.

 

Ilmu yang mempelajari aspek psikologis bhs: psikolinguistik— bgmn orang memahami, memproduksi dan memperoleh bhs

 

bhs mempunyai fungsi adaptif, yi:

  1. mempermudah kerjasama sosial
  2. memungkinkan orang melakukan transmisi pengetahuan
  3. alat untuk belajar

 

Properti /Unsur-Unsur Bhs

  1. simbol: suara, karakter tertulis atau sistem simbol yang lain, misal gerakan tangan
  2. struktur: grammar, sintaks
  3. makna: semantik
  4. generativity: simbol bhs dpt dikombinasikan sehingga menghasilkan pesan  yang jumlahnya tak terbatas dan memiliki makna baru
  5. displacement: menunjuk pada fakta bhw bhs memungkinkan kita mengkomunikasikan suatu peristiwa dan objek yang sec fisik tidak hadir

 

Aspek  psikologis dalam bahasa (psikolinguistik)

 

  1. pemahaman dan produksi bhs

 

-         bottom-up processing: unsur-unsur stimulus dianalisa dan kmd dikombinasikan untuk menghasilkan persepsi yang utuh

-         top-down processing: informasi sensoris diinterpretasikan sejalan dengan pengetahuan, konsep, ide-ide dan harapan yang sudah ada

-         pragmatik (pengetahuan tentang aspek-aspek praktis dalam penggunaan bhs): konteks sosial bhs membantu memahami apa yang dikatakan orang lain dan membantu memastikan bhw orang lain memahami perkataan kita

 

  1. Perolehan bhs: bgmn mns memperoleh kemampuan berbahasa?

 

-         Dasar biologis: menurut Noam Chomsky manusia lahir telah dibekali dg LAD (Language Acquisition Device), yaitu mekanisme biologis bawaan yang berisi aturan-aturan umum gramatikal yang ada pada semua bhs

 

-         proses belajar sosial: Jerome Bruner (1983) mengemukakan istilah LASS (Language Acquisition Support System), yaitu faktor-faktor di lingkungan sosial yang mempermudah belajar bhs

 

-         developmental timetable and sensitive periods : perolehan bhs dipengaruhi oleh jadwal perkembangan dan paparan bhs yang diterima pada masa peka (masa kanak-kanak awal hinggaa masa pubertas)

 

 

hubungan berpikir dengan bahasa

-         bhs mempengaruhi bagaimana kita berpikir dan

-         seberapa baik kita berpikir dalam bidang tertentu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in Uncategorized

 

INSTRUMEN STANDAR PROSES

INSTRUMEN STANDAR PROSES

Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi

SMP-SEKOLAH STANDAR NASIONAL (SSN)

 

 

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

DIREKTORAT PEMBINAAN SMP

 

 

JAKARTA, TAHUN 2010


 

  1. II.      STANDAR PROSES

NO

KOMPO-NEN

ASPEK

IINDIKATOR SNP

NO

ITEM PERTANYAAN/PERNYATAAN SNP (IKKM)

SKOR

1 Perencanaan Proses Pembelajaran
  1.  

Perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus

  1. Dasar-dasar perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP
1 Dasar-dasar yang dipergunakan untuk membuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus untuk semua mapel SNP di sekolah adalah: (1) SKL, (2) SI, dan (3) panduan penyusunan KTSP, yaitu telah memenuhi:

  1. 3 unsur
  2. 2 unsur
  3. 1 unsur
  4. Tidak ada
 
   
  1. Perencana pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP oleh guru sendiri
2 Jumlah guru yang membuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus secara sendiri-sendiri dari semua mata pelajaran SNP sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
     
  1. Perencana pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP MGMP sekolah
3 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus dengan cara berkelompok dalam sebuah sekolah (MGMP sekolah) dari semua mata pelajaran atau sesuai rumpunnya sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
     
  1. Perencana pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP MGMP sekolah
4 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus dengan cara berkelompok dari beberapa sekolah (MGMP kabupaten/kota) dari semua mata pelajaran sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25%/tidak ada
 
     
  1. 5.  Merencanakan/mengmengembangkan silabus mapel SNP sama dengan silabus yang telah disusun oleh pusat
5 Sekolah merencanakan/mengembangkan silabus yang sama dengan silabus yang telah disusun oleh pusat sebanyak:

  1. ≤ 25 %/tidak ada
  2. (26-50)%
  3. (51-75)%
  4. (76-100)%
 
     
  1. 6.  Silabus SNP disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
6 Perencanan atau pengembangan silabus disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. b.    Tidak
 
     
  1. 7.  Disahkan oleh Kepala Dinas Kab/Kota
7 Perencanan atau pengembangan silabus disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. Tidak
 
    2.

Perencanaan pengembangan atau penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

1. Ketentuan perencanaan penyusunan atau pengembangan RPP mapel SNP

 

8 Ketentuan-ketentuan dalam pembuatan RPP mapel SNP secara lengkap dan sistematik yaitu berisi:  (1) Identitas mata pelajaran; (2) Standar Kompetensi (SK); (3) Kompetensi Dasar (KD); (4) Indikator Pencapaian kompetensi; (5) Tujuan Pembelajaran; (6) Materi ajar; (7) Alokasi waktu; (8) Metode Pembelajaran; (9) Kegiatan Pembelajaran; (10) Penilaian hasil belajar; (11) Sumber belajar, sekolah telah memenuhi sebanyak:

  1. ≥ 10 mapel
  2. 7-9 mapel
  3. c.    4-6 mapel
  4. d.    ≤ 3 mapel
 
    2. Perencana pengembangan atau penyusunan RPP mapel SNP oleh guru sendiri 9 Jumlah guru yang membuat perencanaan pengembangan atau penyusunan RPP secara sendiri-sendiri dari semua mata pelajaran SNP sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
    3. Perencana pengembangan atau penyusunan RPP mapel SNP MGMP sekolah 10 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan RPP dengan cara berkelompok dalam sebuah sekolah (MGMP sekolah) dari semua mata pelajaran atau sesuai rumpunnya sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
    4. Perencana pengembangan atau penyusunan RPP mapel SNP MGMP sekolah 11 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan RPP dengan cara berkelompok dari beberapa sekolah (MGMP kabupaten/kota) dari semua mata pelajaran sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25%/tidak ada
 
     
  1. 5.            Merencanakan/mengmengembangkan RPP mapel SNP sama dengan silabus yang telah disusun oleh pusat
12 Sekolah merencanakan/mengembangkan silabus yang sama dengan RPP yang telah disusun oleh pusat sebanyak:

  1. ≤ 25 %/tidak ada
  2. (26-50)%
  3. (51-75)%
  4. (76-100)%
 
     
  1. 6.            RPP SNP disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
13 Perencanan atau pengembangan RPP disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. b.    Tidak
 
     
  1. 7.            RPP disahkan oleh Kepala Dinas Kab/Kota
14 Perencanan atau pengembangan RPP disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. Tidak
 
   
  1. 3.  

Prinsip- prinsip penyu-sunan RPP

1. Prinsip perbedaan individu siswa 15 Dalam susunan/pengembangan tujuan, metode, dan rencana pelaksanaan pembelajaran di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah mencantumkan atau memuat cara-cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi (kelompok) siswa masing-masing, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      2. Prinsip partisipasi aktif siswa 16 Dalam susunan/pengembangan metode dan pelaksanaan pembelajaran di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah memuat cara-cara pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan berpartisipasi, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
     
  1. 3.  Prinsip budaya membaca dan menulis
17 Dalam susunan/pengembangan metode, dan pelaksanaan pembelajaran serta penilaian hasil belajar  di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah memuat strategi/penugasan-penugasan, dll untuk menimbulkan budaya membaca dan menulis, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      4. Prinsip umpan balik dan tindak lanjut 18 Dalam susunan/pengembangan penilaian hasil belajar  di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah memuat strategi/cara dan kegiatan umpan balik dan rencana tindak lanjut kepada siswa atau oleh gurunya sendiri, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      5. Prinsip keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber bahan 19 Terdapat keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber bahan dalam susunan RPP dari mapel-mapel SNP, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      6. Prinsip penerapan teknologi informasi dan komunikasi 20 Dalam menyusun/membuat RPP beserta rencana implementasi serta pengkomunikasian dengan pihak-pihak lain yang telah memuat TIK, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
    4.

Bahan Ajar

1. Kesesuaian/relevansi 21 Kesesuaian antara isi bahan ajar terhadap tuntutan silabus dalam pengembangan RPP:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      2. Kuantitas terpenuhi 22 Kecukupan bahan ajar yang dipergunakan dalam pembuatan RPP:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      3. Kedalaman materi 23 Luasan/kedalaman bahasan (banyaknya materi) bahan ajar yang dipergunakan dalam pembuatan RPP dilihat dari cakupan SKL, SK, KD, dan IK telah memenuhi:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      4. Variasi/jenis 24 Rata-rata jenis-jenis (variasi) bahan ajar yang dipergunakan dalam pembuatan RPP untuk tiap mata pelajaran adalah:

  1. ≥  5 jenis
  2. 4 jenis
  3. 3 jenis
  4. < 3 jenis
 
      5. Keterjangkauan 25 Tingkat keterjangkauan/kemampuan sekolah/guru dalam pengadaan bahan-bahan ajar untuk pembuatan RPP:

  1. 76-100)% terjangkau
  2. (51-75)% terjangkau
  3. (26-50)% terjangkau
  4. ≤ 25 % terjangkau
 
2 Pelaksanaan Proses Pembelajaran
  1. 1. 

Persyaratan pelaksanaan proses pembela-jaran

1. Rombongan belajar: 32 siswa 26 Jumlah siswa per rombongan belajar rata-rata adalah:

  1. 32 anak
  2. Kurang atau lebih besar dari 32 anak
 
      2. Beban kerja minimal guru: 24 jam/minggu 27 Rata-rata beban kerja guru:

  1. ≥ 24 jam/minggu
  2. 18-23 jam/minggu
  3. 14-17 jam/minggu
  4. ≤ 14 jam/minggu
 
      3. Buku teks pelajaran: (a) ditetapkan bersama dan sesuai Permendiknas; (b) ratio 1:1 (per mapel per siswa); (c) buku panduan guru, referensi, pengayaan, dll 28 Buku teks pelajaran yang dipergunakan dalam pelaksanaan pembelajaran memenuhi ketentuan pemenuhan buku tekas:

  1. 3 item
  2. 2 item
  3. 1 item
  4. Tidak memenuhi semua item
 
      4. Pengelolaan kelas tepat / sesuai tuntutan kompetensi, dalam hal: pengaturan duduk siswa, intonasi/volume suara guru, tutur kata, ketertiban PBM, penguatan, umpan balik, penghargaan, sanksi, penggunaan waktu,dll 29 Jumlah guru yang merencanakan pembelajaran memenuhi ketentuan-ketentuan pengelolaan kelas, yaitu sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      5. Jumlah rombongan belajar 30 Sekolah memiliki jumlah rombongan belajar sampai dengan tahun terakhir adalah:

  1. Sesuai ketentuan Permendiknas No 24/2007 tentang Standar Sarpras
  2. Tidak sesuai ketentuan Permendiknas No 24/2007 tentang Standar Sarpras
 
   
  1. 2.     

Pelaksanaan Pembela-jaran

1. Kegiatan pendahuluan 31 Jumlah guru yang melaksanakan pembelajaran dan telah memenuhi langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan yaitu penyiapan siswa, pertanyaan, penjelasan tujuan dan penjelasan materi pembelajaran, sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      2. Kegiatan inti 32 Jumlah guru yang melaksanakan pembelajaran dan telah memenuhi langkah-langkah dalam kegiatan inti yaitu (a) eksplorasi: melibatkan siswa, memfasilitasi belajar siswa, beragam pendekatan; (b)  elaborasi: pembiasaan siswa, pengembangan diri/terstruktur atau mandiri, fasilitasi berprestasi/unjuk kerja siswa dll; (c) konfirmasi: umpan balik, variasi klarifikasi hasil siswa, dan fasilitasi refleksi/pengalaman bermakna, sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      3. Kegiatan penutup (merangkum, penilaian, umpan balik, tindak lanjut, rencana berikutnya) 33 Jumlah guru yang melaksanakan pembelajaran dan telah memenuhi langkah-langkah dalam kegiatan penutup yaitu merangkum, penilaian, umpan balik, tindak lanjut, rencana berikutnya, sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
3 Penilaian Hasil Belajar 1.

Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar

1. Keterlaksanaan penilaian hasil belajar 34 Keterlaksanaan (proses) penilaian hasil belajar oleh sekolah (guru dan satuan pendidikan) berdasarkan ketentuan-ketentuan yaitu untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran telah memenuhi:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      2. Pemenuhan ketentuan pelakdsanaan penilaian hasil belajar 35 Pemenuhan ketentuan-ketentuan yaitu dilakukan secara konsisten, sistematis dan terprogram dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukur sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, portofolio dan penilaian diridalam pelaksanaan penilaian hasil belajar oleh sekolah (guru dan satuan pendidikan) telah memenuhi:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      3. Penggunaan/implementasi Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran 36 Pelaksanaan (proses) penilaian hasil belajar oleh sekolah (guru dan satuan pendidikan) telah memenuhi  ketentuan-ketentuan dalam Permendiknas No 20/2007 tentang Standar Penilaian:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
4 Pengawasan Proses Pembelajaran 1.

Peman-tauan

1. Tahapan pemantauan 37 Sekolah melaksanakan pentahapan pemantauan proses pembelajaran yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran, yaitu telah memenuhi:

  1. 3 tahapan
  2. 2 tahapan
  3. 1 tahapan
  4. Tidak melaksanakan
 
      2. Strategi pemantauan 38 Sekolah melaksanakan pemantauan proses pembelajaran dengan strategi atau cara-cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi, memenuhi:

  1. ≥ 7 cara
  2. 4-6 cara
  3. 2-3 cara
  4. 1 cara atau tidak ada
 
      1. Pelaksana pemantauan 39 Pelaksanaan pemantauan proses pembelajaran dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan, yaitu memenuhi:

  1. kepala dan pengawas satuan pendidikan
  2. kepala sekolah
  3. pengawas
  4. tidak ada
 
    2.

Super-visi

1. Pentahapan supervisi 40 Sekolah melaksanakan supervisi proses pembelajaran melalui 3 (tiga) tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran, telah mencapai:

  1. 3 tahapan
  2. 2 tahapan
  3. 1 tahapan
  4. d.    Tidak melaksanakan
 
      2. Strategi supervise 41 Sekolah melaksanakan supervisi proses pembelajaran dengan cara-cara yaitu: pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi, yaitu memenuhi:

  1. 4  cara
  2. 3  cara
  3. 2  cara
  4. d.    1 cara atau tidak ada
 
      3. Pelaksana supervisi 42 Pelaksanaan supervisi proses pembelajaran dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan:

  1. kepala dan pengawas satuan pendidikan
  2. kepala sekolah
  3. pengawas
  4. d.    tidak ada
 
    3.

Evaluasi

1. Tujuan evaluasi 43 Aekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran dengan tujuan untuk menentukan kualitas pembelajaran dan kinerja sekolah?

  1. Ya
  2. Tidak
 
      2. Strategi/cara 44 Sekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran dengan minimal dengan cara-cara: (i) membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dan standar proses (Permendiknas No 41/2007), (ii) mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru.

  1. > 2 cara
  2. 2 cara
  3. 1 cara
  4. Tidak ada
 
      3. Orientasi evaluasi 45 Sekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran dengan memusatkan pada:

  1. Kinerja guru
  2. Fasilitas media/bahan ajar dan metode
  3. Pengelolaan kelas
  4. Peranserta siswa dalam pembelajaran
 
    4.

