RSS

Arsip Penulis: furqontrimashuri

Tentang furqontrimashuri

simpel tapi misterius

“KEKUATAN AMBAK, LINGKUNGAN BELAJAR DAN GAYA BELAJAR”

 Pendahuluan

Tempat belajar mandiri dapat dilakukan di sekolah, di rumah, di perpustakaan, di warnet dan dimanapun tempat yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar. Tetapi lingkungan belajar yang sering digunakan yaitu di rumah dan sekolah. Lingkungan tersebut perlu mendapat perhatian khusus sehingga pembelajar merasa nyaman melakukan kegiatan belajar. Cara belajar: pembelajar memiliki cara yang tepat untuk dirinya sendiri. ini antara lain terkait dengan tipe pembelajar, apakah ia termasuk auditif, visual, kinestetik, atau tipe campuran

Sehingga akan muncul sikap untuk berfikir dalam melakukan suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu lebih berfikir “AMBAK” (Apa Manfaatnya Bagiku), apabila melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, maka seseorang tersebut pasti tidak akan melakukannya. Disilah keutamaan dan manfaat dari “ AMBAK” yang sangat baik dilakukan untuk mengawali dalam melakukan suatu aktivitas yang akan dikerjakan, sehingga tidak ada terjadi kekecewaan yang bersifat sementara.

 

 

Pembahasan

AMBAK adalah singkatan dari “ Apa Manfaat BagiKu”

Dalam banyak situasi, menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat terhadap apa yang sedang dipelajari dengan menghubungkannya pada “dunia nyata”. Ini terutama benar dalam situasi belajar yang formal. Mereka perlu bertanya pada diri sendiri, “bagaimana aku dapat memanfaatkannya dalam kehidupanku sehari-hari? Setiap individu selalu dapat menemukan sesuatu yang dapat menarik baginya. Meningkatkan kariernya, atau membantunya agar lebih mudah berkomunikasi, atau mungkin merupakan batu loncatan menuju sesuatu (misal : pendidikan) yang lebih tinggi.

 

Menemukan AMBAK sama dengan menciptakan minat terhadap apa yang sedang dipelajari dengan menghubungkannya pada “dunia nyata”. Mereka perlu bertanya pada diri sendiri, “ Bagaimana dapat memanfaatkannya dalam kehidupanku sehari-hari. Menciptakan minat memiliki keuntungan instrinsik. Tantangan terbesar baginya adalah menemukan waktu untuk mencapai semuanya.

 

Ketika seorang siswa bertanya, “Apa manfaat bagiku?” pastikan dengan perayaann dalam memasukkan jawabannya. Sering kali membuatnya pesimis dan putus asa. Karena tujuan yang akan dicapai masih jauh. Dan sebaliknya jika dapat berhasil mencapainya mereka mengatakan tidak sulit. Maka penting baginya untuk merayakan prestasi tersebut. Ini akan memberikan perasaan sukses, berhasil, penyelesaian dan kepercayaan, yang akan membangun motivasi baginya untuk meraih tujuan berikutnya.

Perayaan inilah yang menandai setiap langkah penting kearah tujuan dan memberikan kegairahan klimaks untuk pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik.

Bekerja di Lingkungan yang ditata dengan baik, akan terasa lebih mudah untuk mengembangkan dan mempertahankan sikap positif dan sikap positif akan menghasilkan pelajar yang lebih berhasil. Bagi pelajar Quantum ini, bahwa sikap positif merupakan aset yang berharga untuk belajar. Mengatur lingkungan merupakan langkah utama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar secara keseluruhan. Hal ini sangat membantu siswa menjadi pelajar yang lebih baik. Sebelum pembelajaran dimulai, ruang kelas hendaknya ditata sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu tempat dimana siswa-siswa akan merasa nyaman, terdorong, dan mendapatkan dukungan.

Kursi-kursi diberi bantalan supaya lebih nyaman, jendela-jendela dilap dan dinding-dinding dihiasi dengan poster-poster indah dan tulisan-tulisan yang bermakna positif dan masih banyak lagi. Para siswa merasa nyaman dengan diri mereka sebagai individu dan sebagai anggota kelompok. Selanjutnya, para siswa mulai memperkenalkan keterampilan-keterampilan akademis yang membantu mereka agar menjadi pembelajar yang lebih baik disekolah

Alasannya karena musik sangat penting untuk lingkungan Quantum Learning adalah karena musik secara tidak langsung maupun langsung berhubungan dengan kondisi fisiologi seseorang dan dapat terpengaruhi. Setelah suatu percobaan intensif dengan para siswa, ia akan mendapatkan bahwa musik dalah kuncinya. Musik barok merupakan yang membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi.

Ada pula teori yang mengatakan bahwa, dalam situasi otak kiri sedang bekerja, seperti mempelajari materi baru, musik akan membangkitkan reaksi otak kanan yang instuitif dan kreatif. Memasang musik adalah cara efektif untuk menyibukkan otak kanan ketika seseorang sedang berkonsentrasi pada aktivitas-aktivitas otak kiri.

Dalam Pembelajaran, jeda yang berulang-ulang dianjurkan untuk setiap sesi belajar. Jeda sangat penting hingga para siswa perlu memberikan kebebesan mendapatkan dan menikmatinya. Ada beberapa alasan antara lain :

Jeda merupakan saat untuk konsolidasi, untuk mengumpulkan informasi dan membiarkannya menetap secara mantap kedalam pikiran sadar dan bawah sadar. Jeda berarti mundur kembali dan masuk ke dalam ruang pribadi siswa, atau lingkungan mikro. Dan inilah manfaat menggunakan jeda agar siswa dapat fresh dalam berkonsentrasi pada materi yang akan dipelajarinya, sehingga tidak membuat pikiran siswa selalu berfikir yang tegang dan secara terus menerus tanpa adanya waktu untuk berfikir.

Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kemampuan belajar di sekolah. Di sekolah, para guru hendaknya menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara dan gaya yang berbeda dalam mempelajari informasi baru.menurut Rita Dunn, dibidang gaya belajar, menemukan banyak variabel yang mempengaruhi cara belajar orang yaitu mencakup faktor-faktor:

Dua kategori utama tentang bagaimana seseorang belajar, pertama, cara menyerap informasi dengan mudah(modalitas). Kedua, cara mengatur dan mengolah informasi tersebut (kerja otak). Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Pada awal pengalaman belajar, salah satu langkah pertama yang penting adalah mengenali modalitas seseorang dalam belajar, baik modalitas visual, audiorial, atau kinestetik (VAK). Orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial melakukannya melalui apa yang mereka dengar, dan pelajar kinestetik belajar lewat gerakan-gerakan dan sentuhan.

Cara menemukan modalitas adalah dengan mendengarkan petunjuk-petunjuk dalam pembicaraan kita. Cara lainnya adalah memperhatikan perilaku kita ketika menghadiri seminar atau loka-karya. Perbedaan dari orang-orang auditorial lebih suka mendengarkan materinya dan kadang-kadang kehilangan urutannya jika mereka mencoba mencatat materinya selama presentasi berlangsung. Orang-orang visual lebih suka membaca makalah dan memperhatikan ilustrasi yang ditempelkan pembicara di papan tulis. Mereka juga membuat catatan-catatan yang sangat baik. Pelajar kinestetik lebih baik dalam aktivitas bergerak dan interaksi kelompok.

Ciri-ciri yang akan membantu kita dalam menyesuaikan modalitas belajar kita yang terbaik adalah sebagai berikkut:

Masalahnya mungkin ada ketidak cocokkan antara gaya belajar siswa dengan gaya belajar mengajar dosennya.

Gejala ini sangat menonjol pada pergantian dari sekolah lanjutan ke perguruan tinggi karena pengajaran yang diberikan berganti dari sangat visual menjadi sangat auditorial. Orang-orang visual berbicara dengan cepat, auditorial sedang-sedang saja, dan kinestetik berbicaranya lebih lambat. Kalangan pendidik telah menyadari bahwa siswa memiliki bermacam cara belajar. Sebagaian siswa dapat belajar secara baik dengan melihat orang lain melakukannya. Mereka menyukai penyajian yang runtut. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru.

Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman langsung dan konkret daripada mempelajari konsep-konsep dasar terlebih dahulu dan baru kemudian menerapkannya. Dari semua ini, menyimpilkan bahwa cara belajar dan mengajar aktif sangat sesuai dengan siswa masa kini. Agar bisa efektif, guru harus menggunakan yang berikut ini: diskusi dan proyek kelompok kecil, presentasi dan depat dalam kelas, latihan, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi kasus.

Sistem identifikasi VAK membedakan bagaimana cara menyerap informasi. Orang yang termasuk dalam dua kategori “sekuensial” cenderung memiliki dominasi otak kiri. Sedangkan orang-orang yang berfikir “acak” biasanya termasuk dalam dominasi otak kanan. Jadi, keuntungannya yang bisa diperoleh dari hal itu adalah bisa menentukan manakah yang dominan dan apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan cara berfikir yang lain dalam dirinya.

Berpegang pada kenyataan dan proses informasi dengan cara yang teratur, linear, dan sekuensial. Catatan atau makalah adalah cara baik bagi orang-orang ini dalam belajar.

Mempunyai sikap eksperimental yang diiringi dengan perilaku yang kurang terstruktur. Mereka lebih berorientasi pada proses daripada hasil; akibatnya tugas-tugas sering kali tidak sejalan sesuai dengan yang direncanakan karena kemungkinan- kemungkinan yang muncul dan mengundang eksplorasi selama proses.

Adalah dunia perasaan dan emosi. Mereka tertarik pada nuansa dan sebagian lagi cenderung pada mistisisme. Pikiran acak abstrak menyerap ide-ide, informasi, dan kesan mengatur dengan refleksi.

Adalah dunia teori metafisis dan pemikiran abstrak. Mereka suka berfikir dalam konsep dan menganalisis informasi. Proses berfikir mereka logis, rasional dan intelektual. Aktivitas favorit pemikir sekuensial abstrak adalah membaca, dan jika suatu proyek perlu diteliti, mereka akan melakukannya secara mendalam.

Kesimpulan

Dalam melakukan kegiatan maupun suatu hal yang bermanfaat atau bahkan merupakan madrarat yang berpengaruh dengan pribadi kita dalam melakukannya. Maka perlu adanya sikap bertanya pada diri sendiri tentang apa yang akan dilakukannya. Sehingga akan muncul sikap untuk berfikir dalam melakukan suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu lebih berfikir “AMBAK” (Apa Manfaatnya Bagiku), apabila melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, maka seseorang tersebut pasti tidak akan melakukannya.