Pela-poran

Pelaporan pembelajaran dan hasil  penilaian pembelajaran 46 Sekolah melaporkan hasil pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran kepada pemangku kepentingan yaitu:

  1. Guru/dewan guru, pengawas/Dinas Pendidikan Kab/Kota, Komite Sekolah
  2. Guru/dewan guru dan pengawas/Dinas pendidikan Kab/Kota
  3. Guru/dewan guru dan Komite Sekolah
  4. Guru/dewan guru
 
    Tindak lanjut pelaporan 47 Tindak lanjut pelaporan oleh sekolah terhadap hasil pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran kepada pemangku kepentingan:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
    5.

Tindak lanjut

  1. Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar
48 Tindak lanjut dari hasil pengawasan oleh pemangku kepentingan melalui:

  1. 3 cara
  2. 2 cara
  3. 1 cara
  4. Tidak ada
 
     
  1. Teguran yang bersifat mendidik terhadap guru yang belum memenuhi standar
49 Selama satu tahun terakhir hasil pengawasan oleh pemangku kepentingan yang ditindaklanjuti adalah sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in manajemen

 

METODE-METODE TAFSIR ALQURAN

Oleh: Prof. Dr. H. Maragustam Siregar, M.A.

A. PENDAHULUAN

Seseorang tidak mungki berarti dengan ajaran-ajaran Alquran, terkecuali sesudah kita membaca Alquran, mengetahui isinya. prinsip-pnnsip yang ditampungnya. Hal ini tidaklah mungkin dicapai melainkan deingan mengetahui apa yang ditunjuki oleh lafadh-lafadh al-qur’an. Dan inilah yang kita namakan Ilmu Tafsir. Apalagi seseorang ingin mendalami isi Alquran melalui tafsir, ia harus mengerti bagaimana metode mufassir tersebut sewaktu menulis karyanya.

 

Karenanya dapatlah kita menetapkan, bahwa tafsirlah anak kunci perbendaharaan isi Alquran yang diturunkan untuk memperbaiki keadaan manusia, melepaskan manusia dari kehancuran. Tanpa tafsir, tidaklah mungkin kita sampai kepada perbendaharaan isi Alquran walaupun kita dapat membacanya dengan segenap rupa qiraahnya.[1]

B. PENGERTIAN TAFSIR

Menurut bahasa Tafsir ialah al-fasr dan tabyiin (menjelaskan atau menerangkan) atau menyingkap dan menampakkan makna yang abstrak. Makna inilah yang diherikan terhadap kalimat tafsir dalam QS. AI-­Furqan (25): 33.

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

Di dalann istilah, tafsir itu bermakna “Suatu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang Al-qur’anul Karim dari segi dalalahnya kepada yang dikehendaki Allah sekedar yang dapat disanggupi manusia”. Perkataan di dalamnva dibahas tentang keadaan-keadaan al-qur’an memberi pengertian bahwa ilmu-ilmu yang membahas tentang keadaan-­keadaan yang lain, tidak masuk ke dalam bidang tatsir. Perkataan “dari segi dalalahnya kepada yang dikehendaki Allah”, mengeluarkan ilmu-ilmu yang membahas tentang keadaan-keadaan Al-qur’an dari jihad yang bukan jihad dalalahnya, seperti ilmu qiraat yang membahas tentang keadaan-keadaan A1-qur’an dari segi cara menyebutnya, dan seperti ilmu rasmi al-Usmani yang membahas keadaan-keadaan al-qur’an dan segi cara menulis lafadh-lafadhnya. Perkataan menurut “kemampuan sekedar kesanggupan manusia” memberikan pengertian bahwa tidaklah dipandang suatu kekurangan lantaran tidak dapat mengetahui makna-makna yang mutasyabihah dan tidaklah dapat mengurangi nilai tafsir lantaran tidak mengetahui apa yang sebenarnya Allah kehendaki.2

Tafsir menurut istilah, sebagaimana didefinisikan Abu Hayyan ialah Ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafad-lafad Qur’an, petunjuk­petunjuknya, hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dari makna-makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.3 Menurut az-Zarkasyi bahwa Tafsir ialah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya.’

C. MACAM TAFSIR BERDASARKAN SUMBERNYA

1. Tafsir bil ma’tsur

Tafsir bil ma’tsur adalah rangakain keterangan yang terdapat dalam al­qur’an, sunah Nabi saw, kata-kata sahabat atau tabi’in sebagai keterangan atau penjelasan maksud dari Allah (firman Allah), yaitu penafsiran Al-qur’an dengan Assunah Nabawiyah. Dengan demikian maka tafsir bil ma’tsur adalah tafsir Al-qur’an dengan Al-qur’an, penafsiran Al-qur’an dengan as-sunah atau penafsiran Alqur’an menurut atsar yang timbul dari kalangan sahabat, atau tabi’in. Contoh penerapannya dapat dilihat sewaktu membahas tentang Tafsir Bil Ma’tsur.

Kedua macam tafsir tersebut di atas yaitu penafsiran al-qur’an dengan al­qur’an dan penfsiran al-qur’an dengan sunah merupakan jenis tafsir yang paling luhur dan tidak diragukan untuk diterima. Bentuk penafsiran yang pertama atau penafsiran al-qur’an dengan al-qur’an dikatakan penafsiran paling luhur karena Allah Ta’ala lebih mengetahui maksudnya dari pada yang lainnya. Demikian juga bentuk tafsir yang kedua yaitu penafsiran Al-qur’an dengan Sunah itu dikatakan tafsir paling luhur karena Rasul saw sungguh telah dijelaskan tentang urgensi dan fungsinya oleh Al-qur’an itu sendiri, di mana ditegaskan bahwa Rasul adalah berfungsi sebagai penegas dan penjelas Al-qur’an. Dalam QS. Al-Nahl (16):44 disebutkan:

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Apa yang disampaikan oleh Rasul saw baik berupa penjelasan maupun keterangan yang sanadnya sahih dan benar maka hal demikian adalah termasuk yang tidak diragukan lagi akan kebenarannya dan patut untuk dijadikan pegangan.

Al-quran ditafsirkan oleh  sahabat. Tafsir ini juga termasuk tafsir yang muktamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima karena sahabat adalah yang pernah berkumpul dengan Nabi saw dan mereka mengambil dari sumbemya yang asli, mereka menyaksikan turunnya al-qur’an dan mengetahui asbab al-nuzul. Mereka mempunyai tabiat jiwa yang murni, fitrah yang lurus lagi pula berkedudukan yang tinggi dalam hal kefasihan dan kejelasan berbicara. Mereka lebih memiliki kemampuan dan memahami kalam Allah. Mereka mengetahui rahasia-rahasia al-qur’an sudah tentu akan melebihi orang lain yang manapun juga. Al-Hakim berkata:” Bahwa tafsir shahabat yang menyaksikan wahyu dan turunnya Al-qur’an, kedudukan hukumnya adalah marfu’.” Artinya tafsir tersebut mempunyai kedudukan sebagaimana kedudukan hadis nabi yang silsilahnya sampai kepada nabi. Karena itu maka tafsir sahabat adalah termasuk ma’tsur.

Adapun tabi’in, kedudukan tafsirnya ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama ada yang berpendapat, tafsir tabi’in itu termasuk tafsir ma’tsur karena sebagian pengambilannya secara umum dari sahabat. Sebagian ulama berpendapat bahwa tafsir tabi’in adalah termasuk tafsir dengan Ro’yu atau akal, dengan pengertian bahwa kedudukannya sama dengan kedudukan para mufassir lainnya (selain nabi dan shahabat). Mereka menafsirkan Al­qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan tidak berdasarkan pertimbangan dari atsar (hadis).

Sebab-sebab kelemahan riwayat dengan Ma’tsur. Penafsiran Al-qur’an dengan Al-qur’an dan penafsiran Al-qur’an dengan Sunah yang shahih lagi marfu’ sampai kepada Nabi saw adalah tidak perlu diragukan lagi untuk diterima dan tidak diperselisihkan. Dan keduanya adalah tafsir yang mempunyai kedudukan yang tinggi. Adapun Alqur’an dengan ma’tsur  shahabat atau tabi’in ada beberapa kelemahan dari berbagai segi:

  1. Campur baur antara yang sahih dan tidak sahih, sahabat atau tabi’in dengan tidak mempunyai sandaran dan ketentuan, yang akan menimbulkan pencampur-adukan antara yang hak dan batil.
  2. Riwayat-riwayat tersebut ada yang dipengaruhi oleh cerita-cerita israiliyaat dan khurafaat yang bertentangan dengan akidah islamiah.
  3. Ketika di kalangan sahabat ada golongan yang ekstrim, mereka mengambil beberapa pendapat dan membuat-buat kebatilan yang dinisbatkan kepada sebagian sahabat.
  4. Musuh-musuh Islam dari orang-orang zindiq ada yang mengicuh sahabat dan tabi’in sebagaimana mereka mengicuh Nabi saw perihal sabdanya, hal ini dimaksudkan untuk menghancurkan agama dengan jalan menghasut dan membuat-buat hadis. Tentu hal ini perlu diwaspadai.

2. Tafsir Diroyah (ro’yu)

 

Yang dimaksud ro’yu di sisni ialah ijtihad yang didasarkan pada dasar-­dasar yang sahih, kaidah yang murni dan tepat, bisa diikuti serta sewajarnya diambil oleh orang yang hendak mendalami tafsir Al-qur’an atau mendalami pengertiannya. Tidaklah yang dimaksud dengan ro’yu atau pendapat di atas semata-mata dengan ro’yu atau hawa nafsu, berdasarkan kata hati atau kehendaknya.

Berdasarkan pengertian di atas tafsir  ro’yu terbagi kepada dua macam, yaitu tafsir yang mahmuud (terpuji) dan tafsir yang madzmuum (tercela).

Tafsir mahmuud ialah tafsir yang sesuai dengan tujuan syara’, jauh dari kejahilan dan kesesatan, sejalan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta berpegang teguh pada uslub-uslubnya dalam memahami teks al-qur’an. Barang siapa yang menafsirkan Al-qur’an menurut ro’yunya atau ijtihadnya dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut serta berpegang pada makna-makna Al-qur’an maka penafsirannya dapat diambil serta patut dinamai dengan tafsir mahmuud atau tafsir masyru’ (berdasarkan syari’at).

Sedangkan Tafsir Madzmum apabila Al-qur’an ditafsirkan tanpa ilmu, atau menurut seenaknya dengan tidak mengetahui dasar-dasar bahasa dan syari’at, atau kalam Allah dan ditafsirkan menurut pendapat yang salah lagi sesat.’

Hal-hal yang harus diperhatikan apabila seseorang menggunakan Tafsir Bir-­Rar’yi yakni:

  1. Dikutip dari Rasul SAW dengan memperhatikan hadis-hadus yang dhaif atau hadis  maudhu’.
  2. Mengambil dari pendapat shahabat dalam hal tafsir karena kedudukan mereka adalah marfu’.
  3. Mengambil berdasarkan bahasa secara mutlak karena al-qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dengan membuang alternatif yang tidak tepat dalam bahasa Arab.
  4. Pengambilan berdasarkan ucapan yang populer di kalangan orang Arab serta sesuai dengan ketentuan syara’. 6

Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menafsirkan Al-qur’an dengan ro’yu kepada dua pendapat:

  1. Tidak diperbolehkan menafsirkan Al-qur’an dengan ro’yu karena tafsir ini harus bertitik tolak dari penyimakan, itulah pendapat sebagian ulama. Pendapat yang membolehkan penafsiran dengan ro’yu dengan syarat harus memenuhi persyaratan-persyaratan, ini adalah pendapat dari kebanyakan ulama.

Muhammad Aly Ash-Shobuny, Pengantar Studi Al-Qur’ann, Al-Ma’arif, bandung, 1987, hat. 217.

6 lhid

Ulama yang tidak membolehkan menafsirkan dengan ro’yu dengan alasan sebagai berikut:

  1. Tafsir dengan ro’yu adalah membuat-buat (penafsiran Al-qur’an dengan tidak berdasarkan ilmu). Karena itu tidak dibenarkan berdasarkan firman Allah:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (QS Al-Baqarah [2]: 169).

 

  1. Sebuah hadis tentang ancaman terhadap orang yang menafsirkan dengan ra’yu, yaitu sabda Rasul saw “Berhati-hatilah dalam mengambil hadisku kecuali benar-benar anda telah mengetahuinya. Siapa yang mendustakan secara sengaja maka bersedialah bertempat di neraka. Dan barang siapa menafsirkan menurut pendapatnya (ro’yunya) maka hendaklah dia bersedia menempatkan diri di neraka pula” (HR Turmudzy). Firman Allah swt:

 

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS An-Nahl [16]: 44).

 

  1. Tugas menjelaskan Al-qur’an dikaitkan kepada Rasul, karena itu dapatlah dipahami bahwa selain dari rasul tidak ada hak sedikitpun untuk menjelaskan makna Al-qur’an.
  2. Para sahabat dan tabi’in merasa berdosa bila menafsirkan Al-qur’an dengan ro’yunya, sehingga Abu Bakar Shidiq mengatakan : “Langit manakah yang akan menauingiku dan bumi manakah yang akan melindungiku bila aku tafsirkan A1-qur’an menurut ro’yuku atau aku katakan tentangnya sedang aku sendiri belum mengetahui betul”.

Ulama yang membolehkan tafsir dengan ro’yu adalah golongan jumhur dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Allah telah menganjurkan kita untuk memperhatikan dan mengikuti Al­qur’an seperti firmanNya:

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan membawa berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang­-orang yang mempunyai fikiran”. (QS Shad [38]: 29). Tadabbur dan tadzakkur tidak bisa tanpa mendalami rahasia-rahasia al-qur’an dan berusaha keras dalam memahami artinya.

 

  1. Allah membagi manusia dalam dua klasifikasi, kelompok awam dan kelompok ulama. Allah memerintahkan untuk mengembalikan segala persoalan kepada ulama yang bisa mengambil dasar hukum. Firman Allah:

 

 

“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka. (QS An-Nisa: 83).

Makna istimbat pada ayat tersebut ialah menggali makna-makna yang mendetail dengan penuh pemikiran. Langkah tersebut dapat dicapai dengan ijtihad dan menyelami rahasia-rahasia Al-qur’an. Mereka berpendapat : ”Bila penafsiran menurut ijtihad tidak dibenarkan maka ijtihad itu sendiri tidak diperbolehkan, akibatnya hukum banyak yang terkatung-katung, dan ini tidak karena seorang mujtahid dalam hukum syara’ mendapat pahala, baik benar maupun salah dalam ijtihadnya, selama ia telah mencurahkan segala kemampuannya dan membuktikan kesungguhannya untuk mencapai yang hak dan brnar.

  1. Para sahabat, mereka membaca Alqur’an dan ternyata mereka berbeda pendapat dalam cara penafsirannya. Dapat dimaklumi, karena mereka tidak mendengar seluruh yang mereka ucapkan tentang penafsiran Alqur’an dari Nabi saw.
  2. Nabi saw mendoakan Ibnu Abbas dengan sabdanya : “Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarilah ia tentang ta’wil”. Bila yang dimaksud dengan ta’wil di sini hanya terbatas pada penyimakan dan kutipan sebagaimana Al-qur’an, niscaya tidak ada faedahnya dalam mengkhususkan doa untuk Ibnu Abbas. Dengan demikian, dinyatakan bahwa ta’wil adalah penafsiran dengan ro’yu atau ijtihad.7

C.  MACAM TAFSIR BERDASARKAN METODENYA

Macam tafsir berdasarkan metodenya ada empat macam yaitu (1) tafsir tahlily, (2) tafsir  Ijmaly, (3) tafsir muqaaran, (4) tafsir maudhu’i (tematik).

Tafsir Tahlily yaitu metode menafsirkan Al-qur’an dengan cara mengkaji ayat-ayat Al-qur’an dari segala segi dan makna, menafsirkan ayat demi ayat, surah demi surah, sesuai dengan urutan dalam mushaf usmani. Untuk itu perlu menguraikan kosa kata dan lafadh, menjelaskan arti, sasaran yang dituju, kandungan ayat yaitu unsur ijaz, balaghah dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang diistimbatkan dari ayat, yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, aqidah, perintah dan seterusnya serta mengemukakan kaitan antara ayat dan relevansinya dengan surah sebelum dan sesudahnya, untuk itu merujuk kepada sebab-sebab turunnya ayat hadis rasul, sahabat serta tabi’ in.

Dalam karya Nashiruddin Baidan8 secara panjang lebar dia menyatakan bahwa penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) atau rayi (pemikiran). Di antara kitab tafsir tahlili yang mengambil bentuk Al-ma’tsur ialah Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayat Al-Qur’an karangan Ibn Jarir al­Thabari (w. 310 H), Tafsir Al-Qur’an al-’Azhim (terkenal dengan Tafsir Ibn Katsir) karangan Ibn Katsir (w. 774 H), dan Al Durr al-Mantsur fi al-tafsir bi al­Ma-tsur karangan al-Suyuthi (w. 991 H). Adapun tafsir Tahlili yang mengambil bentuk al-ra’yi antara lain: Tafsir al-Khazin karangan al-Khazin (w. 741 H), Al-Kasysyaf karangan Zamakhsyari (w. 538 H), Tafsir al-Manaar karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935 H)

Pola penafsiran yang diterapkan oleh para pengarang kitab-kitab tafsir yang dinukilkan di atas terlihat dengan jelas, mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara komperehensif dan menyeluruh, baik yang berbentuk al-ma’tsur maupu al-ra’yudalam penafsiran tersebut Al­Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surah demi surah secara berurutan, serta tak ketinggalan menerangkan asbab al-nuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan. Demikian pula ikut diungkapkan penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan Nabi saw, sahabat, tabi’in, tabiut  tabi’in dan para ahli tafsir lainnya dari berbagai disiplin ilmu seperti teologi, fiqh, bahasa, sastra, dan sebagainya, sehingga lahirlah berbagai corak penafsiran fiqh, sufi, fisafat, `ilmi, adabi wal  ijtima, dan lain-lain.

Di dalam tafsir bi-al-m’’tsur tetap ada analisis tapi sebatas adanya riwayat. Artinya, penafsiran akan berjalan terus selama riwayat masih ada, jika riwayat habis, maka penafsiran berhenti pula. Berbeda halnya dengan tafsir bi al-ra’yu, dimana penafsiran akan berjalan terus, ada atau tidak adanya riwayat. Hal itu 10 dimungkinkan karena fungsi riwayat di dalam tafsir bi al-ra’yi hanya sebagai legitimasi bagi suatu penafsiran bukan sebagai titik tolak atau subjek.

Di dalam tafsir bi al-ra’yu yang menggunakan metode analitis ini para mufasir relatif memperoleh kebebasan, sehingga mereka agak lebih otonom berkreasi dalam memberikan interprestasi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an selama masih dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara’ dan kaidah-kaidah penafsiran yang mu’tabar.

Di dalam tafsir tahlili, si mufasir relatif punya banyak peluang untuk mengemukakan ide-ide dan gagasan-gagasan berdasarkan keahliannya sesuai dengan pernahaman ayat. Metode tahlili, tidak memerlukan perbandingan antara ayat dengan ayat, antara ayat dengan hadis, maupun antara berbagai pendapat ulama dalam menafsirkan suatu ayat. Metode analitis amat berbeda dari metode tematik, khususnya dari sudut penetapan tema-tema atau topik-topik yang akan dibahas. Metode analitis menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan dari ayat pertama sampai ayat terakhir dalam mushhaf tanpa memerlukan tema atau topik bahasan sebagai terlihat di dalam kitab-kitab tafsir analitis yang telah disebutkan di muka.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Analitis

1. Kelebihan

a. Ruang lingkup yang luas

 

Metode ini dapat digunakan oleh mufasir dalam dua bentuknya: ma’tsur dan ra’yi. Bentuk al-ra’yi dapat lagi di kembangkan dalam berbagai corak penafsiran sesuai dengan keahlian masing-masing mufasir. Ahli bahasa, untuk menafsirkan Al-Qur’an dari pemahaman kebahasaan, seperti Tafsir al-Nasafi karangan Abu al-Su’ud, Ahli qiraat seperti Abu Hayyah, menjadikan qiraat sebagai titik tolak dalam penafsirannya,  ahli filsafat, kitab tafsirnya di dominasi oleh pemikiran­-pemikiran filosofis seperti Tafsir al-Fakhr al-Razi. Ahli Sains dan teknlogi menafsirkan Al-Qur’an dari sudut teori-teori ilmiah atau sains seperti  Tafsir Al-Jawahir karangan al-Thanthawi al-Jauhari.

  1. Memuat berbagai ide

Pola penafsiran metode ini dapat menampung berbagai ide yang terpendam di dalam benak mufasir. Dibukanya pintu selebar-lebar bagi mufasir untuk mengemukakan pemikiran-pemikirannya dalam menafsirkan Al-Qur’an, maka lahirlah berbagai kitab tafsir yang berjilid-jilid seperti Tafsir al-Thabari (15 jilid), Tafsir Ruh al­-Ma’ani (16 jilid), Tafsir al-Fakhr al Ra-zi (17 jilid) Tafsir al-Maraghi (10 jilid) dan lain-lain.

2. Kekurangan

a. Menjadikan petunjuk Al-Qur’an parsial

Metode analitis juga dapat membuat petunjuk Al-Qur’an bersifat parsial atau terpecah-pecah, sehingga terasa seakan-akan Al-Qur’an memberikan pedoman secara tidak utuh dan tidak konsisten karena penafsiran yang diberikan pada suatu ayat berbeda dari penafsiran yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya.

b. Melahirkan penafsiran subjektif

Metode analitis, sebagaimana telah disebut di muka, memberikan peluang yang luas sekali kepada musafir untuk mengemukakan ide-ide dan pemikirannya. Sehingga, kadang-kadang mufasir tidak sadar bahwa dia telah menafsirkan Al-Qur’an secara subjektif, dan tidak mustahil pula ada di antara mereka yang menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan kemauan hawa nafsunya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang berlaku.

  1. Masuk pemikiran israiliaat

Dikarenakan metode tahlili tidak membatasi mufasir dalam mengemukakan pemikiran-pemikiran tafsirnya, maka berbagai pemikiran dapat masuk ke dalamnya, tidak terkecuali pemikiran israiliaat.

Urgensi Metode Analitis

Keberadaan metode ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam melestarikan dan mengembangkan khazanah intelektual Islam, khususnya dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Berkat metode ini, maka lahir karya-karya tafsir yang besar. Berdasarkan kenyataan itu dapatlah dikatakan, urgensitas metode ini tak dipungkiri oleh siapa pun.

Dalam penafsiran Al-Qur’an, jika ingin menjelaskan kandungan firman Allah dari berbagai segi seperti bahasa, hukum-hukum fiqh, teologi, filsafat, sain, dan sebagainya, maka di sini metode tahlili atau analitis lebih berperan dan lebih dapat diandalkan daripada metode-metode yang lain.

2. Tafsir Ijmaly

Yaitu penafsiran Alqur’an secara singkat dan global tanpa uraian panjang lebar, dengan cara mufassir menjelaskan sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal lain selain anti yang dikehendaki. Hal ini dilakukan ayat demi ayat, surah demi surah, sesuai urutan mushaf, setelah itu mengemukakan inti dalam kerangka uraian yang mudah.

Diantara kelebihan dari metode Ijmaly ialah praktis dan mudah dipahami, bebas dari penafsiran israiliyaat, dan akrab dengan bahasa Al-Qur’an. Sedangkan diantara kelemahannya ialah menjadikan petunjuk AI-Qur’an bersifat parsial dan tidak ada ruangan untuk mengemukakan analisis yang memadai. 9

3. Tafsir Muqaran

Yaitu metode menafsirkan Al-qur’an dengan cara mengambil ayat Al­qur’an kemudian mengemukakan penafsiran para ulama tafsir.

4.  Tafsir Maudhu’iy

Yaitu metode menafsirkan Al-qur’an dengan cara menetapkan satu topik tertentu dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dari beberapa surat yang berbicara tentang topik tersebut, untuk kemudian dikaitkan satu dengan lainnya sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pendapat Al-qur’an.10 Karena pentingnya metode ini akan dibahas secara tersendiri.

C. Ilmu-ilmu Yang Dibutuhkan Bagi Mufassir

Seorang mufassir kitab Allah memerlukan beberapa macam ilmu pengetahuan yang harus dipenuhi sehingga is benar-benar ahli dalam bidang mufassir.

Para ulama telah menyebutkan tentang macam-macam ilmu yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir. Menurut As-Suyuthi sebagai berikut:

  1. Mengetahui bahasa arab dan ketentuan-ketentuannya (ilmu nahwu, sharaf, etimologi). Hal ini sangat penting bagi seorang mufassir, sebab bagaimana mungkin memahami ayat, tanpa mengetahui perbedaan kata dan susunan kalimat.
  2. Mengetahui ilmu balaghoh (ma’any, bayan, badi’) sangat penting dan diperlukan bagi orang yang hendak menafsirkan Al-qur’an karena ia harus menjaga atau memelihara bentuk kemu’jizatan.
  3. Mengetahui ushul fiqih (tentang khash, `am, mujmal, mufashal dan sebagainya), juga diperlukan oleh seorang mufassir dalam memahami Al-qur’an supaya tidak kelirumemahaminya, serta tidak terpeleset oleh kebodohan karena tidak tahu tentang ilmu-ilmu yang penting itu.
  4. Mengetahui asbabun nuzul.
  5. Mengetahui tentang nasikh dan mansukh.
  6. Mengetahui ilmu qiraat.
  7. ilmu mauhibah, yaitu ilmu yang diberi oleh langsung dari Allah. Ilmu yang diwariskan ole Allah kepada seseorang yang mengamalkan sesuai dengan ilmunya, serta Allah membukakan hati orang tersebut untuk memahami rahasia-rahasianya.

Syarat-syarat dari ilmu yang telah disebutkan tadi adalah untuk mewujudkan tafsir yang paling tinggi martabatnya. Tafsir yang paling tinggi martabatnya hanya dapat dicapai dengan kita melengkapi urusan-urusannya, yaitu:

a. Memahami hakekat lafal yang tunggal, yang terdapat di dalam al-qur’an dengan memperhatikan cara-cara ahli bahasa mempergunakan kalimat­-kalimat itu. Kebanyakan lafal-lafal Al-qur’an dipakai di mana Al-qur’an sedang diturunkan untuk beberapa makna. Kemudian sesudah itu berlalu beberapa masa maka lafal-lafal itu dipakai untuk makna-makna yang lain, umpamnya lafal ta’wil.

b. Memperhatikan uslub-uslub Al-qur’an. Seorang mufassir harus mengetahui alat, yang dengan alat itu dia dapat memahami uslub-uslub bahasa Arab yang tinggi. Untuk itu perlu ilmu i’rab dan ilmu asalib (ma’ani dan bayan).

c. Mengetahui keadaan-keadaan manusia. Allah telah menurunkan Al­qur’an dan menjadikannya sebagai kitab yang absah, di dalamnya diterangkan keadaan atau hal-hal yang tidak diterangkan dalam kitab lain. Di dalamnya diterangkan keadaan makhluk, tabiatnya, sunnah-­sunnah ketuhanan di dalam menciptakan manusia. Dan di dalamnya juga diterangkan kisah umat-umat yang telah lalu. Karenanya, perlulah orang memperhatikan isi Al-qur’an, memperhatikan pula keadaan perturnbuhan dan perkembangan manusia dari zaman ke zaman.

d. Mengetahui jalan-jalan Al-qur’an memberi petunjuk kepada manusia dengan Al-qur’an. Karenanya, wajiblah bagi seorang mufassir yang melaksanakan fardhu kifayah ini mengethui keadaan manusia di masa Nabi saw, baik dari bangsa arab maupun bangsa lain. Dan bahwasanya Nabi saw dibangkit Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia dan mendatangkan kebahagiaan kepada mereka.

e. Mengetahui sirah ( riwayat hidup Nabi saw dan sahabat), dan bagaimana keadaan sahabat, baik dalam bidang ilmu, dan bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah keduniaan dan keakhiratan.

 

E RINGKASAN

 

Berdasarkan sumbernya, tafsir ada dua macam yaitu tafsir ma’tsur dan ro’yu. Tafsir ma’tsur yaitu tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang sahih, sedang tafsir ro’yu adalah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya, mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istimbat) yang didasarkan pada ro’yu saja.

Berdasarkan metode pendekatannya, tafsir ada empat macam yaitu tahlily, ijmaly, muqaaran, dan maudhu’iy dan lain-lain. Dari berbagai tafsir dilihat dari segi metodenya tentu terdapat keunggulan masing-masing dan kelemahannya. Yang terpenting para pembaca dapat memahami bagaimana proses pemakaian sebuah metode tafsir.

Yogyakarta, 3 Oktober  2008

 

DAFTAR PUSTAKA

 Ali Hasan Al’Ardl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta, Rajawali, 1994.

 

M. Hashbi Ash-Shiddigy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Media-media Pokok Dalam Menafsirkan Al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta, 1972

 

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung, Mizan, 1994.

 

Manna ‘ al-Qathan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Litera Antarnusa, Bogor, 1994.

 

Muhammad Aly Ash-Shobuny, Pengantar Studi Al-Qur’an, AI-Ma’arif, Bandung, 1987.

 

Nashiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997.

 


[1]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in Uncategorized

 

Hukum Adat dalam Pembangunan Hukum Nasional

Hukum Adat  dalam Pembangunan Hukum Nasional

Sebagaiman disebutkan dalam bahasan terdahulu , bahwa tidak akan dipertentangkan antara Hukum Adat dan Hukum Modern . Dalam pembangunan hukum nasional Indonesia , ciri-ciri hukum modern harusnya dipenuhi. Kalau dipenuhi , bagaimana kedudukan hukum adat? Dalam hal ini hukum adat tidak dapat diabaikan begitu saja dalam pembentukan hukum nasional.Dalam seminar Hukum Adat dan Pembinaan Hukum Nasional , dirumuskan bahwa Hukum Adat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan –bahan Pembangunan Hukum Nasional yang menuju kepada unifikasi hukum yang  dan yang terutama akan dilakukan melalui pembuatan peraturan perundangan ,dengan tidak mengabaikan timbul/tumbuhnya dan berkembangnya hukum kebiasaan dan pengadilan dalam Pembinaan Hukum . Dengan Demikian Hukum Adat ditempatkan pada posisi penting dalam proses pembangunan hukum nasional.

Memperkembangkan unsure-unsur asli , unsure-unsur asing mungkin saja berguna bagi pembentukan hukum nasional , sehingga pada hakekatnya masalahnya adalah bagaimana peranan hukum adat (yang merupakan konk sistem nilai dan budaya )dalam pembentukan hukum nasional yang fungsional (yang kemudian dinamakan “Hukum Indonesia Modern “) (Soerjono Soekanto, Tahun 1976,h.119).