Disinilah, manfaat AMBAK sangatlah penting dalam langkah awal dalam melakukan kegiatan yang akan diharapkan, sehingga akan bermanfaat baik bagi dirinya tersebut. Setelah mengetahui apa manfaat yang dilakukannya, variabel seperti Lingkungan belajar sangat juga berpengaruh dalam menentukan tercapainya dalam proses yang menjadi faktor dalam berhasilnya peserta didik yang akan dicapainya. Lingkungan belajar yang kondusif dan tertata dengan baik sangat disenangi siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang berlangsung.

Setalah itu, siswa dapat mencari dan mengamati dan menentukan gaya belajar bagaimana yang akan dilaluinya agar lebih cepat dalam tujuan yang diharapkannya. Dari AMBAK, Lingkungan belajar dan gaya belajar merupakan proses pembelajaran yang sangat berhubungan dan saling memberi manfaat dan tujuan bagi siswa atau peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, segala sesuatu dapat kita lihat dari proses awal, pertengahan atau prosesnya dan yang terakhir tercapai tidaknya tujuan yang telah diharapkan.

Daftar Pustaka

Hamruni, Edutainment dalam Pendidikan Islam, Yogyakarta: Fakultas UIN Sunan  Kalijaga, 2009.

Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif-Menyenangkan, Yogyakarta : Fakultas UIN Sunan Kalijaga, 2009.

Haris Mudjiman,”Belajar Mandiri”, Surakarta: LPP UNS, 2008.

http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/12/28/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-kinestetik/

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2012 in pendidikan

 

bahasa dari sudut pandang sikologi

BAHASA

Referensi:

Passer, M.W., & Smith, R.E. (2007). Psychology. The Science of Mind and Behavior. 3rd Ed. New            York: McGraw-Hill International Edition

 

Bhs adl “permata dalam mahkota kognisi” (Pinker, 2000) dan “esensi manusia” (Chomsky, 1972). Berpikir, penalaran dan problem solving kebanyakan melibatkan bhs.

 

Pengertian bhs:

sebuah sistem simbol-simbol dan aturan untuk menggabung-gabungkan simbol ini sedemikian rupa sehingga menghasilkan pesan dan makna yang jumlahnya tak terbatas.

 

Ilmu yang mempelajari aspek psikologis bhs: psikolinguistik— bgmn orang memahami, memproduksi dan memperoleh bhs

 

bhs mempunyai fungsi adaptif, yi:

  1. mempermudah kerjasama sosial
  2. memungkinkan orang melakukan transmisi pengetahuan
  3. alat untuk belajar

 

Properti /Unsur-Unsur Bhs

  1. simbol: suara, karakter tertulis atau sistem simbol yang lain, misal gerakan tangan
  2. struktur: grammar, sintaks
  3. makna: semantik
  4. generativity: simbol bhs dpt dikombinasikan sehingga menghasilkan pesan  yang jumlahnya tak terbatas dan memiliki makna baru
  5. displacement: menunjuk pada fakta bhw bhs memungkinkan kita mengkomunikasikan suatu peristiwa dan objek yang sec fisik tidak hadir

 

Aspek  psikologis dalam bahasa (psikolinguistik)

 

  1. pemahaman dan produksi bhs

 

-         bottom-up processing: unsur-unsur stimulus dianalisa dan kmd dikombinasikan untuk menghasilkan persepsi yang utuh

-         top-down processing: informasi sensoris diinterpretasikan sejalan dengan pengetahuan, konsep, ide-ide dan harapan yang sudah ada

-         pragmatik (pengetahuan tentang aspek-aspek praktis dalam penggunaan bhs): konteks sosial bhs membantu memahami apa yang dikatakan orang lain dan membantu memastikan bhw orang lain memahami perkataan kita

 

  1. Perolehan bhs: bgmn mns memperoleh kemampuan berbahasa?

 

-         Dasar biologis: menurut Noam Chomsky manusia lahir telah dibekali dg LAD (Language Acquisition Device), yaitu mekanisme biologis bawaan yang berisi aturan-aturan umum gramatikal yang ada pada semua bhs

 

-         proses belajar sosial: Jerome Bruner (1983) mengemukakan istilah LASS (Language Acquisition Support System), yaitu faktor-faktor di lingkungan sosial yang mempermudah belajar bhs

 

-         developmental timetable and sensitive periods : perolehan bhs dipengaruhi oleh jadwal perkembangan dan paparan bhs yang diterima pada masa peka (masa kanak-kanak awal hinggaa masa pubertas)

 

 

hubungan berpikir dengan bahasa

-         bhs mempengaruhi bagaimana kita berpikir dan

-         seberapa baik kita berpikir dalam bidang tertentu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in Uncategorized

 

INSTRUMEN STANDAR PROSES

INSTRUMEN STANDAR PROSES

Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi

SMP-SEKOLAH STANDAR NASIONAL (SSN)

 

 

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

DIREKTORAT PEMBINAAN SMP

 

 

JAKARTA, TAHUN 2010


 

  1. II.      STANDAR PROSES

NO

KOMPO-NEN

ASPEK

IINDIKATOR SNP

NO

ITEM PERTANYAAN/PERNYATAAN SNP (IKKM)

SKOR

1 Perencanaan Proses Pembelajaran
  1.  

Perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus

  1. Dasar-dasar perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP
1 Dasar-dasar yang dipergunakan untuk membuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus untuk semua mapel SNP di sekolah adalah: (1) SKL, (2) SI, dan (3) panduan penyusunan KTSP, yaitu telah memenuhi:

  1. 3 unsur
  2. 2 unsur
  3. 1 unsur
  4. Tidak ada
 
   
  1. Perencana pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP oleh guru sendiri
2 Jumlah guru yang membuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus secara sendiri-sendiri dari semua mata pelajaran SNP sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
     
  1. Perencana pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP MGMP sekolah
3 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus dengan cara berkelompok dalam sebuah sekolah (MGMP sekolah) dari semua mata pelajaran atau sesuai rumpunnya sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
     
  1. Perencana pengembangan atau penyusunan silabus mapel SNP MGMP sekolah
4 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan silabus dengan cara berkelompok dari beberapa sekolah (MGMP kabupaten/kota) dari semua mata pelajaran sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25%/tidak ada
 
     
  1. 5.  Merencanakan/mengmengembangkan silabus mapel SNP sama dengan silabus yang telah disusun oleh pusat
5 Sekolah merencanakan/mengembangkan silabus yang sama dengan silabus yang telah disusun oleh pusat sebanyak:

  1. ≤ 25 %/tidak ada
  2. (26-50)%
  3. (51-75)%
  4. (76-100)%
 
     
  1. 6.  Silabus SNP disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
6 Perencanan atau pengembangan silabus disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. b.    Tidak
 
     
  1. 7.  Disahkan oleh Kepala Dinas Kab/Kota
7 Perencanan atau pengembangan silabus disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. Tidak
 
    2.

Perencanaan pengembangan atau penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

1. Ketentuan perencanaan penyusunan atau pengembangan RPP mapel SNP

 

8 Ketentuan-ketentuan dalam pembuatan RPP mapel SNP secara lengkap dan sistematik yaitu berisi:  (1) Identitas mata pelajaran; (2) Standar Kompetensi (SK); (3) Kompetensi Dasar (KD); (4) Indikator Pencapaian kompetensi; (5) Tujuan Pembelajaran; (6) Materi ajar; (7) Alokasi waktu; (8) Metode Pembelajaran; (9) Kegiatan Pembelajaran; (10) Penilaian hasil belajar; (11) Sumber belajar, sekolah telah memenuhi sebanyak:

  1. ≥ 10 mapel
  2. 7-9 mapel
  3. c.    4-6 mapel
  4. d.    ≤ 3 mapel
 
    2. Perencana pengembangan atau penyusunan RPP mapel SNP oleh guru sendiri 9 Jumlah guru yang membuat perencanaan pengembangan atau penyusunan RPP secara sendiri-sendiri dari semua mata pelajaran SNP sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
    3. Perencana pengembangan atau penyusunan RPP mapel SNP MGMP sekolah 10 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan RPP dengan cara berkelompok dalam sebuah sekolah (MGMP sekolah) dari semua mata pelajaran atau sesuai rumpunnya sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %/tidak ada
 
    4. Perencana pengembangan atau penyusunan RPP mapel SNP MGMP sekolah 11 Jumlah guru yang mebuat perencanaan pengembangan atau penyusunan RPP dengan cara berkelompok dari beberapa sekolah (MGMP kabupaten/kota) dari semua mata pelajaran sebanyak:

  1. (76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25%/tidak ada
 
     
  1. 5.            Merencanakan/mengmengembangkan RPP mapel SNP sama dengan silabus yang telah disusun oleh pusat
12 Sekolah merencanakan/mengembangkan silabus yang sama dengan RPP yang telah disusun oleh pusat sebanyak:

  1. ≤ 25 %/tidak ada
  2. (26-50)%
  3. (51-75)%
  4. (76-100)%
 
     
  1. 6.            RPP SNP disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
13 Perencanan atau pengembangan RPP disusun dibawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. b.    Tidak
 
     
  1. 7.            RPP disahkan oleh Kepala Dinas Kab/Kota
14 Perencanan atau pengembangan RPP disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota:

  1. Ya
  2. Tidak
 
   
  1. 3.  

Prinsip- prinsip penyu-sunan RPP

1. Prinsip perbedaan individu siswa 15 Dalam susunan/pengembangan tujuan, metode, dan rencana pelaksanaan pembelajaran di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah mencantumkan atau memuat cara-cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi (kelompok) siswa masing-masing, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      2. Prinsip partisipasi aktif siswa 16 Dalam susunan/pengembangan metode dan pelaksanaan pembelajaran di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah memuat cara-cara pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan berpartisipasi, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
     
  1. 3.  Prinsip budaya membaca dan menulis
17 Dalam susunan/pengembangan metode, dan pelaksanaan pembelajaran serta penilaian hasil belajar  di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah memuat strategi/penugasan-penugasan, dll untuk menimbulkan budaya membaca dan menulis, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      4. Prinsip umpan balik dan tindak lanjut 18 Dalam susunan/pengembangan penilaian hasil belajar  di dalam RPP dari mapel-mapel SNP yang telah memuat strategi/cara dan kegiatan umpan balik dan rencana tindak lanjut kepada siswa atau oleh gurunya sendiri, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      5. Prinsip keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber bahan 19 Terdapat keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber bahan dalam susunan RPP dari mapel-mapel SNP, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      6. Prinsip penerapan teknologi informasi dan komunikasi 20 Dalam menyusun/membuat RPP beserta rencana implementasi serta pengkomunikasian dengan pihak-pihak lain yang telah memuat TIK, yaitu:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
    4.