Untuk mengetahui peranan hukum adat dalam pembentukan/pembangunan hukum nasional , maka harus diketahui nilai-nilai sosial dan budaya yang menjadi latar belakang hukum adat tersebut , serta perannya masing masing yaitu: (Soerjono Soekanto,1976,h.200).

  1. Nilai –nilai yang menunjang pembangunan(hukum), nilai –nilai mana harus dipelihara dan malahan diperkuat .
  2. Nilai-nilai yang menunjang pembangunan (hukum ), apabila nilai-nilai tadi disesuaikan atau diharmonisir dengan proses pembangunan.
  3. Nilai-nilai yang menghambat pembangunan(hukum), akan tetapi secara berangsur –angsur akan berubah apabila karena faktor –faktor lain dalam pembangunan .
  4. Nilai-nilai yang secara definitif menghambat pembangunan (hukum)dan oleh karena itu harus dihapuskan dengan sengaja.

Dengan demikian berfungsinya Hukum Adat dalam proses pembangunan /pembentukan hukum nasional adalah sangat tergantung pada tafsiran terhadap nilai-nilai yang menjadi latar belakang hukum adat itu sendiri . Dengan cara ini dapat dihindari akibat negatif , yang mengatakan bahwa hukum adat mempunyai peranan terpenting atau karena sifatnya yang tradisional,maka Hukum Adat harus ditinggalkan .

Dalam kepustakaan memang dikemukakan adanya tiga golongan pendapat yang menyoroti  kedudukan hukum adat pada mas sekarang , yaitu:

  1. Golongan yang menentang Hukum Adat , yang memandang Hukum Adat , sebagia hukum yang sudah ketinggalan jaman yang harus segera ditinggalkan dan digantin dengan peraturan – peraturan hukum yang lebih modern .Aliran ini berpendapat bahwa hukum adat tak dapat memenuhi kebutuhan hukum di masa kini , lebih – lebih untuk masa mendatang sesuai dengan perkembangan modern .
  2. Golongan yang mendukung sepenuhnya terhadap hukum adat . Golongan ini mengemukakan pendapat yang sangat mengagung-agungkan Hukum Adat , karena hukum adat yang paling cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia sehingga oleh karenanya harus tetap dipertahankan terus sebagai dasar bagi pembentukan Hukum Nasional.
  3. Golongan Moderat yang mengambil jalan tengah kedua pendapat golongan diatas. Golongan ini mengatakan bahwa hanya sebagian saja dari pada hukum adat yang dapat dipergunakan dalam lingkungan Tata Hukum Nasional , sedangkan untuk selebihnya akan diambil dari unsur-unsur hukum lainnya . Unsur-unsur hukum adat yamg masih mungkin dipertahankan terus adalah berkenaan dengan masalah hukum kekeluargaan dan hukum warisan, sedangkan untuk lapangan hukum lainnya dapat diambil dari unsur-unsur bahan –bahan hukum yang berasal dari  luar, misal hukum barat.

Dari pendapat dari ketiga golongan tersebut , kami menyetujui pendapat golongan yang ketiga (golongan moderat), sebab memang dalam kenyataannya banyak ketentuan hukum adat yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman modern., akan tetepi yang perlu diperhatikan disini ialah bahwa asas- asas Hukum Adat bersifat universal harus tetap mendasari Pembinaan Hukum Nasionaldalam rangka menuju kepada tata hukum nasional yang baru, walaupun asaa-asas dan kaidah-kaidah baru akan lebih mendominasi hukum nasional, seperti apa yang dikatakan oleh Soetandjo Wignjosoebroto :” Hukum Nasional tak hanya hendak merefleksi pilihan atas kaidah- kaidah hukum suku/lokal atau hukum tradisional untuk menegakkan tertib sosial  masa kini, akan tetapi juga hendak mengembangkan kaidah-kaidah baru yang dipandang fungsional untuk mengubah dan membangun masyarakat baru guna kepentingan masa depan . Maka kalau demikian halnya , asas –asas dan kaidah-kaidah hukum baru akan banyak mendominasi hukum nasional “.

Kemudian dalam meninjau sumbangan Hukum Adat dalam pembentukan hukum nasional , perlu disimak  pula pandangan Paul Bohannan , yang menyatakan bahwa hukum itu timbul dari pelembagaan ganda , yaitu diberikannya suatu kekuatan khusus , sebuah senjata bagi berfungsinya pranata-pranata “adat istiadat “: perkawinan , keluarga, agama. Namun ,ia juga mengatakan bahwa hukum itu tumbuh sedemikian rupa dengan ciri dan dinamikanya sendiri. Hukum membentuk masyarakat yang memiliki struktur dan dimensi hukum  ; hukum tidak menjadi sekedar pencerminan, tetapi berinteraksi dengan pranata-pranata tertentu . Selanjutnya ia berpendapat bahwa hukum secara istimewa berada diluar fase masyarakat , dan proses inilah yang sekaligus merupakan gejala sebab dari perubahan sosial (Periksa. Mulyana W. Kusumah dan Paul S. Baut, 1988,h.198). Pandangan Bohannan tersebut berguna untuk menyangkal keunggulan peraturan hukum , untuk memahami sifat umum dari masyarakat-masyarakat yang tidak stabil atau mengalami kemajuan . Disamping itu juga merupakan abstraksi untuk merumuskan hakekat abadi hukum itu dengan pengandaian kebenaran yang belum pasti . Hukum tidak memiliki hakekat seperti itu tetapi mempunyai sifat historis yang dapat dirumuskan .

Sebagaiman penjelasan dimuka, yaitu bahwa Hukum Adat yang dibentuk pada “Law Energi society”mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan / Pembangunan Hukum Nasional(hukum modern). Kemudian timbullah pertanyaan , bagaimana  proses pembangunan (pembentukan )Hukum Nasional ditinjau dari pendekatan system dengan Hukum Adat sebagai salah satu input (masukkannya)?

s

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

SHOLAT DLUHA

KATA PENGANTAR

Agama islam adalah agama yang sangat banyak pemeluknya di Negara Indonesia. Yakni agama yang mempunyai rukun iman dan rukun islam sama halnya pada agama-agama lain. Akan tetapi di agama islam sangatlah berbeda tetapi mirip dengan agama yang lain. Mereka menyembah Alloh swt. Agama islam di turunkan oleh Alloh melalui utusanNya yakni nabi Muhammad saw. beliau di utus oleh Alloh hanya untuk menyempurnakan akhlaq manusia di muka bumi ini yakni melalui rukun-rukun tersebut.

Rukun iman ada 6 yakni iman kepada Alloh swt, iman kepada malaikat, iman kepada rosul, iman kepada kitab suci Al-Qur’an, iman kepada hari akhir dan iman kepada Qodo’ dan Qodar.

Sedangkan rukun islam ada 5 yakni Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan haji. Yang perlu di teknkan pada makalh ini yaitu tentang rukun islam lebih khususnya membahas tentang sholat. Bagi muslim di seluruh dunia wajib melaksanakan ibadah sholat wajib 5 waktu. Selain sholat wajib ada juga sholat sunnah dan jumlahnya sngat banyak. Shalat sunah yaitu shalat yang hukum pelaksanaannya sunah (dianjurkan). Apabila dilaksanakan Allah memberikan pahala dan keutamaan khusus melebihi orang Islam yang tidak melaksanakan shalat sunah. Di antara jenis shalat sunah terdapat shalat sunah yang dapat dilaksanakan secara berjamaah, munfarid, dan ada yang dilaksanakan berjamaah maupun munfarid, diantaranya :

SHALAT SUNAH BERJAMAAH

Shalat Idain Shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
• Shalat Istisqa Shalat untuk meminta hujan
• Shalat Kusuf –Khusuf Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan

SHALAT SUNAH DENGAN BERJAMAAH ATAU MUNFARID

• Shalat Tarawih Shalat sunah pada malam bulan ramadhan
• Shalat Witir Shalat sunah yang ganjil
• Shalat Dhuha Shalat sunah pagi hari
• Shalat Tahajud Shalat sunah malam hari untuk memohon keinginan
• Shalat Tasbih Shalat sunah diseratai zikir tasbih

SHALAT SUNAH MUNFARID

• Shalat Rawatib Shalat sunah yang mengiringi shalat fardu
• Shalat Tahiyatul Masjid Shalat ketika masuk masjid untuk menghormatinya
• Shalat Istikharah Shalat untuk meminta petunjuk Allah SWT saat ragu menentuka

Dan masih banyak lagi yang mungkin belum bisa di sebutkan dalam makalah ini. Karena makalah ini secara khusus akan membahas tentang sholat sunnah dhuha yang di jelaskan di bawah ini.

 

PEMBAHASAN

 

I.SEJARAH  RASULULLOH SAW SHOLAT DHUHA

Matahari telah meninggi, terik cahayanya pun mulai menyengat. Jilatan panasnya seakan membakar wajah. Waktu dhuha telah tiba. Waktu untuk bekerja dan menunaikan kebutuhan. Meskipun beban risalah begitu berat seperti, menjamu duta-duta yang datang berkunjung, memberikan ta’lim (pengarahan) kepada para sahabat Radhiallaahu anhum serta menunaikan hak keluarga, namun beliau tidak pernah lupa beribadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Mu’adzah berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha: “Apakah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam sering mengerjakan shalat Dhuha?” ia menjawab: “Tentu, beliau sering mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat bahkan lebih dari itu seluang waktu yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala ” (HR. Muslim).

Bahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam juga mewasiatkan hal itu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Kekasihku (Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam) telah mewasiatkan kepadaku agar berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, agar mengerjakan shalat Dhuha dan agar aku mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih).

Rumah yang tegak di atas pilar-pilar keimanan, penuh dengan ibadah dan dzikir, itulah rumah idaman. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mewasiatkan agar rumah kita seperti itu. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Lakukanlah beberapa shalat-shalat sunnah di rumahmu. Jangan jadikan rumahmu bagaikan kuburan.” (HR. Al-Bukhari).

Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengerjakan seluruh shalat-shalat sunnat di rumah. Demikian pula shalat sunnah yang tidak berkaitan dengan tempat tertentu, beliau lebih suka mengerjakannya di rumah. Terutama shalat sunnat ba’diyah Maghrib, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah mengerjakannya di masjid. Ada beberapa faidah mengerjakan shalat sunnah di rumah, di antaranya:

* Meneladani sunnah Rasulullah.
* Mengajarkan tata cara shalat kepada istri dan anak-anak.
* Mengusir setan-setan dari rumah disebabkan dzikir dan tilawah Al-Quran.
* Lebih membantu dalam mencapai ibadah yang ikhlas dan jauh dari penyakit riya’.

 

II.DEFINISI SHOLAT DHUHA

Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika matahari sedang naik. Kira-kira, ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam.

 

III.TATA CARA SHOLAT DHUHA

  1. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Asy-Syams.
  2. Pada rakaat kedua membaca surat Adh-Dhuha Niat shalat dhuha adalah: Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa. Artinya: ” Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah.” Doa yang dibaca setelah shalat dhuha: “Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu”. “Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

Maka secara teratur tata cara sholat duha adalah seperti ini :
* > Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram
* > “Membaca niat shalat duha”
* > Membaca doa Iftitah
* > Membaca surat al Fatihah
* > Membaca satu surat didalam Alquran.Afdholnya rakaat pertama surat Asysyams dan rakaat kedua surat Allail
* > Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
* > I’tidal dan membaca bacaanya
* > Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
* > Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya
* > Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
* > Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas

 

IV. ANJURAN SHOLAT DHUHA

Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]

Dalam Syarah An-Nawawi disebutkan:

Aisyah berkata seperti itu karena dia tidak setiap saat bersama Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah memiliki istri sebanyak 9 (sembilan) orang. Jadi Aisyah harus menunggu selama 8 hari sebelum gilirannya tiba. Dalam masa 8 hari itu, tidak selamanya Aisyah mengetahui apa-apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah istri beliau yang lain. ari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”. [HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, Hadis hasan]

Dari Abu Said [Al-Khudry], ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”. [HR. Turmuzi, Hadis hasan]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”[HR. Waktu Sholat Dhuha Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha [pada waktu yang belum begitu siang],

maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”. [HR.Muslim]
Penjelasan : Anak-anak onta sudah bangun karena panas matahari itu diqiyaskan dengan pagi hari jam 08:00 AM, adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak onta. Waktu-waktu Haram

Dari Ibnu Abbas berkata: “Datanglah orang-orang yang diridhai dan ia ridha kepada mereka yaitu Umar, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat sesudah Subuh hingga matahari bersinar, dan sesudah Asar hingga matahari terbenam.” [HR. Bukhari].

Dari Ibnu Umar berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila sinar matahari terbit maka akhirkanlah (jangan melakukan) shalat hingga matahari tinggi. Dan apabila sinar matahari terbenam, maka akhirkanlah (jangan melakukan) shalat hingga matahari terbenam”.
[HR. Bukhari]

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua shalat. Beliau melarang shalat sesudah shalat Subuh sampai matahari terbit dan sesudah sholat Asar sampaimatahariterbenam.
[HR. Bukhari]

Dari Muawiyah ia berkata (kepada suatu kaum): “Sesungguhnya kamu melakukan sholat (dengan salah). Kami telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak pernah melihat beliau melakukan sholat itu karena beliau telah melarangnya, yaitu dua rakaat sesudah sholat Asar”. [HR. Bukhari]

Dari Uqbah bin Amir: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sholat pada tiga saat: (1) ketika terbit matahari sampai tinggi, (2) ketika hampir Zuhur sampai tergelincir matahari, (3) ketika matahari hampir terbenam.” [HR. Bukhari]

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang sholat pada waktu tengah hari tepat (matahari di atas kepala), sampai tergelincir matahari kecuali pada hari Jumat.
[HR. Abu Dawud]

Menurut jumhur ulama, sholat ini adalah sunat Tahiyatul Masjid, selain sholat ini tetap dilarang melakukan sholat apapun. Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Matahari terbit dengan diikuti setan. Pada waktu mulai terbit, matahari berada dekat dengan setan, dan ketika telah mulai meninggi berpisah darinya. Pada waktu matahari berada tepat di tengah-tengah langit, ia kembali dekat dengan setan, dan ketika telah zawal (condong ke arah barat) ia berpisah darinya. Pada waktu hampir terbenam, ia dekat dengan setan, dan setelah terbenam ia berpisah lagi darinya.”[HR.Nasa’i]Waktu-waktu itu adalah waktu yang haram untuk shalat. Artinya apabila kita melakukan shalat sunat pada waktu haram, maka bukan pahala yang kita dapatkan, melainkan dosa.

 

V. WAKTU-WAKTU HARAM YANG MENGAPIT SHALAT DHUHA:

Waktu haram #1 = sesudah Shalat Subuh hingga matahari bersinar, atau kurang lebih sejak jam 06:00 AM hingga 07:45 AM

Waktu haram #2 = ketika hampir masuk waktu Zuhur hingga tergelincir matahari, atau kurang lebih jam 11:30 AM hingga 12:00 PM

 

 

 

VI.RAHASIA SHOLAT DHUHA

Rahasia shalat Dhuha Hadits Rasulullah saw yang menceritakan tentang rahasia shalat Dhuha, di antaranya:

  1. 1.      Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).
  2. 2.      Ghanimah (keuntungan) yang besar Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; “Ya! Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666).
  3. 3.      Sebuah rumah di surga Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surge.” (Shahih al-Jami`: 634).
  4. 4.      Memeroleh ganjaran di sore hari Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: “Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339). Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika” (“Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”). Pahala Umrah Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah….(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (Shahih al-Jami`: 6346).
  5. 5.      Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda:

“Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih al-Jami`: 6346).