Bahan Ajar

1. Kesesuaian/relevansi 21 Kesesuaian antara isi bahan ajar terhadap tuntutan silabus dalam pengembangan RPP:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
      2. Kuantitas terpenuhi 22 Kecukupan bahan ajar yang dipergunakan dalam pembuatan RPP:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      3. Kedalaman materi 23 Luasan/kedalaman bahasan (banyaknya materi) bahan ajar yang dipergunakan dalam pembuatan RPP dilihat dari cakupan SKL, SK, KD, dan IK telah memenuhi:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      4. Variasi/jenis 24 Rata-rata jenis-jenis (variasi) bahan ajar yang dipergunakan dalam pembuatan RPP untuk tiap mata pelajaran adalah:

  1. ≥  5 jenis
  2. 4 jenis
  3. 3 jenis
  4. < 3 jenis
 
      5. Keterjangkauan 25 Tingkat keterjangkauan/kemampuan sekolah/guru dalam pengadaan bahan-bahan ajar untuk pembuatan RPP:

  1. 76-100)% terjangkau
  2. (51-75)% terjangkau
  3. (26-50)% terjangkau
  4. ≤ 25 % terjangkau
 
2 Pelaksanaan Proses Pembelajaran
  1. 1. 

Persyaratan pelaksanaan proses pembela-jaran

1. Rombongan belajar: 32 siswa 26 Jumlah siswa per rombongan belajar rata-rata adalah:

  1. 32 anak
  2. Kurang atau lebih besar dari 32 anak
 
      2. Beban kerja minimal guru: 24 jam/minggu 27 Rata-rata beban kerja guru:

  1. ≥ 24 jam/minggu
  2. 18-23 jam/minggu
  3. 14-17 jam/minggu
  4. ≤ 14 jam/minggu
 
      3. Buku teks pelajaran: (a) ditetapkan bersama dan sesuai Permendiknas; (b) ratio 1:1 (per mapel per siswa); (c) buku panduan guru, referensi, pengayaan, dll 28 Buku teks pelajaran yang dipergunakan dalam pelaksanaan pembelajaran memenuhi ketentuan pemenuhan buku tekas:

  1. 3 item
  2. 2 item
  3. 1 item
  4. Tidak memenuhi semua item
 
      4. Pengelolaan kelas tepat / sesuai tuntutan kompetensi, dalam hal: pengaturan duduk siswa, intonasi/volume suara guru, tutur kata, ketertiban PBM, penguatan, umpan balik, penghargaan, sanksi, penggunaan waktu,dll 29 Jumlah guru yang merencanakan pembelajaran memenuhi ketentuan-ketentuan pengelolaan kelas, yaitu sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      5. Jumlah rombongan belajar 30 Sekolah memiliki jumlah rombongan belajar sampai dengan tahun terakhir adalah:

  1. Sesuai ketentuan Permendiknas No 24/2007 tentang Standar Sarpras
  2. Tidak sesuai ketentuan Permendiknas No 24/2007 tentang Standar Sarpras
 
   
  1. 2.     

Pelaksanaan Pembela-jaran

1. Kegiatan pendahuluan 31 Jumlah guru yang melaksanakan pembelajaran dan telah memenuhi langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan yaitu penyiapan siswa, pertanyaan, penjelasan tujuan dan penjelasan materi pembelajaran, sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      2. Kegiatan inti 32 Jumlah guru yang melaksanakan pembelajaran dan telah memenuhi langkah-langkah dalam kegiatan inti yaitu (a) eksplorasi: melibatkan siswa, memfasilitasi belajar siswa, beragam pendekatan; (b)  elaborasi: pembiasaan siswa, pengembangan diri/terstruktur atau mandiri, fasilitasi berprestasi/unjuk kerja siswa dll; (c) konfirmasi: umpan balik, variasi klarifikasi hasil siswa, dan fasilitasi refleksi/pengalaman bermakna, sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      3. Kegiatan penutup (merangkum, penilaian, umpan balik, tindak lanjut, rencana berikutnya) 33 Jumlah guru yang melaksanakan pembelajaran dan telah memenuhi langkah-langkah dalam kegiatan penutup yaitu merangkum, penilaian, umpan balik, tindak lanjut, rencana berikutnya, sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
3 Penilaian Hasil Belajar 1.

Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar

1. Keterlaksanaan penilaian hasil belajar 34 Keterlaksanaan (proses) penilaian hasil belajar oleh sekolah (guru dan satuan pendidikan) berdasarkan ketentuan-ketentuan yaitu untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran telah memenuhi:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      2. Pemenuhan ketentuan pelakdsanaan penilaian hasil belajar 35 Pemenuhan ketentuan-ketentuan yaitu dilakukan secara konsisten, sistematis dan terprogram dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukur sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, portofolio dan penilaian diridalam pelaksanaan penilaian hasil belajar oleh sekolah (guru dan satuan pendidikan) telah memenuhi:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
      3. Penggunaan/implementasi Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran 36 Pelaksanaan (proses) penilaian hasil belajar oleh sekolah (guru dan satuan pendidikan) telah memenuhi  ketentuan-ketentuan dalam Permendiknas No 20/2007 tentang Standar Penilaian:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
4 Pengawasan Proses Pembelajaran 1.

Peman-tauan

1. Tahapan pemantauan 37 Sekolah melaksanakan pentahapan pemantauan proses pembelajaran yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran, yaitu telah memenuhi:

  1. 3 tahapan
  2. 2 tahapan
  3. 1 tahapan
  4. Tidak melaksanakan
 
      2. Strategi pemantauan 38 Sekolah melaksanakan pemantauan proses pembelajaran dengan strategi atau cara-cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi, memenuhi:

  1. ≥ 7 cara
  2. 4-6 cara
  3. 2-3 cara
  4. 1 cara atau tidak ada
 
      1. Pelaksana pemantauan 39 Pelaksanaan pemantauan proses pembelajaran dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan, yaitu memenuhi:

  1. kepala dan pengawas satuan pendidikan
  2. kepala sekolah
  3. pengawas
  4. tidak ada
 
    2.

Super-visi

1. Pentahapan supervisi 40 Sekolah melaksanakan supervisi proses pembelajaran melalui 3 (tiga) tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran, telah mencapai:

  1. 3 tahapan
  2. 2 tahapan
  3. 1 tahapan
  4. d.    Tidak melaksanakan
 
      2. Strategi supervise 41 Sekolah melaksanakan supervisi proses pembelajaran dengan cara-cara yaitu: pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi, yaitu memenuhi:

  1. 4  cara
  2. 3  cara
  3. 2  cara
  4. d.    1 cara atau tidak ada
 
      3. Pelaksana supervisi 42 Pelaksanaan supervisi proses pembelajaran dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan:

  1. kepala dan pengawas satuan pendidikan
  2. kepala sekolah
  3. pengawas
  4. d.    tidak ada
 
    3.

Evaluasi

1. Tujuan evaluasi 43 Aekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran dengan tujuan untuk menentukan kualitas pembelajaran dan kinerja sekolah?

  1. Ya
  2. Tidak
 
      2. Strategi/cara 44 Sekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran dengan minimal dengan cara-cara: (i) membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dan standar proses (Permendiknas No 41/2007), (ii) mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru.

  1. > 2 cara
  2. 2 cara
  3. 1 cara
  4. Tidak ada
 
      3. Orientasi evaluasi 45 Sekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran dengan memusatkan pada:

  1. Kinerja guru
  2. Fasilitas media/bahan ajar dan metode
  3. Pengelolaan kelas
  4. Peranserta siswa dalam pembelajaran
 
    4.

Pela-poran

Pelaporan pembelajaran dan hasil  penilaian pembelajaran 46 Sekolah melaporkan hasil pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran kepada pemangku kepentingan yaitu:

  1. Guru/dewan guru, pengawas/Dinas Pendidikan Kab/Kota, Komite Sekolah
  2. Guru/dewan guru dan pengawas/Dinas pendidikan Kab/Kota
  3. Guru/dewan guru dan Komite Sekolah
  4. Guru/dewan guru
 
    Tindak lanjut pelaporan 47 Tindak lanjut pelaporan oleh sekolah terhadap hasil pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran kepada pemangku kepentingan:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 
    5.

Tindak lanjut

  1. Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar
48 Tindak lanjut dari hasil pengawasan oleh pemangku kepentingan melalui:

  1. 3 cara
  2. 2 cara
  3. 1 cara
  4. Tidak ada
 
     
  1. Teguran yang bersifat mendidik terhadap guru yang belum memenuhi standar
49 Selama satu tahun terakhir hasil pengawasan oleh pemangku kepentingan yang ditindaklanjuti adalah sebanyak:

  1. 76-100)%
  2. (51-75)%
  3. (26-50)%
  4. ≤ 25 %
 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in manajemen

 

METODE-METODE TAFSIR ALQURAN

Oleh: Prof. Dr. H. Maragustam Siregar, M.A.

A. PENDAHULUAN

Seseorang tidak mungki berarti dengan ajaran-ajaran Alquran, terkecuali sesudah kita membaca Alquran, mengetahui isinya. prinsip-pnnsip yang ditampungnya. Hal ini tidaklah mungkin dicapai melainkan deingan mengetahui apa yang ditunjuki oleh lafadh-lafadh al-qur’an. Dan inilah yang kita namakan Ilmu Tafsir. Apalagi seseorang ingin mendalami isi Alquran melalui tafsir, ia harus mengerti bagaimana metode mufassir tersebut sewaktu menulis karyanya.

 

Karenanya dapatlah kita menetapkan, bahwa tafsirlah anak kunci perbendaharaan isi Alquran yang diturunkan untuk memperbaiki keadaan manusia, melepaskan manusia dari kehancuran. Tanpa tafsir, tidaklah mungkin kita sampai kepada perbendaharaan isi Alquran walaupun kita dapat membacanya dengan segenap rupa qiraahnya.[1]

B. PENGERTIAN TAFSIR

Menurut bahasa Tafsir ialah al-fasr dan tabyiin (menjelaskan atau menerangkan) atau menyingkap dan menampakkan makna yang abstrak. Makna inilah yang diherikan terhadap kalimat tafsir dalam QS. AI-­Furqan (25): 33.

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

Di dalann istilah, tafsir itu bermakna “Suatu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang Al-qur’anul Karim dari segi dalalahnya kepada yang dikehendaki Allah sekedar yang dapat disanggupi manusia”. Perkataan di dalamnva dibahas tentang keadaan-keadaan al-qur’an memberi pengertian bahwa ilmu-ilmu yang membahas tentang keadaan-­keadaan yang lain, tidak masuk ke dalam bidang tatsir. Perkataan “dari segi dalalahnya kepada yang dikehendaki Allah”, mengeluarkan ilmu-ilmu yang membahas tentang keadaan-keadaan Al-qur’an dari jihad yang bukan jihad dalalahnya, seperti ilmu qiraat yang membahas tentang keadaan-keadaan A1-qur’an dari segi cara menyebutnya, dan seperti ilmu rasmi al-Usmani yang membahas keadaan-keadaan al-qur’an dan segi cara menulis lafadh-lafadhnya. Perkataan menurut “kemampuan sekedar kesanggupan manusia” memberikan pengertian bahwa tidaklah dipandang suatu kekurangan lantaran tidak dapat mengetahui makna-makna yang mutasyabihah dan tidaklah dapat mengurangi nilai tafsir lantaran tidak mengetahui apa yang sebenarnya Allah kehendaki.2

Tafsir menurut istilah, sebagaimana didefinisikan Abu Hayyan ialah Ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafad-lafad Qur’an, petunjuk­petunjuknya, hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dari makna-makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.3 Menurut az-Zarkasyi bahwa Tafsir ialah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya.’

C. MACAM TAFSIR BERDASARKAN SUMBERNYA

1. Tafsir bil ma’tsur

Tafsir bil ma’tsur adalah rangakain keterangan yang terdapat dalam al­qur’an, sunah Nabi saw, kata-kata sahabat atau tabi’in sebagai keterangan atau penjelasan maksud dari Allah (firman Allah), yaitu penafsiran Al-qur’an dengan Assunah Nabawiyah. Dengan demikian maka tafsir bil ma’tsur adalah tafsir Al-qur’an dengan Al-qur’an, penafsiran Al-qur’an dengan as-sunah atau penafsiran Alqur’an menurut atsar yang timbul dari kalangan sahabat, atau tabi’in. Contoh penerapannya dapat dilihat sewaktu membahas tentang Tafsir Bil Ma’tsur.

Kedua macam tafsir tersebut di atas yaitu penafsiran al-qur’an dengan al­qur’an dan penfsiran al-qur’an dengan sunah merupakan jenis tafsir yang paling luhur dan tidak diragukan untuk diterima. Bentuk penafsiran yang pertama atau penafsiran al-qur’an dengan al-qur’an dikatakan penafsiran paling luhur karena Allah Ta’ala lebih mengetahui maksudnya dari pada yang lainnya. Demikian juga bentuk tafsir yang kedua yaitu penafsiran Al-qur’an dengan Sunah itu dikatakan tafsir paling luhur karena Rasul saw sungguh telah dijelaskan tentang urgensi dan fungsinya oleh Al-qur’an itu sendiri, di mana ditegaskan bahwa Rasul adalah berfungsi sebagai penegas dan penjelas Al-qur’an. Dalam QS. Al-Nahl (16):44 disebutkan:

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Apa yang disampaikan oleh Rasul saw baik berupa penjelasan maupun keterangan yang sanadnya sahih dan benar maka hal demikian adalah termasuk yang tidak diragukan lagi akan kebenarannya dan patut untuk dijadikan pegangan.

Al-quran ditafsirkan oleh  sahabat. Tafsir ini juga termasuk tafsir yang muktamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima karena sahabat adalah yang pernah berkumpul dengan Nabi saw dan mereka mengambil dari sumbemya yang asli, mereka menyaksikan turunnya al-qur’an dan mengetahui asbab al-nuzul. Mereka mempunyai tabiat jiwa yang murni, fitrah yang lurus lagi pula berkedudukan yang tinggi dalam hal kefasihan dan kejelasan berbicara. Mereka lebih memiliki kemampuan dan memahami kalam Allah. Mereka mengetahui rahasia-rahasia al-qur’an sudah tentu akan melebihi orang lain yang manapun juga. Al-Hakim berkata:” Bahwa tafsir shahabat yang menyaksikan wahyu dan turunnya Al-qur’an, kedudukan hukumnya adalah marfu’.” Artinya tafsir tersebut mempunyai kedudukan sebagaimana kedudukan hadis nabi yang silsilahnya sampai kepada nabi. Karena itu maka tafsir sahabat adalah termasuk ma’tsur.

Adapun tabi’in, kedudukan tafsirnya ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama ada yang berpendapat, tafsir tabi’in itu termasuk tafsir ma’tsur karena sebagian pengambilannya secara umum dari sahabat. Sebagian ulama berpendapat bahwa tafsir tabi’in adalah termasuk tafsir dengan Ro’yu atau akal, dengan pengertian bahwa kedudukannya sama dengan kedudukan para mufassir lainnya (selain nabi dan shahabat). Mereka menafsirkan Al­qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan tidak berdasarkan pertimbangan dari atsar (hadis).

Sebab-sebab kelemahan riwayat dengan Ma’tsur. Penafsiran Al-qur’an dengan Al-qur’an dan penafsiran Al-qur’an dengan Sunah yang shahih lagi marfu’ sampai kepada Nabi saw adalah tidak perlu diragukan lagi untuk diterima dan tidak diperselisihkan. Dan keduanya adalah tafsir yang mempunyai kedudukan yang tinggi. Adapun Alqur’an dengan ma’tsur  shahabat atau tabi’in ada beberapa kelemahan dari berbagai segi:

  1. Campur baur antara yang sahih dan tidak sahih, sahabat atau tabi’in dengan tidak mempunyai sandaran dan ketentuan, yang akan menimbulkan pencampur-adukan antara yang hak dan batil.
  2. Riwayat-riwayat tersebut ada yang dipengaruhi oleh cerita-cerita israiliyaat dan khurafaat yang bertentangan dengan akidah islamiah.
  3. Ketika di kalangan sahabat ada golongan yang ekstrim, mereka mengambil beberapa pendapat dan membuat-buat kebatilan yang dinisbatkan kepada sebagian sahabat.
  4. Musuh-musuh Islam dari orang-orang zindiq ada yang mengicuh sahabat dan tabi’in sebagaimana mereka mengicuh Nabi saw perihal sabdanya, hal ini dimaksudkan untuk menghancurkan agama dengan jalan menghasut dan membuat-buat hadis. Tentu hal ini perlu diwaspadai.

2. Tafsir Diroyah (ro’yu)

 

Yang dimaksud ro’yu di sisni ialah ijtihad yang didasarkan pada dasar-­dasar yang sahih, kaidah yang murni dan tepat, bisa diikuti serta sewajarnya diambil oleh orang yang hendak mendalami tafsir Al-qur’an atau mendalami pengertiannya. Tidaklah yang dimaksud dengan ro’yu atau pendapat di atas semata-mata dengan ro’yu atau hawa nafsu, berdasarkan kata hati atau kehendaknya.

Berdasarkan pengertian di atas tafsir  ro’yu terbagi kepada dua macam, yaitu tafsir yang mahmuud (terpuji) dan tafsir yang madzmuum (tercela).

Tafsir mahmuud ialah tafsir yang sesuai dengan tujuan syara’, jauh dari kejahilan dan kesesatan, sejalan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta berpegang teguh pada uslub-uslubnya dalam memahami teks al-qur’an. Barang siapa yang menafsirkan Al-qur’an menurut ro’yunya atau ijtihadnya dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut serta berpegang pada makna-makna Al-qur’an maka penafsirannya dapat diambil serta patut dinamai dengan tafsir mahmuud atau tafsir masyru’ (berdasarkan syari’at).

Sedangkan Tafsir Madzmum apabila Al-qur’an ditafsirkan tanpa ilmu, atau menurut seenaknya dengan tidak mengetahui dasar-dasar bahasa dan syari’at, atau kalam Allah dan ditafsirkan menurut pendapat yang salah lagi sesat.’

Hal-hal yang harus diperhatikan apabila seseorang menggunakan Tafsir Bir-­Rar’yi yakni:

  1. Dikutip dari Rasul SAW dengan memperhatikan hadis-hadus yang dhaif atau hadis  maudhu’.
  2. Mengambil dari pendapat shahabat dalam hal tafsir karena kedudukan mereka adalah marfu’.
  3. Mengambil berdasarkan bahasa secara mutlak karena al-qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dengan membuang alternatif yang tidak tepat dalam bahasa Arab.
  4. Pengambilan berdasarkan ucapan yang populer di kalangan orang Arab serta sesuai dengan ketentuan syara’. 6

Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menafsirkan Al-qur’an dengan ro’yu kepada dua pendapat:

  1. Tidak diperbolehkan menafsirkan Al-qur’an dengan ro’yu karena tafsir ini harus bertitik tolak dari penyimakan, itulah pendapat sebagian ulama. Pendapat yang membolehkan penafsiran dengan ro’yu dengan syarat harus memenuhi persyaratan-persyaratan, ini adalah pendapat dari kebanyakan ulama.

Muhammad Aly Ash-Shobuny, Pengantar Studi Al-Qur’ann, Al-Ma’arif, bandung, 1987, hat. 217.

6 lhid

Ulama yang tidak membolehkan menafsirkan dengan ro’yu dengan alasan sebagai berikut:

  1. Tafsir dengan ro’yu adalah membuat-buat (penafsiran Al-qur’an dengan tidak berdasarkan ilmu). Karena itu tidak dibenarkan berdasarkan firman Allah:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (QS Al-Baqarah [2]: 169).

 

  1. Sebuah hadis tentang ancaman terhadap orang yang menafsirkan dengan ra’yu, yaitu sabda Rasul saw “Berhati-hatilah dalam mengambil hadisku kecuali benar-benar anda telah mengetahuinya. Siapa yang mendustakan secara sengaja maka bersedialah bertempat di neraka. Dan barang siapa menafsirkan menurut pendapatnya (ro’yunya) maka hendaklah dia bersedia menempatkan diri di neraka pula” (HR Turmudzy). Firman Allah swt:

 

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS An-Nahl [16]: 44).