  1. 6.      Ampunan Dosa “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

 

VII.FADHILAH SHOLAT DHUHA

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.

Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan hambaNya yang paling getol mendekatkan diri kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu dengan bermujahadah melawan kantuk dan dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk mendekatkan diri  kepadanya. Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya sebentar untuk.

kembali mengingat Allah swt, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).

Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35). Diakhir ayat ini terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi hambanya yang suka mendekatkan diri kepadanya. Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah (keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.

Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).

Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra: “Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.

Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha karena kesibukan duniawi kita kecuali karena kelalaian dan kebodohan kita sendiri.

 


PENUTUP

 

Sholat dluha adalah sholat sunnah yang dilakukan mulai dari matahari terbit seukuran tombak sampai sebelum masuk waktu sholat dhuhur. Adapun jumlah roka’aknya 2 samapai 12 roka’at, mayoritas sholat dhuha dilaksanakan  rokaat.

Sholat dhuha adalah sholat sunnah untuk memperbanyak rizki yang di berikan oleh alloh. Bisa disebut juga untuk menambah rizki. Karena nabi telah menganjurkan sholat ini Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami].

Sholat dhuha ini juga mempunyai rahasia atau keutamaan. Diantarnya :

  1. 1.      Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).
  2. 2.      Ghanimah (keuntungan) yang besar Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; “Ya! Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666).
  3. 3.      Sebuah rumah di surga Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surge.” (Shahih al-Jami`: 634).
  4. 4.      Memeroleh ganjaran di sore hari Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: “Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339). Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika” (“Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”). Pahala Umrah Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah….(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (Shahih al-Jami`: 6346).
  5. 5.      Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

  1. 6.      Ampunan Dosa “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

MOHAMMAD MADHI AL HUSAEN.htm”-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN” “http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd”&gt;

PENGETAHUAN AGAMA ISLAM,htm. http://alfin-noor.blogspot.com/feeds/posts/default

Rahasia Sholat Dhuha.htm.Kompas.com

sejarah nabi sholat dhuha.htm. (HR. Al-Bukhari).

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

tasir An-Nahl 125 dan Al-Imran 137

An-Nahl 125 dan Al-Imran 137

An-nahl 125

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ali-imran 137

Artinya :Sesungguhnya Telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Penjelasan an-nahl 125

Gunakanlah metode terbaik di dalam berdakwah dan berdebat, yaitu berdakwah dengan cara terbaik, itulah kewajibanmu. Adapun pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan pada keduanya, diserahkan kepada-NYA semata, bukan kepada selain- NYA. Sebab, Dia lebih mengetahui tentang keadaan orang yang tidak mau meninggalkan kesesatannya karena ikhtiarnya yang buruk, dan tentang orang yang mengikuti petunjuk karena dia mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang telah digariskan Allah untukmu di dalam berdakwah, itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta menghilangkan uzur orang- orang yang sesat.

Maksud ayat di atas adalah, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW,”Serulah, wahai Muhammad, orang yang kepada mereka Tuhanmu mengutusmu, untuk mengajaknya menaati Allah.(ilaa sabiila rabbik)’Kepada jalan Tuhanmu,’ adalah, kepada syariat tuhanmuyang di tetapkan-Nya bagi makhluk-Nya, yaitu Islam. (bilhikmati)’ dengan hikmah,’ adalah, dengan wahyu allah yang disampaikan-Nya kepadamu, dan dengan kitab-Nya yang di turunkan-Nya kepadamu. (walmau’idzotil_hasanati)’dan pelajaran yang baik,’ adalah, dengan pelajaran yang baik, yang dijadikan Allah sebagai argument terhadap mereka di dalam kitab-Nya, dan peringatan bagi mereka di dalam wahyu-Nya seperti argument yang di sebutkan Allah kepada mereka dalam surah ini,serta nikmat-nikmat yang diingatkan Allah kepada mereka di dalamnya) ‘dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,’adalah, bantahlah dengan bantahan yang lebih baik dengan selainnya, yaitu memaafkan tindakan mereka yang menodai kehormatanmu, dan janganlah menentang allah dalam menjalankan kewajibanmu untuk menyampaikan risalah Tuhanmu kepada mereka.”

Penakwilan kami ini sejalan dengan pendapat para takwil, dan yang berpendapat demikian adalah:

a)      Muhammad bin Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata : Isa menceritakan kepada kami, Al-Harits menceritakan kepadaku, ia berkata : Al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: waraqa’ menceritakan kepada kami, seluruhnya dari ibnu Abi Najih, dari mujahid, tentang firman Allah, (wajaadilhum billatii hiya ahsan) “ dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” maksudnya adalah, jangan hiraukan tindakan mereka yang menyakitimu.

b)      Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata : Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, dari Mujahid, dengan riwayat yang semisalnya.

sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya” Allah berfirman kepada kepada Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Tuhanmu, wahai Muhammad, lebih mengetahui orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dari kalangan orang-orang yang berselisih pada hari Sabtu, dan dari selain mereka, serta orang yang menentang Allah. Dia lebih mengetahui tentang siapa di antara mereka yang meniti jalan yang lurus dan jalan yang benar. Dia pasti membalas mereka semua sesuai amal masing-masing sa’at mereka kembali kepada-Nya.

Penjelasan surat al-imran 137

bahwa perkara manusia yang mencangkup kehidupan masyarakat dan hal – hal yang terjadi di dalamnya, seperti pertaraungan antara kebenaran dan kebatilan, dan akhibat dari peperangan tersebut, yaitu perperangan, duel, saling menyerang, saling menguasai, adalah berjalan pada rel – rel yang lurus dan kaidah – kaidah yang tetap, sesuai dengan hikmah dan maslahat umum.

Dalam beberapa tempat ayat al-quran telah disebutkan sunnatu ‘i-lah seperti dalam firmanNya. Artinya : Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “.

Dan firmannya sehubungan dengan penuturan dakwah islam : Artinya :dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk Telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang Telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.

Yang dimaksut dengan pengertian ayat diatas adalah bahwa kehendak Allah pada makluknya berjalan sesuai dengan sunatullah yang maha bijak sana. Barang siapa berjalan pada sunnah tersebut akan berhasil, sekalipun ia seorang mulhid atau watsani. Dan, siapa yang menyimpang darinya akan rugi meskipun ia seorang nabi atau sidik.

Berdasarkan pengertian ini, tidak mengherankan jika kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang uhud, dan kaum musrikin bisa mendekati nabi SAW. Bahwa sempat melukai beliau dan merontokan giginya, serta menjerumuskannya ke dalam lubang.

Orang – orang muslim sejati, sudah seharusnya lebih utama mengetahui sunnah – sunnah tersebut, dan lebih pantas berjalan sesui dengan petunjuk sunah itu. Oleh karena itu, tidak lama kemudian para sahabat nabi SAW. Suatu perang uhud menyadari kekeliruan mereka. Lalu, segera mereka membela diri dan nabi SAW. Sampai kaum musrikin bubar tanpa memperoleh hasil yang mereka harapkan.

SURAT AL AHZAB AYAT  : 21

Artinya :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Penjelasan

Seseungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan yang baik itu telah di hadapan kalian, seaindainya kalian menghendakinya. Yaitu, hendaknya kalian mencontoh Rasulullah SAW. Di dalam amal perbuatannya, dan hendaknya kalian berjalan sesuai petunjuknya, seandainya kalian benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan adzabnya di hari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan, kecuali hanya kalian orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dengan ingatan yang banyak, maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu seharusnya membimbing kamu untuk taat kepadanya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Rasul-Nya.

Dalam konteks ini Abbas Al-Aqqad, seorang pakar muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifiksiaksn kedalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerja dan yang terakir beribadah. Sejarah hidup Nabi Muhammad SWA, membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai pucak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya , ibadahnya seni bahasa asing dikuasainya, seta pemikiran-pemikiranya sungguh menganggumkan.

SURAT  ALI IMRAN: 159

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[1]. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Penjelasan

Surat Ali Imran ini diturunkan setelah peristiwa perang Uhud. Pada perang itu hampir-hampir ummat Islam mengalami kekalahan total, padahal pada babak-babak awalnya mereka memperoleh kemenangan gemilang. Hal ini disebabkan karena sebagian pasukan Islam, yaitu mereka yang bertugas sebagai pasukan pemanah telah menyalahi kesepakatan. Mereka meninggalkan posisi strategisnya sebelum ada instruksi dari komandan perang, yaitu Rasulullah saw sendiri.

Sebagaimana biasa sebelum perang dimulai, Rasulullah merundingkan terlebih dahulu dengan para sahabat mengenai strategi dan taktik perang. Pada saat itu Rasulullah lebih cenderung memilih bertahan di kota Madinah sampai lawan menyerang ke dalam. Dengan begitu, menurut pendapat Rasulullah pasukan musuh bisa lebih mudah dikalahkan. Akan tetapi sebagian besar sahabat ketika itu berpendapat lain. Mereka lebih menyukai strategi ofensif, yaitu menyongsong mereka di luar kota Madinah. Mereka tidak mau jika dikesankan sebagai penakut, tidak berani keluar.

Karena pendapat mayoritas lebih cenderung keluar kota Madinah, maka Rasulullah memutuskan untuk memilih lokasi pertahanan, yaitu di bukit Uhud. Ternyata kemudian terjadi malapetaka besar. Pada perang ini pasukan Islam hampir-hampir hancur berantakan. Dengan kejadian ini para sahabat khawatir dan menduga tidak akan lagi dilibatkan dalam musyawarah untuk memecahkan berbagai masalah. Kekhawatiran semacam ini telah dijawab oleh Allah swt dengan menurunkan ayat di atas. Dengan demikian Rasulullah tetap diharuskan mengajak para sahabat untuk bermusyawarah dalam memecahkan berbagai masalah, dan tetap konsisten dengan cara itu. Maka pada ujung ayat Allah secara tegas menyatakan, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu

Allah SWT berfirman dengan kalimat yang ditujukan kepada RasulNya yang juga merupakan karunia bagi orang-orang beriman secara umum bahwa; hanyalah dengan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, sekiranya kamu berhati keras lagi berlaku kasar, tentulah mereka akan meninggalkan dirimu. Nabi juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabat tentang berbagai persoalan yang dihadapi agar hati mereka menjadi tenteram dan bersemangat dalam melaksanakan kewajiban.

Sebagai contoh misalnya; ketika perang Badar beliau bermusyawarah dengan kaumnya, tatkala kafilah dagang Abu Sofyan telah luput, yang tinggal hanyalah pasukan Qurisy, Rasulullah mengajak berunding para sahabat tentang kesediaan dan kesanggupan mereka untuk menghadapi pasukan siap tempur Quraysy yang jumlahnya tiga kali lipat?. Maka merekapun berseru “Yaa Rasulullah sekiranya engkau mengarungi lautan niscaya kami akan mengarunginya bersamamu, jika pun engkau berjalan hingga Birkul Ghamad (suatu tempat terpencil di Yaman yang sangat sulit untuk didatangi) maka kami pun akan menempuhnya bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Nabi mereka; “pergilah engkau dengan Tuhanmu dan peranglah kamu berdua, kami akan duduk menunggumu di sini, akan tetapi kami berkata; pergilah dan kami akan tetap bersamamu, kami ada di depanmu, kami ada disebelah kanan dan kirimu tetap berperang bersamamu” ketika itu serta merta berseri-serilah wajah Rasulullah SAW, beliaupun bangkit dan berseru: “Absyiruu ayyuhal qouwm…….Bergembiralah wahai kaumku, aku sudah melihat, kemenangan sudah di depan mata”.

Dengan musyawarah itu, semangat kaum muslimin menjadi semakin berkobar-kobar. Mereka menjadi tahu betul kondisi mereka, maka mereka bertempur dengan gagah berani hingga Allah benar-benar memberi kemenangan kepada mereka. Meski jumlah mereka hanya 313 sementara musuh berjumlah hingga 1000 orang dengan persenjataan lengkap.
Demikian pula ketika perang Uhud, beliau bermusyawarah dengan para sahabat, apakah bertahan di Madinah atau keluar menyongsong musuh. Maka merekapun menyongsong musuh dibukit Uhud.

Demikian pula dengan perang Khandaq beliau bermusyawarah dengan para sahabat ihwal perdamaian dengan kaum yang bersekutu (pasukan Ahzab) yang sudah mengepung Madinah, mereka akan menghentikan pengepungan jika diberi sepertiga dari buah-buahan dari hasil panen tahun itu, namun Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah menolaknya dengan berkata: “Demi Allah, dalam keadaan jahiliyahpun kami tidak hendak memberikan mereka cuma-cuma, demi Allah kami tidak akan memberikan sebutirpun setelah Allah memuliakan kami dengan Islam”

Allah SWT telah menurunkan rahmatNya dengan menjadikan hati Rasulullah menjadi hati yang lembut, santun dan penuh kasih sayang. Dan menjadikan ummatnya menjadi hamba-hamba Allah yang meneladani beliau SAW sebagai panutan, maka menjadi patutlah mereka mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT sebagaimana pertolongan yang Allah berikan kepada para Rasul sebelum beliau SAW. Allah berfirman….Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu….. meski sedemikian hebatnya Fir’aun dan bala tentaranya, dan sedemikian lemahnya Musa dan para pengikut setia beliau, ketika Allah mendatangkan pertolonganNya kepada Musa, maka Fir’aun dibinasakan oleh Allah, justru ketika dia dan bala tentaranya sedang mengejar-ngejar Musa. Sejarah membuktikan bahwa; dengan pertolongan Allah lah maka Fir’aun binasa bukan karena dia dikejar-kejar oleh Nabi Musa AS dan para pengikut beliau yang lemah-lemah.

Pada pasukan Badar yang tidak seimbang jumlahnya dengan musuh, kemenangan yang mereka raih semata-mata karena pertolongan Allah dan karena mereka pantas mendapatkan pertolongan, demikian pula dalam peristiwa-peristiwa lainnya. Allah mendatangkan pertolonganNya kepada mereka yang lemah dan teraniaya, yang ber akhlaq mulia, yang santun, yang taat dan istiqomah, dan yang senantiasa bertawakkal kepada Allah semata.
Allah berfirman: kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad ( ber-azam), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah ditanya tentang kata azamta dalam ayat ini, maka beliau bersabda: “maksudnya adalah bermusyawarahnya ahlur ra’yi kemudian mengikuti mereka”

Al-Baqarah 31

dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya . Hal ini pun ditegaskan oleh Hadits tentang syafa’atul uzhma. Nabi saw. bersabda : “ … lalu mereka datan kepada Adam seraya berkata, Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya, Dia membuat para malaikat bersujud kepadamu, dan Dia mengajarimu nama-nama seluruh perkara ” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah telah mengajari Adam nama-nama makhluk. Oleh karena itu, Dia berfirman, “kemudian Dia mengemukakan nama-nama itu kepada para malaikat.” ‘aradhahum menggunakan bentuk untuk yang berakal. Hal ini dimaksudkan untuk menyatakan universalitas sehingga termasuk ke dalamnya makhluk yang tidak berakal . Bagi ulama-ulama yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam as. dalam arti mengajarkan kata-kata, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kepada beliau dipaparkan benda-benda itu, dan pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda yang dipaparkan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kepada Adam nama benda itu pada saat dipaparkannya sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda-benda yang lain. Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dalam bentuk mendiktekan sesuatu atau menyampaikan suatu kata atau idea, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terarah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan. Di sini kita dengan mata hati kita di dalam cahaya kemuliaan melihat apa yang dilihat para malaikat di kalangan makhluk yang tinggi. Kita menyaksikan sejemput kecil dari rahasia Ilahi yang besar yang dititipkan-Nya pada makhluk yang bernama manusia ini, ketika Dia menyerahkan kepadanya kunci-kunci kekhalifahan. Rahasia kekuasaan itu diisyaratkan pada nama dan benda-benda yang berupa lafal-lafat yang terucapkan hingga menjadikannya isyarat-isyarat bagi orang-orang dan benda-benda yang diindranya .