 

  1. Tugas menjelaskan Al-qur’an dikaitkan kepada Rasul, karena itu dapatlah dipahami bahwa selain dari rasul tidak ada hak sedikitpun untuk menjelaskan makna Al-qur’an.
  2. Para sahabat dan tabi’in merasa berdosa bila menafsirkan Al-qur’an dengan ro’yunya, sehingga Abu Bakar Shidiq mengatakan : “Langit manakah yang akan menauingiku dan bumi manakah yang akan melindungiku bila aku tafsirkan A1-qur’an menurut ro’yuku atau aku katakan tentangnya sedang aku sendiri belum mengetahui betul”.

Ulama yang membolehkan tafsir dengan ro’yu adalah golongan jumhur dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Allah telah menganjurkan kita untuk memperhatikan dan mengikuti Al­qur’an seperti firmanNya:

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan membawa berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang­-orang yang mempunyai fikiran”. (QS Shad [38]: 29). Tadabbur dan tadzakkur tidak bisa tanpa mendalami rahasia-rahasia al-qur’an dan berusaha keras dalam memahami artinya.

 

  1. Allah membagi manusia dalam dua klasifikasi, kelompok awam dan kelompok ulama. Allah memerintahkan untuk mengembalikan segala persoalan kepada ulama yang bisa mengambil dasar hukum. Firman Allah:

 

 

“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka. (QS An-Nisa: 83).

Makna istimbat pada ayat tersebut ialah menggali makna-makna yang mendetail dengan penuh pemikiran. Langkah tersebut dapat dicapai dengan ijtihad dan menyelami rahasia-rahasia Al-qur’an. Mereka berpendapat : ”Bila penafsiran menurut ijtihad tidak dibenarkan maka ijtihad itu sendiri tidak diperbolehkan, akibatnya hukum banyak yang terkatung-katung, dan ini tidak karena seorang mujtahid dalam hukum syara’ mendapat pahala, baik benar maupun salah dalam ijtihadnya, selama ia telah mencurahkan segala kemampuannya dan membuktikan kesungguhannya untuk mencapai yang hak dan brnar.

  1. Para sahabat, mereka membaca Alqur’an dan ternyata mereka berbeda pendapat dalam cara penafsirannya. Dapat dimaklumi, karena mereka tidak mendengar seluruh yang mereka ucapkan tentang penafsiran Alqur’an dari Nabi saw.
  2. Nabi saw mendoakan Ibnu Abbas dengan sabdanya : “Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarilah ia tentang ta’wil”. Bila yang dimaksud dengan ta’wil di sini hanya terbatas pada penyimakan dan kutipan sebagaimana Al-qur’an, niscaya tidak ada faedahnya dalam mengkhususkan doa untuk Ibnu Abbas. Dengan demikian, dinyatakan bahwa ta’wil adalah penafsiran dengan ro’yu atau ijtihad.7

C.  MACAM TAFSIR BERDASARKAN METODENYA

Macam tafsir berdasarkan metodenya ada empat macam yaitu (1) tafsir tahlily, (2) tafsir  Ijmaly, (3) tafsir muqaaran, (4) tafsir maudhu’i (tematik).

Tafsir Tahlily yaitu metode menafsirkan Al-qur’an dengan cara mengkaji ayat-ayat Al-qur’an dari segala segi dan makna, menafsirkan ayat demi ayat, surah demi surah, sesuai dengan urutan dalam mushaf usmani. Untuk itu perlu menguraikan kosa kata dan lafadh, menjelaskan arti, sasaran yang dituju, kandungan ayat yaitu unsur ijaz, balaghah dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang diistimbatkan dari ayat, yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, aqidah, perintah dan seterusnya serta mengemukakan kaitan antara ayat dan relevansinya dengan surah sebelum dan sesudahnya, untuk itu merujuk kepada sebab-sebab turunnya ayat hadis rasul, sahabat serta tabi’ in.

Dalam karya Nashiruddin Baidan8 secara panjang lebar dia menyatakan bahwa penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) atau rayi (pemikiran). Di antara kitab tafsir tahlili yang mengambil bentuk Al-ma’tsur ialah Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayat Al-Qur’an karangan Ibn Jarir al­Thabari (w. 310 H), Tafsir Al-Qur’an al-’Azhim (terkenal dengan Tafsir Ibn Katsir) karangan Ibn Katsir (w. 774 H), dan Al Durr al-Mantsur fi al-tafsir bi al­Ma-tsur karangan al-Suyuthi (w. 991 H). Adapun tafsir Tahlili yang mengambil bentuk al-ra’yi antara lain: Tafsir al-Khazin karangan al-Khazin (w. 741 H), Al-Kasysyaf karangan Zamakhsyari (w. 538 H), Tafsir al-Manaar karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935 H)

Pola penafsiran yang diterapkan oleh para pengarang kitab-kitab tafsir yang dinukilkan di atas terlihat dengan jelas, mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara komperehensif dan menyeluruh, baik yang berbentuk al-ma’tsur maupu al-ra’yudalam penafsiran tersebut Al­Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surah demi surah secara berurutan, serta tak ketinggalan menerangkan asbab al-nuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan. Demikian pula ikut diungkapkan penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan Nabi saw, sahabat, tabi’in, tabiut  tabi’in dan para ahli tafsir lainnya dari berbagai disiplin ilmu seperti teologi, fiqh, bahasa, sastra, dan sebagainya, sehingga lahirlah berbagai corak penafsiran fiqh, sufi, fisafat, `ilmi, adabi wal  ijtima, dan lain-lain.

Di dalam tafsir bi-al-m’’tsur tetap ada analisis tapi sebatas adanya riwayat. Artinya, penafsiran akan berjalan terus selama riwayat masih ada, jika riwayat habis, maka penafsiran berhenti pula. Berbeda halnya dengan tafsir bi al-ra’yu, dimana penafsiran akan berjalan terus, ada atau tidak adanya riwayat. Hal itu 10 dimungkinkan karena fungsi riwayat di dalam tafsir bi al-ra’yi hanya sebagai legitimasi bagi suatu penafsiran bukan sebagai titik tolak atau subjek.

Di dalam tafsir bi al-ra’yu yang menggunakan metode analitis ini para mufasir relatif memperoleh kebebasan, sehingga mereka agak lebih otonom berkreasi dalam memberikan interprestasi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an selama masih dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara’ dan kaidah-kaidah penafsiran yang mu’tabar.

Di dalam tafsir tahlili, si mufasir relatif punya banyak peluang untuk mengemukakan ide-ide dan gagasan-gagasan berdasarkan keahliannya sesuai dengan pernahaman ayat. Metode tahlili, tidak memerlukan perbandingan antara ayat dengan ayat, antara ayat dengan hadis, maupun antara berbagai pendapat ulama dalam menafsirkan suatu ayat. Metode analitis amat berbeda dari metode tematik, khususnya dari sudut penetapan tema-tema atau topik-topik yang akan dibahas. Metode analitis menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan dari ayat pertama sampai ayat terakhir dalam mushhaf tanpa memerlukan tema atau topik bahasan sebagai terlihat di dalam kitab-kitab tafsir analitis yang telah disebutkan di muka.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Analitis

1. Kelebihan

a. Ruang lingkup yang luas

 

Metode ini dapat digunakan oleh mufasir dalam dua bentuknya: ma’tsur dan ra’yi. Bentuk al-ra’yi dapat lagi di kembangkan dalam berbagai corak penafsiran sesuai dengan keahlian masing-masing mufasir. Ahli bahasa, untuk menafsirkan Al-Qur’an dari pemahaman kebahasaan, seperti Tafsir al-Nasafi karangan Abu al-Su’ud, Ahli qiraat seperti Abu Hayyah, menjadikan qiraat sebagai titik tolak dalam penafsirannya,  ahli filsafat, kitab tafsirnya di dominasi oleh pemikiran­-pemikiran filosofis seperti Tafsir al-Fakhr al-Razi. Ahli Sains dan teknlogi menafsirkan Al-Qur’an dari sudut teori-teori ilmiah atau sains seperti  Tafsir Al-Jawahir karangan al-Thanthawi al-Jauhari.

  1. Memuat berbagai ide

Pola penafsiran metode ini dapat menampung berbagai ide yang terpendam di dalam benak mufasir. Dibukanya pintu selebar-lebar bagi mufasir untuk mengemukakan pemikiran-pemikirannya dalam menafsirkan Al-Qur’an, maka lahirlah berbagai kitab tafsir yang berjilid-jilid seperti Tafsir al-Thabari (15 jilid), Tafsir Ruh al­-Ma’ani (16 jilid), Tafsir al-Fakhr al Ra-zi (17 jilid) Tafsir al-Maraghi (10 jilid) dan lain-lain.

2. Kekurangan

a. Menjadikan petunjuk Al-Qur’an parsial

Metode analitis juga dapat membuat petunjuk Al-Qur’an bersifat parsial atau terpecah-pecah, sehingga terasa seakan-akan Al-Qur’an memberikan pedoman secara tidak utuh dan tidak konsisten karena penafsiran yang diberikan pada suatu ayat berbeda dari penafsiran yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya.

b. Melahirkan penafsiran subjektif

Metode analitis, sebagaimana telah disebut di muka, memberikan peluang yang luas sekali kepada musafir untuk mengemukakan ide-ide dan pemikirannya. Sehingga, kadang-kadang mufasir tidak sadar bahwa dia telah menafsirkan Al-Qur’an secara subjektif, dan tidak mustahil pula ada di antara mereka yang menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan kemauan hawa nafsunya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang berlaku.

  1. Masuk pemikiran israiliaat

Dikarenakan metode tahlili tidak membatasi mufasir dalam mengemukakan pemikiran-pemikiran tafsirnya, maka berbagai pemikiran dapat masuk ke dalamnya, tidak terkecuali pemikiran israiliaat.

Urgensi Metode Analitis

Keberadaan metode ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam melestarikan dan mengembangkan khazanah intelektual Islam, khususnya dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Berkat metode ini, maka lahir karya-karya tafsir yang besar. Berdasarkan kenyataan itu dapatlah dikatakan, urgensitas metode ini tak dipungkiri oleh siapa pun.

Dalam penafsiran Al-Qur’an, jika ingin menjelaskan kandungan firman Allah dari berbagai segi seperti bahasa, hukum-hukum fiqh, teologi, filsafat, sain, dan sebagainya, maka di sini metode tahlili atau analitis lebih berperan dan lebih dapat diandalkan daripada metode-metode yang lain.

2. Tafsir Ijmaly

Yaitu penafsiran Alqur’an secara singkat dan global tanpa uraian panjang lebar, dengan cara mufassir menjelaskan sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal lain selain anti yang dikehendaki. Hal ini dilakukan ayat demi ayat, surah demi surah, sesuai urutan mushaf, setelah itu mengemukakan inti dalam kerangka uraian yang mudah.

Diantara kelebihan dari metode Ijmaly ialah praktis dan mudah dipahami, bebas dari penafsiran israiliyaat, dan akrab dengan bahasa Al-Qur’an. Sedangkan diantara kelemahannya ialah menjadikan petunjuk AI-Qur’an bersifat parsial dan tidak ada ruangan untuk mengemukakan analisis yang memadai. 9

3. Tafsir Muqaran

Yaitu metode menafsirkan Al-qur’an dengan cara mengambil ayat Al­qur’an kemudian mengemukakan penafsiran para ulama tafsir.

4.  Tafsir Maudhu’iy

Yaitu metode menafsirkan Al-qur’an dengan cara menetapkan satu topik tertentu dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dari beberapa surat yang berbicara tentang topik tersebut, untuk kemudian dikaitkan satu dengan lainnya sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pendapat Al-qur’an.10 Karena pentingnya metode ini akan dibahas secara tersendiri.

C. Ilmu-ilmu Yang Dibutuhkan Bagi Mufassir

Seorang mufassir kitab Allah memerlukan beberapa macam ilmu pengetahuan yang harus dipenuhi sehingga is benar-benar ahli dalam bidang mufassir.

Para ulama telah menyebutkan tentang macam-macam ilmu yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir. Menurut As-Suyuthi sebagai berikut:

  1. Mengetahui bahasa arab dan ketentuan-ketentuannya (ilmu nahwu, sharaf, etimologi). Hal ini sangat penting bagi seorang mufassir, sebab bagaimana mungkin memahami ayat, tanpa mengetahui perbedaan kata dan susunan kalimat.
  2. Mengetahui ilmu balaghoh (ma’any, bayan, badi’) sangat penting dan diperlukan bagi orang yang hendak menafsirkan Al-qur’an karena ia harus menjaga atau memelihara bentuk kemu’jizatan.
  3. Mengetahui ushul fiqih (tentang khash, `am, mujmal, mufashal dan sebagainya), juga diperlukan oleh seorang mufassir dalam memahami Al-qur’an supaya tidak kelirumemahaminya, serta tidak terpeleset oleh kebodohan karena tidak tahu tentang ilmu-ilmu yang penting itu.
  4. Mengetahui asbabun nuzul.
  5. Mengetahui tentang nasikh dan mansukh.
  6. Mengetahui ilmu qiraat.
  7. ilmu mauhibah, yaitu ilmu yang diberi oleh langsung dari Allah. Ilmu yang diwariskan ole Allah kepada seseorang yang mengamalkan sesuai dengan ilmunya, serta Allah membukakan hati orang tersebut untuk memahami rahasia-rahasianya.

Syarat-syarat dari ilmu yang telah disebutkan tadi adalah untuk mewujudkan tafsir yang paling tinggi martabatnya. Tafsir yang paling tinggi martabatnya hanya dapat dicapai dengan kita melengkapi urusan-urusannya, yaitu:

a. Memahami hakekat lafal yang tunggal, yang terdapat di dalam al-qur’an dengan memperhatikan cara-cara ahli bahasa mempergunakan kalimat­-kalimat itu. Kebanyakan lafal-lafal Al-qur’an dipakai di mana Al-qur’an sedang diturunkan untuk beberapa makna. Kemudian sesudah itu berlalu beberapa masa maka lafal-lafal itu dipakai untuk makna-makna yang lain, umpamnya lafal ta’wil.

b. Memperhatikan uslub-uslub Al-qur’an. Seorang mufassir harus mengetahui alat, yang dengan alat itu dia dapat memahami uslub-uslub bahasa Arab yang tinggi. Untuk itu perlu ilmu i’rab dan ilmu asalib (ma’ani dan bayan).

c. Mengetahui keadaan-keadaan manusia. Allah telah menurunkan Al­qur’an dan menjadikannya sebagai kitab yang absah, di dalamnya diterangkan keadaan atau hal-hal yang tidak diterangkan dalam kitab lain. Di dalamnya diterangkan keadaan makhluk, tabiatnya, sunnah-­sunnah ketuhanan di dalam menciptakan manusia. Dan di dalamnya juga diterangkan kisah umat-umat yang telah lalu. Karenanya, perlulah orang memperhatikan isi Al-qur’an, memperhatikan pula keadaan perturnbuhan dan perkembangan manusia dari zaman ke zaman.

d. Mengetahui jalan-jalan Al-qur’an memberi petunjuk kepada manusia dengan Al-qur’an. Karenanya, wajiblah bagi seorang mufassir yang melaksanakan fardhu kifayah ini mengethui keadaan manusia di masa Nabi saw, baik dari bangsa arab maupun bangsa lain. Dan bahwasanya Nabi saw dibangkit Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia dan mendatangkan kebahagiaan kepada mereka.

e. Mengetahui sirah ( riwayat hidup Nabi saw dan sahabat), dan bagaimana keadaan sahabat, baik dalam bidang ilmu, dan bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah keduniaan dan keakhiratan.

 

E RINGKASAN

 

Berdasarkan sumbernya, tafsir ada dua macam yaitu tafsir ma’tsur dan ro’yu. Tafsir ma’tsur yaitu tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang sahih, sedang tafsir ro’yu adalah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya, mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istimbat) yang didasarkan pada ro’yu saja.

Berdasarkan metode pendekatannya, tafsir ada empat macam yaitu tahlily, ijmaly, muqaaran, dan maudhu’iy dan lain-lain. Dari berbagai tafsir dilihat dari segi metodenya tentu terdapat keunggulan masing-masing dan kelemahannya. Yang terpenting para pembaca dapat memahami bagaimana proses pemakaian sebuah metode tafsir.

Yogyakarta, 3 Oktober  2008

 

DAFTAR PUSTAKA

 Ali Hasan Al’Ardl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta, Rajawali, 1994.

 

M. Hashbi Ash-Shiddigy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Media-media Pokok Dalam Menafsirkan Al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta, 1972

 

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung, Mizan, 1994.

 

Manna ‘ al-Qathan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Litera Antarnusa, Bogor, 1994.

 

Muhammad Aly Ash-Shobuny, Pengantar Studi Al-Qur’an, AI-Ma’arif, Bandung, 1987.

 

Nashiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997.

 


[1]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in Uncategorized

 

Hukum Adat dalam Pembangunan Hukum Nasional

Hukum Adat  dalam Pembangunan Hukum Nasional

Sebagaiman disebutkan dalam bahasan terdahulu , bahwa tidak akan dipertentangkan antara Hukum Adat dan Hukum Modern . Dalam pembangunan hukum nasional Indonesia , ciri-ciri hukum modern harusnya dipenuhi. Kalau dipenuhi , bagaimana kedudukan hukum adat? Dalam hal ini hukum adat tidak dapat diabaikan begitu saja dalam pembentukan hukum nasional.Dalam seminar Hukum Adat dan Pembinaan Hukum Nasional , dirumuskan bahwa Hukum Adat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan –bahan Pembangunan Hukum Nasional yang menuju kepada unifikasi hukum yang  dan yang terutama akan dilakukan melalui pembuatan peraturan perundangan ,dengan tidak mengabaikan timbul/tumbuhnya dan berkembangnya hukum kebiasaan dan pengadilan dalam Pembinaan Hukum . Dengan Demikian Hukum Adat ditempatkan pada posisi penting dalam proses pembangunan hukum nasional.

Memperkembangkan unsure-unsur asli , unsure-unsur asing mungkin saja berguna bagi pembentukan hukum nasional , sehingga pada hakekatnya masalahnya adalah bagaimana peranan hukum adat (yang merupakan konk sistem nilai dan budaya )dalam pembentukan hukum nasional yang fungsional (yang kemudian dinamakan “Hukum Indonesia Modern “) (Soerjono Soekanto, Tahun 1976,h.119).

Untuk mengetahui peranan hukum adat dalam pembentukan/pembangunan hukum nasional , maka harus diketahui nilai-nilai sosial dan budaya yang menjadi latar belakang hukum adat tersebut , serta perannya masing masing yaitu: (Soerjono Soekanto,1976,h.200).

  1. Nilai –nilai yang menunjang pembangunan(hukum), nilai –nilai mana harus dipelihara dan malahan diperkuat .
  2. Nilai-nilai yang menunjang pembangunan (hukum ), apabila nilai-nilai tadi disesuaikan atau diharmonisir dengan proses pembangunan.
  3. Nilai-nilai yang menghambat pembangunan(hukum), akan tetapi secara berangsur –angsur akan berubah apabila karena faktor –faktor lain dalam pembangunan .
  4. Nilai-nilai yang secara definitif menghambat pembangunan (hukum)dan oleh karena itu harus dihapuskan dengan sengaja.

Dengan demikian berfungsinya Hukum Adat dalam proses pembangunan /pembentukan hukum nasional adalah sangat tergantung pada tafsiran terhadap nilai-nilai yang menjadi latar belakang hukum adat itu sendiri . Dengan cara ini dapat dihindari akibat negatif , yang mengatakan bahwa hukum adat mempunyai peranan terpenting atau karena sifatnya yang tradisional,maka Hukum Adat harus ditinggalkan .