Setelah pengajaran Allah dicerna oleh Adam as sebagaimana dipahami dari kata kemudian, Allah mengemukakannya benda-benda itu kepada para malaikat lalu berfirman, “sebutkanlah kepada-ku nama benda-benda itu, jika kamu benar”. dalam dugaan kamu bahwa kalian lebih wajar menjadi khalifah. Sebenarnya perintah ini bukan bertujuan penugasan menjawab, tetapi bertujuan membuktikan kekeliruan mereka. Mereka para malaikat yang ditanya itu secara tulus menjawab sambil menyucikan Allah “Maha suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Maksud mereka, apa yang Engkau tanyakan itu tidak pernah Engkau ajarkan kepada kami. Engkau tidak ajarkan itu kepada kami bukan karena Engkau tidak tahu, tetapi karena ada hikmah di balik itu.
Demikian jawaban malaikat yang bukan hanya mengaku tidak mengetahui jawaban pertanyaan, tetapi sekaligus mengakui kelemahan mereka dan kesucian Allah swt dari segala macam kekurangan atau ketidakadilan, sebagaimana dipahami dari penutup ayat ini. Benar, pasti ada hikmah dibalik itu. Boleh jadi karena pengetahuan menyangkut apa yang diajarkan kepada Adam tidak dibutuhkan oleh para malaikat karena tidak terkait dengan fungsi dan tugas mereka. Berbeda dengan manusia, yang bibebani tugas memakmurkan bumi.

Jawaban para malaikat, “Sesungguhnya Engkah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” juga mendaung makna bahwa sumber pengetahuan adalah Allah. Dia juga mengetahui segala sesuatu termasuk siapa yang wajar menjadi khalifat, dan Dia Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya, termasuk menetapkan makhluk itu sebagai khalifah. Jawaban mereka ini juga menunjukkan kepribadian malaikat dan dapat menjadi bukti bahwa pertanyaan mereka pada ayat 31 di atas bukanlah keberatan sebagaimana diduga sementara orang.

Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa Surat Al-Baqarah ayat 31 menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya.

At Taubah 122

tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.

Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:

يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء

“Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)”.

Tugas ulama umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut adalah merupakan tugas umat dan tugas setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah saw. telah bersabda;

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) daripadaku walaupun hanya satu ayat Alquran”.

Akan tetapi tentu saja tidak setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk bertekun menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu agama, karena sebagiannya sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya. Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut, serta menjalankan dakwah Islam dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.

Apabila umat Islam telah memahami ajaran-ajaran agamanya, dan telah mengerti hukum halal dan haram, serta perintah dan larangan agama, tentulah mereka akan lebih dapat menjaga diri dari kesesatan dan kemaksiatan, dapat melaksanakan perintah agama dengan baik dan dapat menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian umat Islam menjadi umat yang baik, sejahtera dunia dan akhirat.

Di samping itu perlu diingat, bahwa apabila umat Islam menghadapi peperangan besar yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, maka dalam hal ini seluruh umat Islam harus dikerahkan untuk menghadapi musuh. Tetapi bila peperangan itu sudah selesai, maka masing-masing harus kembali kepada tugas semula, kecuali sejumlah orang yang diberi tugas khusus untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam dinas kemiliteran dan kepolisian.

Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan bila ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang belum menerima pengetahuan.

Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi mercusuar bagi umatnya. Ia harus menyebarluaskan ilmunya, dan membimbing orang lain agar memiliki ilmu pengetahuan pula. Selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkan ilmunya agar menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama.

Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

Menurut pengertian yang tersurat dari ayat ini kewajiban menuntut ilmu pengetahuan yang ditekankan di sisi Allah adalah dalam bidang ilmu agama. Akan tetapi agama adalah suatu sistem hidup yang mencakup seluruh aspek dan mencerdaskan kehidupan mereka, dan tidak bertentangan dengan norma-norma segi kehidupan manusia. Setiap ilmu pengetahuan yang berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan mereka dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari. Umat Islam diperintahkan Allah untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik. Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya. Dalam hal ini, para ulama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berbunyi:

كل ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan yang wajib, maka ia wajib pula hukumnya”.

Karena pentingnya fungsi ilmu dan para sarjana, maka beberapa negara Islam membebaskan para ulama (sarjana) dan mahasiswa pada perguruan agama dari wajib militer agar pengajaran dan pengembangan ilmu senantiasa dapat berjalan dengan lancar, kecuali bila negara sedang menghadapi bahaya besar yang harus dihadapi oleh segala lapisan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RESUME AYAT TARBAWI

 

Di susun untuk memenuhi tugas Tafsir Ayat Tarbawi

Dosen Pengampu : Dr. H. Muhammad Anis, MA.

Di Susun Oleh             :

Furqon Tri Mashuri                 09470173

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2011

 


[1] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

PENDIDIKAN ISLAM DAN KEBUDAYAAN

 

  1. I.    Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk termulia dari segenap makhluk dan wujud lain yang ada di alam jagad ini (Al-Syaibany, 1979: 103). Dengan kata lain, manusia adalah puncak ciptaan Allah. Manusia ialah makhluk (ciptaan) Allah, bukan tercipta atau ada dengan sendirinya. Ini masalah keyakinan, dan al-Qur’an berulang-ulang meyakinkannya kepada manusia sampai pada tingkat menantangnya agar mencari bukti-bukti, baik pada alam raya maupun pada dirinya sendiri (Aly, 1999:58).

Dilihat dari strukturnya, manusia tersusun dari dua unsur yakni, pertama, memiliki beberapa kesamaan dengan makhluk lain. Kedua, memiliki kekhasan yang menunjukkan ketinggian martabat manusia disbanding dengan makhluk yang lain. Unsur pertama dari susunan kodrat itu dinamakan raga atau tubuh, sedang unsur kedua dinamakan jiwa atau roh (Soebahar, 2000:149).

Kedua unsur itu, manusia dianugerahi nilai lebih, hingga kualitasnya berada di atas kemampuan yang dimiliki makhluk-makhluk lain. Dengan bekal yang istimewa ini manusia mampu menopang keselamatan, keamanan, kesejahteraan, dan kualitas hidupnya (Jalaludin, 2001:13). Sebaliknya dapat mencapai kehinaan bila kualitas insannya tidak dikembangkan secara positif. Sebab pada pribadi manusia bersanding kecenderungan pada kebajikan dan kefasikan (QS. Al-Syamsy: 8-10).

Walaupun pada manusia bersanding kefasikan dan ketaqwaannya sekaligus, namun pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik kebajikan (Shihab, 2000: 286). Oleh karena itu manusia dapat berubah secara dinamis dari buruk menjadi baik dan sebaliknya dari baik menjadi buruk (Bastaman, 1995: 126). Artinya bahwa kepribadian manusia tidak pernah stabil secara sempurna, ia selalu dalam dinamika kehidupannya, ia selalu berhadapan dengan lingkungan yang ikut mewarnai dinamika dan persoalan kemanusiaan.

Karenanya di sini manusia memerlukan pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Perbincangan tentang pendidikan tidak akan pernah mengalami titik final. Karena pendidikan merupakan permasalahan besar kemanusiaan yang senantiasa aktual dibicarakan pada setiap ruang dan waktu yang tidak sama dan bahkan berbeda sama sekali (Zamroni, 2004: 2). Karenanya, pendidikan harus senantiasa dengan perubahan yang terjadi. Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip dalam Pendidikan Islam, yakni prinsip perubahan yang diinginkan (Al-Syaibany, 1979: 441).

Diantara perubahan yang dapat dirasakan adalah dalam kebudayaan. Kebudayaan yang dapat diartikan adalah pola kelakuan yang secara umum terdapat dalam suatu masyarakat (Nasution, 1995: 63), dalam era globalisasi ini, terjadi pertukaran kebudayaan dari satu negara ke negara lain. Akibat pertukaran kebudayaan mengakibatkan dampak positif dan negatif.

Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan tiga hal, yakni pertama, pengertian pendidikan Islam dan kebudayaan. Kedua, globalisasi dan kebudayaan. Ketiga, bagaimana membangun budaya Islami di sekolah.

 

II. Pengertian Pendidikan Islam dan Kebudayaan

Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah baiknya membahas tentang pengertian pendidikan Islam dan Kebudayaan.

 

  1. A.    Pengertian Pendidikan Islam

Ada banyak pengertian tentang pendidikan Islam. Diantaranya:

  1. Ahmad D. Marimba memberikan definisi Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada si terdidik dalam perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan dan seterusnya ke arah terbentuknya kepribadian muslim.( Marimba, 1986: 41)
  2. Syahminan Zaini berpendapat Pendidikan Islam adalah usaha mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran agama Islam, agar terwujud atau tercapai kehidupan manusia yang makmur dan bahagia. (Zaini, 1986:4)
  3. HM. Chabib Thoha menyebutkan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar dan tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan didasarkan nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam AI-Qur’an, maupun hadist Nabi. (Thoha, 1995:  99)
    1. Ali Ashraf berpendapat Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih stabilitas murid sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan begitu pula pendekatan mereka terhadap sesama ilmu pengetahuan mereka, diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan (Ashraf, 1984: 23)

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pengertian pendidikan Islam adalah suatu aktifitas atau usaha pendidikan berupa bimbingan dan pengembangan fitrah manusia baik jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim muttaqin yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Sedangkan tujuan pendidikan di bahwa menurut Hasan Langgulung (1986: 33) menyatakan bahwa berbicara tentang tujuan pendidikan tak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Sebab pendidikan bertujuan memelihara kehidupan manusia. Sementara Al-Syaibani (1979: 399) menyebutkan tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan setelah subyek didik mengalami perubahan proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang sadar dan bertujuan dan Allah meletakkan azas-azasnya bagi seluruh manusia di dalam syari’at ini. Oleh sebab itu, sudah semestinya mengkaji pendidikan terlebih dahulu menjelaskan tujuannya yang luhur dan luas, yang telah ditetapkan oleh Allah bagi seluruh aktititas manusia. karena tujuan merupakan kompas, barometer sekaligus evaluator dalam penyelenggaraan sutau pendidikan.

Sebagai karakteristik pendidikan yang bercorak Islam, maka sudah barang tentu dalam perumusan tujuan pendidikannya mengacu dan berpihak pada hukum-hukum ajaran Islam. Adapun tujuan pendidikan Islam dapat dilihat sebagai berikut:

Para ahli pendidikan memberikan pendapat tentang tujuan pendidikan Islam, diantaranya:

  1.  Al-Abrasy (1980:10) mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang utama atau pembentukan moral yang tinggi.
  2. Zaini (1986: 34-35)  mengatakan tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat atau sehat dan terampil, berotak cerdas dan berilmu banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan pendirian yang teguh.
  3. Chabib Thoha (1995: 101-102) mengatakan tujuan pendidikan Islam adalah:
  4. Menumbuhkan dan mengembangkan ketaqwaan kepada Allah SWT
    1. Membina dan memupuk akhlakul karimah
    2. Menumbuhkan sikap dan jiwa yang selalu beribadah kepada Allah
    3. Menciptakan pemimpin-peminipin bangsa yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar
    4. Menumbuhkan kesadaran ilmiah, melalui kegiatan penelitian, baik terhadap kehidupan manusia, alam maupun kehidupan makhluk Allah semesta.
      1. Marimba (1986: 49) dengan tegas mengatakan tujuan akhir pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian muslim.
      2. Daradjat (1996: 31), mengemukakan bahwa Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia telah berakhir pula. Mati dalam keadaan berserah di kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung taqwa, sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. lnilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhir hidupnya.

Dengan demikian berdasarkan rumusan tentang tujuan pendidikan Islam di atas maka dapat diformulasikan bahwa tujuan pendidikan Islam adalab terbentuknya kepribadian muslim yang mempunyai otak cerdas, berilmu banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan pendirian yang teguh Sehingga dapat menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar.

Sementara itu, dasar pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunah. Serta apa yang ada diatasnya dari pada puncak-puncak cabang yang lain. Seperti qiyas, Ijma’, dan sumber-sumber perundangan bimbingan dan syariat lsIam.(Al-Syaibani, 1979: 427)

  1. Al Quran

Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam yang pertama adalah Al Qur’an. Al Qur’an ialah Firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhaniad. Didalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan dengan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an terdiri dua prinsip besar yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan dan amal. Setiap muslim percaya bahwa al Qur’an adalah sumber nilai dan ajaran Islam yang paling utama. (Al-Ghazali, 1985:VI).

Al Qur’an itu sendiri diturunkan kepada manusia untuk memberikan petunjuk jalan hidup yang lurus dalam arti memberikan bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah. (Zuhairini, 1994:154) Pendidikan yang terkandung dalam al Qur’an adalah Pendidikan yang menyeluruh yaitu meliputi segala aspek manusia dan bergerak dalam bidang kehidupan. Pendidikan itulah yang mementingkan pembinaan pribadi dari segala segi dan menekankan perubahan dalam diri manusia (antara jasmani, akal dan perasaan). Dan pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat al Qur’an sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam. (Hidayatullah, 2000: xviii)

  1. As Sunah (Sunnah Rasul)

Sunnah rasul yang sering disebut hadis ialah ucapan, perbuatan atau takrir nabi yang mengandung ajaran-ajaran Islam. Sedangkan yang dimaksud takrir adalah penetapan Nabi SAW. Secara diam-diam terhadap ucapan atau perbuatan para sahabatnya.

Pada mulanya as-Sunah dimaksudkan untuk mewujudkan dua tujuan; Pertama, menjelaskan kandungan aI-Qur’an. Kedua, menerangkan syariat dan adab-adab lain. (An-Nahlawi, 1989: 46) Terhadap pendidikan sendiri as-Sunah bertindak sebagaimana al Qur’an dalam mendidik, mensucikan jiwanya, meluruskan pribadi dan membimbing kearah yang lurus. (Al-Syaibani, 1979: 431)

Masih menurut Al-Syaibani, cara Sunah dalam mendidik melalui dua jalan; pertama, bersifat positif, berpusat pada dasar-dasar yang sesuai dan kuat bagi akhlak yang mulia yang bertujuan menanamkan kemuliaan. Kedua, bersifat penjagaan, menghindarkan dari segala macam keburukan, baik bersifat individual atau sosial, dan menjaga dari bahaya perpecahan dan perbedaan.

Yang terpenting dalam Sunah ini, bahwa mencerminkan segala tingkah laku Nabi SAW. yang patut diketahui oleh setiap muslim. Dengan kata lain sebagal model bagi setiap muslim. Sebab berkaitan dengan keimanan maka manusia berusaha untuk mengikuti jejak Rosulullah sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan watak setiap muslim. (Langgulung, 1995: 38)

Jadi dasar pendidikan Islam adalah wawasan tajam terhadap sistem hidup Islam yang sesuai dengan kedua sumber pokok (al-Qur’an dan as Sunah). Nilai-nilai fundamental dalam sumber pokok ajaran Islam yang harus dijadikan dasar pendidikan Islam yaitu aqidah Akhlak, penghargaan terhadap akal, kemanusiaan, keseimbangan, rahmat bagi seluruh alam.