Dalam kepustakaan memang dikemukakan adanya tiga golongan pendapat yang menyoroti  kedudukan hukum adat pada mas sekarang , yaitu:

  1. Golongan yang menentang Hukum Adat , yang memandang Hukum Adat , sebagia hukum yang sudah ketinggalan jaman yang harus segera ditinggalkan dan digantin dengan peraturan – peraturan hukum yang lebih modern .Aliran ini berpendapat bahwa hukum adat tak dapat memenuhi kebutuhan hukum di masa kini , lebih – lebih untuk masa mendatang sesuai dengan perkembangan modern .
  2. Golongan yang mendukung sepenuhnya terhadap hukum adat . Golongan ini mengemukakan pendapat yang sangat mengagung-agungkan Hukum Adat , karena hukum adat yang paling cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia sehingga oleh karenanya harus tetap dipertahankan terus sebagai dasar bagi pembentukan Hukum Nasional.
  3. Golongan Moderat yang mengambil jalan tengah kedua pendapat golongan diatas. Golongan ini mengatakan bahwa hanya sebagian saja dari pada hukum adat yang dapat dipergunakan dalam lingkungan Tata Hukum Nasional , sedangkan untuk selebihnya akan diambil dari unsur-unsur hukum lainnya . Unsur-unsur hukum adat yamg masih mungkin dipertahankan terus adalah berkenaan dengan masalah hukum kekeluargaan dan hukum warisan, sedangkan untuk lapangan hukum lainnya dapat diambil dari unsur-unsur bahan –bahan hukum yang berasal dari  luar, misal hukum barat.

Dari pendapat dari ketiga golongan tersebut , kami menyetujui pendapat golongan yang ketiga (golongan moderat), sebab memang dalam kenyataannya banyak ketentuan hukum adat yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman modern., akan tetepi yang perlu diperhatikan disini ialah bahwa asas- asas Hukum Adat bersifat universal harus tetap mendasari Pembinaan Hukum Nasionaldalam rangka menuju kepada tata hukum nasional yang baru, walaupun asaa-asas dan kaidah-kaidah baru akan lebih mendominasi hukum nasional, seperti apa yang dikatakan oleh Soetandjo Wignjosoebroto :” Hukum Nasional tak hanya hendak merefleksi pilihan atas kaidah- kaidah hukum suku/lokal atau hukum tradisional untuk menegakkan tertib sosial  masa kini, akan tetapi juga hendak mengembangkan kaidah-kaidah baru yang dipandang fungsional untuk mengubah dan membangun masyarakat baru guna kepentingan masa depan . Maka kalau demikian halnya , asas –asas dan kaidah-kaidah hukum baru akan banyak mendominasi hukum nasional “.

Kemudian dalam meninjau sumbangan Hukum Adat dalam pembentukan hukum nasional , perlu disimak  pula pandangan Paul Bohannan , yang menyatakan bahwa hukum itu timbul dari pelembagaan ganda , yaitu diberikannya suatu kekuatan khusus , sebuah senjata bagi berfungsinya pranata-pranata “adat istiadat “: perkawinan , keluarga, agama. Namun ,ia juga mengatakan bahwa hukum itu tumbuh sedemikian rupa dengan ciri dan dinamikanya sendiri. Hukum membentuk masyarakat yang memiliki struktur dan dimensi hukum  ; hukum tidak menjadi sekedar pencerminan, tetapi berinteraksi dengan pranata-pranata tertentu . Selanjutnya ia berpendapat bahwa hukum secara istimewa berada diluar fase masyarakat , dan proses inilah yang sekaligus merupakan gejala sebab dari perubahan sosial (Periksa. Mulyana W. Kusumah dan Paul S. Baut, 1988,h.198). Pandangan Bohannan tersebut berguna untuk menyangkal keunggulan peraturan hukum , untuk memahami sifat umum dari masyarakat-masyarakat yang tidak stabil atau mengalami kemajuan . Disamping itu juga merupakan abstraksi untuk merumuskan hakekat abadi hukum itu dengan pengandaian kebenaran yang belum pasti . Hukum tidak memiliki hakekat seperti itu tetapi mempunyai sifat historis yang dapat dirumuskan .

Sebagaiman penjelasan dimuka, yaitu bahwa Hukum Adat yang dibentuk pada “Law Energi society”mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan / Pembangunan Hukum Nasional(hukum modern). Kemudian timbullah pertanyaan , bagaimana  proses pembangunan (pembentukan )Hukum Nasional ditinjau dari pendekatan system dengan Hukum Adat sebagai salah satu input (masukkannya)?

s

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

SHOLAT DLUHA

KATA PENGANTAR

Agama islam adalah agama yang sangat banyak pemeluknya di Negara Indonesia. Yakni agama yang mempunyai rukun iman dan rukun islam sama halnya pada agama-agama lain. Akan tetapi di agama islam sangatlah berbeda tetapi mirip dengan agama yang lain. Mereka menyembah Alloh swt. Agama islam di turunkan oleh Alloh melalui utusanNya yakni nabi Muhammad saw. beliau di utus oleh Alloh hanya untuk menyempurnakan akhlaq manusia di muka bumi ini yakni melalui rukun-rukun tersebut.

Rukun iman ada 6 yakni iman kepada Alloh swt, iman kepada malaikat, iman kepada rosul, iman kepada kitab suci Al-Qur’an, iman kepada hari akhir dan iman kepada Qodo’ dan Qodar.

Sedangkan rukun islam ada 5 yakni Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan haji. Yang perlu di teknkan pada makalh ini yaitu tentang rukun islam lebih khususnya membahas tentang sholat. Bagi muslim di seluruh dunia wajib melaksanakan ibadah sholat wajib 5 waktu. Selain sholat wajib ada juga sholat sunnah dan jumlahnya sngat banyak. Shalat sunah yaitu shalat yang hukum pelaksanaannya sunah (dianjurkan). Apabila dilaksanakan Allah memberikan pahala dan keutamaan khusus melebihi orang Islam yang tidak melaksanakan shalat sunah. Di antara jenis shalat sunah terdapat shalat sunah yang dapat dilaksanakan secara berjamaah, munfarid, dan ada yang dilaksanakan berjamaah maupun munfarid, diantaranya :

SHALAT SUNAH BERJAMAAH

Shalat Idain Shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
• Shalat Istisqa Shalat untuk meminta hujan
• Shalat Kusuf –Khusuf Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan

SHALAT SUNAH DENGAN BERJAMAAH ATAU MUNFARID

• Shalat Tarawih Shalat sunah pada malam bulan ramadhan
• Shalat Witir Shalat sunah yang ganjil
• Shalat Dhuha Shalat sunah pagi hari
• Shalat Tahajud Shalat sunah malam hari untuk memohon keinginan
• Shalat Tasbih Shalat sunah diseratai zikir tasbih

SHALAT SUNAH MUNFARID

• Shalat Rawatib Shalat sunah yang mengiringi shalat fardu
• Shalat Tahiyatul Masjid Shalat ketika masuk masjid untuk menghormatinya
• Shalat Istikharah Shalat untuk meminta petunjuk Allah SWT saat ragu menentuka

Dan masih banyak lagi yang mungkin belum bisa di sebutkan dalam makalah ini. Karena makalah ini secara khusus akan membahas tentang sholat sunnah dhuha yang di jelaskan di bawah ini.

 

PEMBAHASAN

 

I.SEJARAH  RASULULLOH SAW SHOLAT DHUHA

Matahari telah meninggi, terik cahayanya pun mulai menyengat. Jilatan panasnya seakan membakar wajah. Waktu dhuha telah tiba. Waktu untuk bekerja dan menunaikan kebutuhan. Meskipun beban risalah begitu berat seperti, menjamu duta-duta yang datang berkunjung, memberikan ta’lim (pengarahan) kepada para sahabat Radhiallaahu anhum serta menunaikan hak keluarga, namun beliau tidak pernah lupa beribadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Mu’adzah berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha: “Apakah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam sering mengerjakan shalat Dhuha?” ia menjawab: “Tentu, beliau sering mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat bahkan lebih dari itu seluang waktu yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala ” (HR. Muslim).

Bahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam juga mewasiatkan hal itu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Kekasihku (Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam) telah mewasiatkan kepadaku agar berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, agar mengerjakan shalat Dhuha dan agar aku mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih).

Rumah yang tegak di atas pilar-pilar keimanan, penuh dengan ibadah dan dzikir, itulah rumah idaman. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mewasiatkan agar rumah kita seperti itu. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Lakukanlah beberapa shalat-shalat sunnah di rumahmu. Jangan jadikan rumahmu bagaikan kuburan.” (HR. Al-Bukhari).

Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengerjakan seluruh shalat-shalat sunnat di rumah. Demikian pula shalat sunnah yang tidak berkaitan dengan tempat tertentu, beliau lebih suka mengerjakannya di rumah. Terutama shalat sunnat ba’diyah Maghrib, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah mengerjakannya di masjid. Ada beberapa faidah mengerjakan shalat sunnah di rumah, di antaranya:

* Meneladani sunnah Rasulullah.
* Mengajarkan tata cara shalat kepada istri dan anak-anak.
* Mengusir setan-setan dari rumah disebabkan dzikir dan tilawah Al-Quran.
* Lebih membantu dalam mencapai ibadah yang ikhlas dan jauh dari penyakit riya’.

 

II.DEFINISI SHOLAT DHUHA

Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika matahari sedang naik. Kira-kira, ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam.

 

III.TATA CARA SHOLAT DHUHA

  1. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Asy-Syams.
  2. Pada rakaat kedua membaca surat Adh-Dhuha Niat shalat dhuha adalah: Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa. Artinya: ” Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah.” Doa yang dibaca setelah shalat dhuha: “Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu”. “Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

Maka secara teratur tata cara sholat duha adalah seperti ini :
* > Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram
* > “Membaca niat shalat duha”
* > Membaca doa Iftitah
* > Membaca surat al Fatihah
* > Membaca satu surat didalam Alquran.Afdholnya rakaat pertama surat Asysyams dan rakaat kedua surat Allail
* > Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
* > I’tidal dan membaca bacaanya
* > Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
* > Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya
* > Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
* > Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas

 

IV. ANJURAN SHOLAT DHUHA

Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]

Dalam Syarah An-Nawawi disebutkan:

Aisyah berkata seperti itu karena dia tidak setiap saat bersama Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah memiliki istri sebanyak 9 (sembilan) orang. Jadi Aisyah harus menunggu selama 8 hari sebelum gilirannya tiba. Dalam masa 8 hari itu, tidak selamanya Aisyah mengetahui apa-apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah istri beliau yang lain. ari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”. [HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, Hadis hasan]

Dari Abu Said [Al-Khudry], ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”. [HR. Turmuzi, Hadis hasan]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”[HR. Waktu Sholat Dhuha Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha [pada waktu yang belum begitu siang],

maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”. [HR.Muslim]
Penjelasan : Anak-anak onta sudah bangun karena panas matahari itu diqiyaskan dengan pagi hari jam 08:00 AM, adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak onta. Waktu-waktu Haram

Dari Ibnu Abbas berkata: “Datanglah orang-orang yang diridhai dan ia ridha kepada mereka yaitu Umar, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat sesudah Subuh hingga matahari bersinar, dan sesudah Asar hingga matahari terbenam.” [HR. Bukhari].