 

 

  1. B.     Pengertian Kebudayaan

 

Istilah kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:215) diartikan hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat. Sedangkan dalam Kamus Oxford Learners Pocket Dictionary (2003:105), istilah kebudayaan disebut dengan culture diartikan dengan customs, beliefs, art, way of life, etc of a particular country or group.

Sementara para ahli memberikan memberi definisi sebagai berikut:

  1. Kebudayaan menurut Marimba (1986: 124), segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
  2. Kebudayaan adalah pola kelakuan yang secara umum terdapat dalam suatu masyarakat. (Nasution, 1995: 63) kebudayaan meliputi keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, ketrampilan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan manusia.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia (akal budi) seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat. pandangan hidup, pola perilaku yang secara umum yang  terdapat dalam suatu masyarakat. Melihat dari pengertian kebudayaan masih bersifat umum, atau kalau disederhanakan dapat dikatakan kebudayaan merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh manusia.

Sedangkan unsur-unsur dalam kebudayaan menurut Kluchohn yang dikutip Prihantoro (http://www.gagasmedia.com/serba-serbi/penulis/memahami-arti-kebudayaan.html) menyebutkan ada tujuh  unsur, yakni:

1. Sistem kepercayaan/ religi

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.

2. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

3. Sistem mata pencaharian hidup

Mata pencaharian hidup adalah suatu usaha atau kerja ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk memperoleh bahan kehidupan untuk jangka waktu tertentu. sistem mata pencaharian pada masyarakat pedesaan masih bersifat tradisional, seperti: berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan. Sedangkan sistem masyarakat perkotaan sangat beragam, sesuai dengan perkembangan kota yang sangat kompleks dalam segala bidang.

4. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan hidup. Pada dasarnya, semua peralatan yang dihasilkan oleh manusia bertujuan untuk membantu mempermudah hidup manusia itu sendiri. Sistem peralatan dan perlengkapan hidup antara lain: alat-alat produktif, senjata, alat-alat rumah tangga, alat-alat elektronik, makanan dan minuman, pakaian, perumahan dan alat-alat transportasi

5. Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

6.Sistem pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris.

Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi: pengetahuan tentang alam, pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya, pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia, pengetahuan tentang ruang dan waktu.

 

 

7. Kesenian

Kesenian merupakan ketrampilan untuk mengekspresikan atau mengkomunikasikan  perasaan atau nilai-nilai keindahan. Di dalam kesenian salah satu unsur yang sangat penting adalah unsur estetika (rasa keindahan).Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.Rasa seni terdapat pula pada semua manusia untuk memenuhi kebutuha jiwanya. Di dalam seni inilah si pencipta ingin menyampaikan rasa indahnya kepada orang lain.

 

  1. Globalisasi dan Kebudayaan

Pada dasarnya masa globalisasi (disukai atau tidak), hal itu akan tetap terjadi, karena hal itulah mau tidak mau orang harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. (Mansur, 2005: 157) Globalisasi membuat dunia menjadi sebuah kampong kecil yang memudahkan setiap warga dunia untuk berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Situasi yang demikian mengakibatkan terbukanya ide dari satu tempat ke tempat lain sehingga sulit disensor jika bertentangan dengan nilai-nilai budaya penerima ide tersebut. (Batubara, 2004: 111)

Implikasi dari globalisasi menjalar keberbagai sektor yang ada termasuk adalah kebudayaan. Dampak yang bisa dirasakan adalah adanya pertukaran kebudayaan antarnegara. Contoh, dalam berpakaian, dahulu orang Indonesia bagi wanita memakai pakaian bawahan kebaya. Sekarang, hal tersebut digeser dengan pakaian jeans.

Apabila dilihat secara mendalam, ternyata Indonesia merupakan salah satu Negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini bisa dilihat jumlah pulau di Indonesia adalah 13.000 pulau. Populasi penduduknya lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha Konghucu serta berbagai aliran kepercayaan (Yaqin, 2007: 3)

Pendidikan multikultural mempersiapkan siswa untuk aktif sebagai warga Negara dalam masyarakat secara etnik cultural, dan agama beragam. Dalam pendidikan cultural, semua pengalaman dan sejarah kelompok-kelompok cultural dihargai dan diajarkan dalam sekolah, yang menguatkan integritas dan pentingnya kelompok-kelompok tersebut dan kelompok-kelompok siswa yag mengidentifikasi dengan kelompok yang lebih besar. ((Baidhawi, 2005: 10)

Kebudayaan yang ada di Indonesia, sangat mungkin mendapatkan masukan dari kebudayaan dari luar. Dalam penggunaan bahasa misalnya, banyak masyarakat umum, dalam berbagai kesempatan menggunakan bahasa asing. Di dalam akulturasi kebudayaan tidak semua unsur kebudayaan asing diterima, tetapi dilakukan seleksi unsur-unsur mana yang pantas diterima dan elemen mana yang harus ditolak, hal mana diselaraskan dengan sikap jiwa dan mental bangsa. (Ahmadi, 2004: 73)

Penetrasi budaya global terhadap kehidupan masyarakat akan direspon berbeda-beda oleh kalangan pendidikan, yakni pertama, cenderung menerima, begitu saja pola dan model budaya global yang dialirkan melalui teknologi informasi, tanpa memahami nilai dan substansinya. Kedua, apriori, terhadap capaian budaya dan peradaban global, semata-mata karena ia tidak datang dari tradisi yang diikutinya selama ini. Sedangkan kelompok ketiga, berusaha mendialogkan antara budaya global dengan budaya local sehingga terjadi sintesis budaya yang dinamis dan harmonis. (Rahim, 2002: 421)

  1. IV.    Penerapan budaya Islami di SMP Negeri 7 Semarang

Budaya atau kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai, yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Zamroni (2000: 149) kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Kultur sekolah tersebut dipegang bersama baik kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.

Untuk membentengi adanya budaya luar yang negatif, SMP Negeri 7 Semarang menerapkan budaya yang sesuai dengan ajaran Islam, yakni:

  1. Pakaian

Seringkali budaya pakaian yang dipakai pelajar sekarang cenderung meniru gaya barat, yakni pakaian yang menampakkan lekuk tubuhnya. Hal ini jelas bertentangan budaya pakaian Islam. Inti dari ajaran Islam tentang pakaian adalah untuk menutup aurat bukan mengumbar aurat. Karenanya, SMP Negeri mengeluarkan kebijakan tentang pakaian untuk peserta didik. Sebelum tahun 2008, peserta didik SMP Negeri 7 Semarang yang laki-laki memakai celana pendek, sedangkan yang perempuan memakai rok dibawah lutut. Setelah tahun 2008, peserta didik laki-laki dan perempuan wajib memakai celana  dan rok panjang. Meskipun hal tersebut, belum seratus persen, sesuai dengan ajaran Islam, setidaknya kebijakan merupakan langkah maju dibandingkan aturan sebelumnya. Di samping itu, dalam pakaiannya baju atau celana atau rok tidak boleh terlalu ketat.

  1. Salat jamaah

Setiap hari senin-kamis, semua peserta didik melaksanakan salat berjamaah dzuhur di sekolah. Salat dzuhur dilaksanakan pada pukul 12.15-12.45 di mushola dan aula SMP Negeri 7 Semarang. Tujuan dilaksanakan salat berjamaah adalah untuk membiasakan peserta didik untuk melaksanakan salat dengan berjamaah. Sebelum dilaksanakan salat berjamaah dzuhur, peserta didik membaca surat-surat pendek dengan bersama-sama. Hal ini bertujuan agar anak terbiasa membaca al-Quran dan menghafalkan.

Tidak hanya salat dzuhur saja, tetapi salat-salat wajib yang lain. Karena keterbatan waktu, maka pelaksanaan salat wajib selain dzuhur dilaksanakan diserahkan ke masing-masing peserta didik dengan pengawasan dari orang tua. Untuk mengontrol pelaksanaannya, sekolah menyediakan kertas laporan salat wajib. Dalam kertas tersebut berisi tentang kapan peserta didik melaksanakannya salat wajib. Orang tua memberikan tanda tangan pada halaman paling bawah pada kertas laporan pelaksanaan salat.

 

 

  1. Salat sunah dhuha

Selain salat wajib, peserta didik SMP 7 Semarang dibiasakan melaksanakan salat dhuha di sekolah. Salat dhuha dilaksanakan sebelum jam pelajaran dimulai (pukul 06.15-07.00), istirahat pertama dan kedua (09.00-09.15 dan 10.30-10.45) di mushola. Tujuan dilaksanakan salat dhuha adalah membiasakan peserta didik agar terbiasa melaksanakan salat sunah. Sebagai alat kontrol, sekolah menyediakan kertas laporan salat dhuha yang formatnya digabung dengan pelaksanaan salat wajib.

 

  1. Membiasakan membaca al-Quran

Budaya yang dilakukan di SMP 7 Semarang selain di atas adalah membiasakan membaca al-Quran. Pembiasaan tersebut dilaksanakan sebelum pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dimulai dan sebelum salat dzuhur dilaksanakan di sekolah. Selain itu juga, diharapkan di rumah anak terbiasa membaca al-Quran. Sebagai alat kontrol pelaksanaannya, sekolah menyediakan kertas laporan pelaksanaan membaca al-Quran. Kertas laporannnya menyatu dengan laporan salat wajib, sunah, dan membaca al-Quran.

  1. Dilarang membawa HP

Salah satu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang adalah adanya HP (hand phone). HP mempunyai dampak positif dan negatifnya. Adapun dampak positifnya adalah memudahkan komunikasi dengan orang lain, meskipun jaraknya jauh. Dengan HP orang dapat berkomukasi dengan orang dimanapun tempatnya dengan cara berhubungan langsung atau melalui SMS. Selain itu HP juga menyediakan fasilitas video, internet, games, dan lain-lain. Sedangkan negatifnya adalah HP tersebut dimanfaatkan ke hal-hal yang kurang baik (bertentangan dengan ajaran agama maupun Negara). Diatara dampak negatifnya adalah merekam adegan bermesraan dengan pacar atau orang lain, menyimpan gambar atau film porno, dan lain-lain.

Untuk mengantisipasi hal itu, SMP Negeri 7 Semarang melarang peserta didik untuk membawa HP ke sekolah. Kalaupun terpaksa, HP nya harus dititipkan di guru bimbingan dan koseling.

  1. Membiasakan sikap jujur

Peserta didik SMP Negeri 7 Semarang dibiasakan dengan sikap jujur. Kejujuran tersebut dilaksanakan di dalam kelas maupun luar kelas. Melatih kejujuran bagi peserta didik disimbolkan dengan adanya kantin kejujuran. Dalam kantin kejujuran tersebut, anak membeli barang di kantin yang tidak ada penjaganya. Dalam kantin tersebut sudah ada harga yang harus dibayar. Sistem pembayaran dilakukan sendiri oleh peserta didik dengan menaruh uang di kotak yang sudah disediakan. Kalau ada kelebihan, peserta didik dapat mengambil uang kelebihan sendiri. Tujuan adanya kantin kejujuran adalah melatih kejujuran peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip yang digunakan meskipun tidak ada penjaga kantin, peserta didik tetap bersikap jujur. Karena meskipun tidak ada penjaga kantin, Allah Swt, melihat gerak-gerik apa yang dikerjakan manusia.

  1. Bersalaman dengan guru dan mengucapkan salam

Seringkali sekarang ini, banyak peserta didik yang berani dengan guru. Untuk membekali peserta didik terhadap hal tersebut, SMP Negeri 7 Semarang membiasakan bersalaman dengan guru. Bersalaman tersebut dilakukan pada waktu masuk sekolah maupun masuk kelas. Hal ini sekaligus mempunyai makna agar peserta menghormati guru. Bukan berarti guru minta dihormati, melainkan membiasakan peserta didik agar menghormati guru melalui cara bersalaman.

Selain itu, peserta didik dibiasakan mengucapkan salam ketika bertemu guru maupun dengan salam. Bertemu disini bisa dilaksakan di sekolah, kelas, maupun diluar sekolah. Seringkali yang terjadi peserta didik, ketika bertemu dengan guru diam atau acuh tak acuh. Untuk menghindari tersebut, maka dibiasakan mengucapkan salam saat bertemu. Di samping dengan guru, peserta didik juga dibiasakan mengucapkan salam kepada sesama teman. Karena seringkalali dijumpai peserta didik saat bertemu dengan temannya, ucapannya yang keluar adalah ucapan yang kurang baik. Karenanya, melalui budaya salam kepada orang lain dibiasakan di SMP Negeri 7 Semarang.

 

  1. V.    Kesimpulan
  2. Yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah suatu aktifitas atau usaha pendidikan berupa bimbingan dan pengembangan fitrah manusia baik jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim muttaqin yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan kebudayaan adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia (akal budi) seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat. pandangan hidup, pola perilaku yang secara umum yang  terdapat dalam suatu masyarakat.
  3. Dalam era globalisasi sekarang ini semua aspek kehidupan manusia berpengaruh, termasuk di dalamnya bidang kebudayaan. Contoh konkrit adalah adanya pertukaran kebudayaan antarnegara.
  4. Cara membentengi dampak negatif globalisasi bidang kebudayaan, SMP Negeri 7 Semarang melakukan berbagai cara, yakni: mengatur pakaian, salat jamaah, salat sunah dhuha, membaca al-Quran, dilarang membawa HP, membiasakan sikap jujur, dan mengucapkan salam, bersalaman kepada guru

 

 

Daftar Pustaka

 

Ahmadi, Abu, 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Aly, Hery Noer, 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos

Al-Abrasyi, M Atiyah, 1980, Al-tarbiyah Al-Islamiyah, terjemahan Prof Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry LIS., Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta

Al Ghazali, 1985 Permata  Al Qur ‘an, CV Rajawali Jakarta

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy, 1979, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

An-Nahlawi, Abdurrahman , 1989, Usul aI-Islamiyyah Wa Asaibuha, terjemahan Drs. Hery Noer Ali, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, CV. Diponegoro, Bandung

Asraf, Ali, 1984, Horizon-horizon baru Pendidikan Islam, Pustaka Firdaus: Jakarta

Baidhawi, Zakiyuddin, 2005, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta: Erlangga.

Bastaman, Hanna Djumhana, 1995, Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Batubara, Muhyi, 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Ciputat Press

Daradjat, Zakiah, dkk, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara bekerjasama dengan Binbaga Depag RI Jakarta. 1996

Hidayatullah, Syarif, 2000, Intelektualisme dalam Perspektif Neo-Modernisme PT. Tiara Wacana, Yogyakarta

Jalaludin, 2001, Teologi Pendidikan, Jakarta:  PT. RajaGrafindo Persada

Mansur, 2005, Paradigma Pendidikan Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani di Era Globalisasi, Semarang: International Journal Ihya ‘Ulum al-Din.

Marimba, D Ahmad, 1986, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif

Langgulung, Hasan, 1986, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Filsafat Pendidikan, Pustaka Al-Husna, Jakarta

Langgulung, Hasan, 1995, Beberapa Permikiran Tentang Pendidikan Islam PT. Al Ma’arif, Bandung

Nasution, S, 1995, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.

Oxford Learners Pocket Dictionary, 2003, UK: Oxford University Press

Prihantoro, Nur Achmad, (http://www.gagasmedia.com/serba-serbi/penulis/memahami-arti-kebudayaan.html) diakses tanggal 17 Maret 2011

Rahim, Husni, 2002, Pendidikan Islam di Indonesia Keluar dari Eksklusivisme dalam Pendidikan untuk Masyarakat Indonesi Baru, Jakarta: Grasindo

Shihab, Quraisy, 2000, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan

Soebahar, Moh. Erfan, 2000, Manusia Seutuhnya, CV. Semarang: Bima Sejati, 2000

Thoha, M. Chabib, 1995, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: Pusat Bahasa.

Zamroni, 2000, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: BIGRAF Publishing

Yaqin, M. Ainul, 2007, Pendidikan Multikultural: Crosscultural Understanding untuk Demokrasi dan keadilan, Yogyakarta: Pilar Media.

Zaini, Syahminan. 1986, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia

Zuhairini, dkk. , 1994, Filsafat Pendidikan Islam., Bumi Aksara. Jakarta

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

pendidikan pakaian

berpakaian

PENDAHULUAN

 

      Sesuai dengan ajaran agama, fungsi utama dari pakaian adalah untuk menutup aurat. Namun demikian pakaian juga sebagai simbu suatu kebudayaan di samping sebagai pengejawantahan dari tingkat penghayatan keberagaman.

Pakaian akan mempresentasikan karakter dan kepribadian pemakainya cara berpakaiannya yang sopan sesuai dengan norma-norma agama dan norma sosial yang ada akan menggambarkan kondisi psikologis pemakainya, dan demikian pula sebaiaknya cara berpakaian yang tidak teratur dan tidak memenuhi kriteria kepantasan juga akan menumbuhkan bahwa seperti itulah sebenarnya kondisi kejiwaan pemakainya, karena apa yang nampak secara lahiriah itu sesungguhya menunjukkan apa yang tersimpan di dalam hatinya[1].

Karena fungsi pakaian yang sebenarnya adalah untuk menutup aurat, sementara menurut beberapa referensi hokum Islam/ fiqh terdapat perbedaan batas aurat antara kaum laki-laki dan perempuan, maka perlu kiranya di sianggung perbedaan batas aurat antara laki-laki dan perempuan.

Aurat bagi kaum perempuan meliputi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, sedangkan bagi kaum laki-laki hanya sebatas antara lutut dan pusar. Disamping sebagai menutup aurat, pakaian juga berfungsi untuk memperjelas identitas agar orang mudah dikenal, serta memelihara manusia dari panas matahari.

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Pakaian adalah kebutuhan hidup sekaligus cermin perilaku kita. Pakaian yang baik adalah pakaian yang diridhoi oleh Allah SWT. Berikut adalah pesan Rasulullah SAW dalam memilih pakaian yang baik:

1.   Pakaian yang dikenakan bersih, longgar (tidak ketat), tidak tembus pandang, dan menutupi aurat;

2.   Tinggalkan pakaian yang mewah walaupun kita mampu membelinya. Utamakan sikap tawadhu (rendah hati);

3.   Rasulullah SAW suka memakai gamis dan kain hibarah (pakaian bercorak yang terbuat dari bahan katun);

4.   Untuk  laki-laki, Rasulullah SAW melarang menggunakan pakaian berbahan sutera dan emas;

5.   Jangan menggunakan pakaian yang terlalu panjang, apalagi hingga harus diseret (terkena lantai). Untuk laki-laki, Rasulullah SAW melarang pakaian yang menutupi mata kaki untuk laki-laki karena kesombongan;

6.   Untuk perempuan muslimah, panjangnya hingga menutupi telapak kaki, dan kerudungnya menutupi kepala, leher, dan dada;

7.   Untuk lelaki tidak berpakaian seperti perempuan, demikian juga sebaliknya;

8.   Tidak memakai pakaian yang bertambal atau yang lusuh, karena menurut Rasulullah, Allah senang melihat jejak nikmat Nya pada hamba-Nya;

9.   Mengutamakan pakaian yang berwarna putih, karena Rasulullah juga menyukai warna itu.

Dalam tata cara berpakaian secara umum, ada beberapa hal yang dicontohkan Rasulullah SAW:

1.   Berdo’alah ketika akan berpakaian.

2.   Berdo’alah ketika akan mengenakan pakaian baru.

3.   Disunahkan memakai pakaian dari sebelah kanan terlebih dahulu;

4.   Berpakaianlah dengan rapi dan indah disesuaikan dengan tempat, tanpa berlebihan dan tidak dipaksakan;

5.   Disunahkan melepaskan pakaian dari sebelah kiri terlebih dahulu.

 

A. Hadits tentang pakaian

 

 

عن خزءفة بن كعب ابئ دبيان قل سمعت عبداله ابن الزبير يخطب يقول الالا تلبسو انساءكم الحرير فاني سمت عمربن الخطاب يقول قال رسولال الله صلي الله عليه وسلم لا تلبسو الحرير فا نه من لبسه في الدنيا لم يلبه في الاخرة  مسلم

 

Artinya : diriwayatkan dari Khudzaifah bin Ka’ab Abu Dsubyan, dia berkaia : saya pernah mendengar Abdullah bin Zubair berkholbah dengan mengatakan, “Kelahuilah, janganlah kalian memberikan pakaian sutera kepada istri kalian, karena saya pernah mendengar Umar bin Khathtab mengatakan, Rasulullah telah bersabda, “janganlah kalian mengenakan pakaian sutera, karena barang siapa mengenakan pakain sutera, karena barang siapa mengenakan pakain sutera di dunia maka ia tidak mengenakannnya di Akherat. (H.R. Muslim)

Pakaian diperuntukkan untuk menutup aurat baik itu laki-laki maupu perempuan.’ Pakaian merupakan salah satu cerminan tentang diri seseorang. Di zaman sekarang pakain sangat banyak bentuk wama maupun model. Dengan perkembangan zaman dan globalisi perlu sekiranya kita melihat warisan nabi tentang bagaimana dan apa yang harus di gunakan khususnya dalam paikaian ini. Banyak diantra para anak muda sekarang ini yang belum bisa mencerminkan sebuah kehidupan yang pada dasar sudah ada tuntunan dari nabi junjungan kita nabi Muhammad saw. Kita lebih mengutamakan tren jaman sekarang tanpa melihat rambu-rambu yang telah ditantukan. Ini merupakan sebuah keprihatinau khusus yang perlu kita kaji dan kita terapkan dalam kehidupan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial.

Didalam Alquran dan Hadits sangat jelas bagaimana cara yang ditentukan oleh Allah sangat di sangat disayangkan masih banyak diantara kita menyepelekannya akibatnya banyak diantara para wanita yang menjadi korban perkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual. Itu semua bermula dari pakaian yang begitu sangat minim, ketat dan lain-lain. Imam malik mengatakan wajib mentup aurat orang muslim tidak terbatas pada ibadah saja artinya diluar shalat wajib menutupnya apa yang telah ditentukan baik itu aurat laki-laki maupun perempuan. Hadits-hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa secara tekstual kita dilarang untuk mengenakan pakaian sutera.

Hadits tersebut di perkuat dengan hadits lain yang diriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir r.a, beliau berkata. Rasidullah saw pernah mendapatkan hadiah sutera, lalu beliau memakainya untuk shalal. Setelah itu baliau pulang, kemudian beliau segera melepasnya dengan serta merta. sepertinya beliau tidak menyukainya, lalu baliau mengatakan, pakaian ini tidak layak untuk orang-orang bertaqwa. ” (H.R. Muslim)”‘.

Rasulullah tidak menyukai pakaian sutera dan mengatakan bahwa pakaian sutera bukan pakain orang bertqwa. Ada dua kandungan yang dapat kita ambil dari hadits di atas yaitu, makna yang tersurat maupun kandungan yang tersirat.

Yang tertersurat, Rasullullah melarang memakai pakaian sutera. Dan yang tersirat. sombong bukanlah akhlak orang bertaqwa karena dengan memakai pakaian sutera ada sifat sombong yang ada dalam diri yang memakainya. Didalam Al Qur’an Allah berfirman:

يا بنى ءادم قد انزلنا حليكم لباسا يواري سوءاتكم وريشا ولباس التقوى دلك خير دلك من ءايات الله لعلهم يدكرون

Artinya : Hai anak adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik….(QS .Al A’raaf: 26)

 

Mengenakan pakaian yang indah merupakan sebuah anjuran apalagi berpergian ke masjid untuk shalat dan harus menutup aurat dengan begitu tereerminlah seorang dangan sifat yang mencintai keindahan, karena Allah menyukai yang indah-indah. Dari penjelasan di atas kita mendapat gambaran bahwa larangan memakai sutera dan larangan berlaku sombang karena sombong merupakan bukan dari akhlak orang-orang bertaqwa dan sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa

Adapun  beberapa pakaian yang dilarang dalam Islam, seperti :

1. Berpakaian dari kulit bangkai, kulit harimau dan binatang buas.(Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah)

2. Lelaki berpakaian percmpuan, dan scbaliknya.

3. Berpakaian sempit dan ketat

4. Berpakaian kesombongan dan kemewahan

5. Lelaki berpakaian sutera

6. Pakaian meniru-niru pakaian yahudi dan nasrani

7. Berpakaian hanya berlengan satu atau jubah lanpa Jengan sama sekali

8. Berpakaian yang tidak menutup akarena aurat.

Rasulullah saw menjelaskan apa saja yang boleh dijadikan pakaian, apa saja yang tidak boleh dijadikan pakaian, apa yang disunnahkan untuk dipakai, dan apa yang makruh untuk dipakai. Oleh karena itu, orang muslim konsekuen dalam etika-etika berikut dalam berpakaian:

  1. Tidak memakai pakaian dari bahan sutera secara mutlak untuk pakaian, sorban, dan lain sebagainya
  2. Tidak mcmpcrpanjang pakaian atau cclana,atau burnus atau gamisnya hingga mcncapai telapak kaki
  3. Lebih mengutamakan pakaian berwarna putih dari pada warna-warna lainnya, dan berpendapat bahwa penggenaan semua warna adalah diperbolehkan.
  4. Wanita muSlimah wajib memanjangkan pakaiannya hingga menutupi kedua kakinya, dan memanjangkan kerudung di kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya.
  5. Kaum laki-laki tidak menggunakan eincin emas
  6. Seorang muslim diperbolehkan tnemaktei cincin dari perak, atau mencetak namanya dicincin peraknya.
  7. Seorang muslim tidak dibenarkan menutupkan kain keseluruh tubuhnya, daan tidak menyisakan tempat keluar untuk kedua tangannya.
  8. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana   muslimah begitu juga dengan sebaliknya.
  9. Jika mengenakan sandal maka ia memulai dengan kaki kanan, dan jika melepasnya maka memulainya dengan kaki kiri
  10. Jika ia berpakaian, ia memulainya dengan tangan kanan k) Jika memakai pakaian hendaklah ia berdoa
  11. k.        Jika   seorang   muslim   melihat   saudaranya   memakai   baju   baru   hendaklah   ia mendoakannya

 

B. Kaitan dengan Nilai-nilai  Pendidikan

Ditinjau dari ajaran Islam banyak sekali kita temui berbagai kesulitan yang dihadapi umat Islam dalam membimbing maupun membina generasi mudah saat ini seperti cara berpakain yang tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh agama Islam bahkan di sekolah tetap ditekankan supaya jangan terlalu berpenampilan menonjol baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kalau masalah ini tidak segera diatasi maka akan semakin tersebarlah berbagai kerusakan akhlak yang berimplikasi terhadap maraknya kekejian dan berbagai penyakit rohani dalam kehidupan sehari-hari seperti seks bebas, penampakan aurat tubuh, berpakaian terbuka,  ikutan trendy (zaman), memakai jilbab hanya sebatas menutup kepala saja

Berdasarkan pemahan penulis terhadap firman Allah dalam al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad Saw, sampai kepada contoh tauladan dari kehidupan ulama salaf, bahwa wanita Islam apabila keluar dari rumah diwajibkan menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan walau sedikitpun dari perhiasan kecantikan dirinya, kecuali muka dan kedua telapak tangannya dengan menggunakan busana muslimat model apasaja sesuai dengan syariat yang telah ditentukan.

Busana muslimah erat sekali hubunganya dengan masalah pembinaan akhlak. Untuk membina etika berpakaian muslimah perlu menyelaraskan antara prihal berpakaian dengan masalah akhlak. Diperintahkan oleh Allah agar mengikuti Islam secara sepotong-sepotong. Dengan demikian, masalah berpakaian itu juga adalah merupakan ajaran Islam yang diabaikan begitu saja.

Fungsi dan Tujuan Berpakaian

Maksud Berpakaian muslim bagi siswa adalah untuk menggambarkan keimanan seseorang dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’ala serta taat mengamalkan Agama  Islam sekaligus melestarikan pakaian adat.

Fungsi berpakaian Muslim dan Muslimah adalah untuk menjaga kehormatan dan harga diri, sebagai identitas Muslim dan Muslimah, serta untuk menghindari kemungkinan tcrjadinya ancaman dan gangguan dari pihak lain.

Tujuan berpakaian Muslim dan Muslimah adalah :

1. Membentuk sikap dan perilaku sebagai seorang Muslim dan Muslimah yang baik dan    berakhlak mulia.

2. Membiasakan diri berpakaian Muslim dan Muslimah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berpendidikan, dalam kehidupan bekeluarga maupun dihadapan masyarakat umum;

3. Menciptakan masyarakat yang mencintai budaya Islam dan budaya daerah.

4. Melestarikan fungsi adat sesuai dengan pituah “syara’mangato adat mamakai” (Perda, 2003 : 20)

5. Peranan  Pendidikan Agama Islam dalam Membina Etika Berpakaian

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Berpakaian berasal dari kata pakaian yang artinya suatu yang harus diperhatikan oleh laki-laki maupun perempuan. Sebab pakaian merupakan pelindung yang dibutuhkan oleh kesehatan. Pakaian merupakan penutup yang melindungi sesuatu yang dapat menyebabkan malu apabila terlihat oleh orang lain. Sedangkan berpakaian di awali dengan awalan ber-pakai-an  yang berarti sesuatu barang yang dipakai agar dapat menutupi tubuh.

Sedangkan pendapat lain mengatakan pakaian adalah   hiasan yang dikuasai oleh fitrah tanpa ada beban. Hal ini Allah Swt berfirman yang artinya “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik” (Q.S al-A’raaf (7) : 26).

Perhiasan yang dimaksudkan di sini adalah sesuatu yang dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk mendapatkan sesuatu corak keindahan. Islam telah menganjurkan untuk memakai perhiasan yang baik dan halal. Islam juga telah memperingatkan untuk tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memakainya, yang mejadikan wanita sebagai budak kehidupan atau lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan di akhirat. Oleh karena itu wanita muslimah yang benar-benar sadar akan ajaran agamanya dan jujur serta membuka mata lebar-lebar akan senantiasa mengutamakan kesederhanaan dan keseimbangan dalam segala hal. Karena itu lebih disukai Allah Swt.

Dari paparan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa berpakaian itu merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan oleh setiap insan seperti kaum laki-laki dan perempuan karena sejak zaman Rasulullah sampai sekarang ini berpakaian itu merupakan hal yang tidak boleh dilalaikan karena dengan berpakaian aurat manusia akan tertutup dan terlindung dari segala penyaki

 

 

 

 

Daftar Pustaka:

 

1        Imam AI-Mundziri, Ringkasan Hadis Shahih /V7us//m/|’Jakarta-.Pustaka amani,2003.

2        Imam Nav^awi, Riyadhus sholihin, 2006,  Bandung :  Irsyad Baitus Salam.

3        A.Abdurrahman ahmad, Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap, 2011, Cirebon: Pustaka Nabawi.

4        Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim, 2000, Jakarta : Darul falah.

5        Juwariyah, Hadits Tarbawi, 2010,Yogyakarta:Teras.


[1] Juwariyah, Hadis Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010) hal. 89.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.