Dari Ibnu Umar berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila sinar matahari terbit maka akhirkanlah (jangan melakukan) shalat hingga matahari tinggi. Dan apabila sinar matahari terbenam, maka akhirkanlah (jangan melakukan) shalat hingga matahari terbenam”.
[HR. Bukhari]

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua shalat. Beliau melarang shalat sesudah shalat Subuh sampai matahari terbit dan sesudah sholat Asar sampaimatahariterbenam.
[HR. Bukhari]

Dari Muawiyah ia berkata (kepada suatu kaum): “Sesungguhnya kamu melakukan sholat (dengan salah). Kami telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak pernah melihat beliau melakukan sholat itu karena beliau telah melarangnya, yaitu dua rakaat sesudah sholat Asar”. [HR. Bukhari]

Dari Uqbah bin Amir: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sholat pada tiga saat: (1) ketika terbit matahari sampai tinggi, (2) ketika hampir Zuhur sampai tergelincir matahari, (3) ketika matahari hampir terbenam.” [HR. Bukhari]

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang sholat pada waktu tengah hari tepat (matahari di atas kepala), sampai tergelincir matahari kecuali pada hari Jumat.
[HR. Abu Dawud]

Menurut jumhur ulama, sholat ini adalah sunat Tahiyatul Masjid, selain sholat ini tetap dilarang melakukan sholat apapun. Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Matahari terbit dengan diikuti setan. Pada waktu mulai terbit, matahari berada dekat dengan setan, dan ketika telah mulai meninggi berpisah darinya. Pada waktu matahari berada tepat di tengah-tengah langit, ia kembali dekat dengan setan, dan ketika telah zawal (condong ke arah barat) ia berpisah darinya. Pada waktu hampir terbenam, ia dekat dengan setan, dan setelah terbenam ia berpisah lagi darinya.”[HR.Nasa’i]Waktu-waktu itu adalah waktu yang haram untuk shalat. Artinya apabila kita melakukan shalat sunat pada waktu haram, maka bukan pahala yang kita dapatkan, melainkan dosa.

 

V. WAKTU-WAKTU HARAM YANG MENGAPIT SHALAT DHUHA:

Waktu haram #1 = sesudah Shalat Subuh hingga matahari bersinar, atau kurang lebih sejak jam 06:00 AM hingga 07:45 AM

Waktu haram #2 = ketika hampir masuk waktu Zuhur hingga tergelincir matahari, atau kurang lebih jam 11:30 AM hingga 12:00 PM

 

 

 

VI.RAHASIA SHOLAT DHUHA

Rahasia shalat Dhuha Hadits Rasulullah saw yang menceritakan tentang rahasia shalat Dhuha, di antaranya:

  1. 1.      Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).
  2. 2.      Ghanimah (keuntungan) yang besar Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; “Ya! Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666).
  3. 3.      Sebuah rumah di surga Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surge.” (Shahih al-Jami`: 634).
  4. 4.      Memeroleh ganjaran di sore hari Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: “Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339). Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika” (“Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”). Pahala Umrah Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah….(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (Shahih al-Jami`: 6346).
  5. 5.      Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda:

“Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih al-Jami`: 6346).

  1. 6.      Ampunan Dosa “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

 

VII.FADHILAH SHOLAT DHUHA

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.

Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan hambaNya yang paling getol mendekatkan diri kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu dengan bermujahadah melawan kantuk dan dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk mendekatkan diri  kepadanya. Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya sebentar untuk.

kembali mengingat Allah swt, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).

Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35). Diakhir ayat ini terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi hambanya yang suka mendekatkan diri kepadanya. Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah (keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.

Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).

Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra: “Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.

Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha karena kesibukan duniawi kita kecuali karena kelalaian dan kebodohan kita sendiri.

 


PENUTUP

 

Sholat dluha adalah sholat sunnah yang dilakukan mulai dari matahari terbit seukuran tombak sampai sebelum masuk waktu sholat dhuhur. Adapun jumlah roka’aknya 2 samapai 12 roka’at, mayoritas sholat dhuha dilaksanakan  rokaat.

Sholat dhuha adalah sholat sunnah untuk memperbanyak rizki yang di berikan oleh alloh. Bisa disebut juga untuk menambah rizki. Karena nabi telah menganjurkan sholat ini Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami].

Sholat dhuha ini juga mempunyai rahasia atau keutamaan. Diantarnya :

  1. 1.      Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).
  2. 2.      Ghanimah (keuntungan) yang besar Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; “Ya! Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666).
  3. 3.      Sebuah rumah di surga Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surge.” (Shahih al-Jami`: 634).
  4. 4.      Memeroleh ganjaran di sore hari Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: “Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339). Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika” (“Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”). Pahala Umrah Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah….(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (Shahih al-Jami`: 6346).
  5. 5.      Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

  1. 6.      Ampunan Dosa “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

MOHAMMAD MADHI AL HUSAEN.htm”-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN” “http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd”&gt;

PENGETAHUAN AGAMA ISLAM,htm. http://alfin-noor.blogspot.com/feeds/posts/default

Rahasia Sholat Dhuha.htm.Kompas.com

sejarah nabi sholat dhuha.htm. (HR. Al-Bukhari).

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 

tasir An-Nahl 125 dan Al-Imran 137

An-Nahl 125 dan Al-Imran 137

An-nahl 125

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ali-imran 137

Artinya :Sesungguhnya Telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Penjelasan an-nahl 125

Gunakanlah metode terbaik di dalam berdakwah dan berdebat, yaitu berdakwah dengan cara terbaik, itulah kewajibanmu. Adapun pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan pada keduanya, diserahkan kepada-NYA semata, bukan kepada selain- NYA. Sebab, Dia lebih mengetahui tentang keadaan orang yang tidak mau meninggalkan kesesatannya karena ikhtiarnya yang buruk, dan tentang orang yang mengikuti petunjuk karena dia mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang telah digariskan Allah untukmu di dalam berdakwah, itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta menghilangkan uzur orang- orang yang sesat.

Maksud ayat di atas adalah, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW,”Serulah, wahai Muhammad, orang yang kepada mereka Tuhanmu mengutusmu, untuk mengajaknya menaati Allah.(ilaa sabiila rabbik)’Kepada jalan Tuhanmu,’ adalah, kepada syariat tuhanmuyang di tetapkan-Nya bagi makhluk-Nya, yaitu Islam. (bilhikmati)’ dengan hikmah,’ adalah, dengan wahyu allah yang disampaikan-Nya kepadamu, dan dengan kitab-Nya yang di turunkan-Nya kepadamu. (walmau’idzotil_hasanati)’dan pelajaran yang baik,’ adalah, dengan pelajaran yang baik, yang dijadikan Allah sebagai argument terhadap mereka di dalam kitab-Nya, dan peringatan bagi mereka di dalam wahyu-Nya seperti argument yang di sebutkan Allah kepada mereka dalam surah ini,serta nikmat-nikmat yang diingatkan Allah kepada mereka di dalamnya) ‘dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,’adalah, bantahlah dengan bantahan yang lebih baik dengan selainnya, yaitu memaafkan tindakan mereka yang menodai kehormatanmu, dan janganlah menentang allah dalam menjalankan kewajibanmu untuk menyampaikan risalah Tuhanmu kepada mereka.”

Penakwilan kami ini sejalan dengan pendapat para takwil, dan yang berpendapat demikian adalah:

a)      Muhammad bin Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata : Isa menceritakan kepada kami, Al-Harits menceritakan kepadaku, ia berkata : Al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: waraqa’ menceritakan kepada kami, seluruhnya dari ibnu Abi Najih, dari mujahid, tentang firman Allah, (wajaadilhum billatii hiya ahsan) “ dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” maksudnya adalah, jangan hiraukan tindakan mereka yang menyakitimu.

b)      Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata : Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, dari Mujahid, dengan riwayat yang semisalnya.

sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya” Allah berfirman kepada kepada Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Tuhanmu, wahai Muhammad, lebih mengetahui orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dari kalangan orang-orang yang berselisih pada hari Sabtu, dan dari selain mereka, serta orang yang menentang Allah. Dia lebih mengetahui tentang siapa di antara mereka yang meniti jalan yang lurus dan jalan yang benar. Dia pasti membalas mereka semua sesuai amal masing-masing sa’at mereka kembali kepada-Nya.

Penjelasan surat al-imran 137

bahwa perkara manusia yang mencangkup kehidupan masyarakat dan hal – hal yang terjadi di dalamnya, seperti pertaraungan antara kebenaran dan kebatilan, dan akhibat dari peperangan tersebut, yaitu perperangan, duel, saling menyerang, saling menguasai, adalah berjalan pada rel – rel yang lurus dan kaidah – kaidah yang tetap, sesuai dengan hikmah dan maslahat umum.

Dalam beberapa tempat ayat al-quran telah disebutkan sunnatu ‘i-lah seperti dalam firmanNya. Artinya : Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “.

Dan firmannya sehubungan dengan penuturan dakwah islam : Artinya :dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk Telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang Telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.

Yang dimaksut dengan pengertian ayat diatas adalah bahwa kehendak Allah pada makluknya berjalan sesuai dengan sunatullah yang maha bijak sana. Barang siapa berjalan pada sunnah tersebut akan berhasil, sekalipun ia seorang mulhid atau watsani. Dan, siapa yang menyimpang darinya akan rugi meskipun ia seorang nabi atau sidik.

Berdasarkan pengertian ini, tidak mengherankan jika kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang uhud, dan kaum musrikin bisa mendekati nabi SAW. Bahwa sempat melukai beliau dan merontokan giginya, serta menjerumuskannya ke dalam lubang.

Orang – orang muslim sejati, sudah seharusnya lebih utama mengetahui sunnah – sunnah tersebut, dan lebih pantas berjalan sesui dengan petunjuk sunah itu. Oleh karena itu, tidak lama kemudian para sahabat nabi SAW. Suatu perang uhud menyadari kekeliruan mereka. Lalu, segera mereka membela diri dan nabi SAW. Sampai kaum musrikin bubar tanpa memperoleh hasil yang mereka harapkan.

SURAT AL AHZAB AYAT  : 21

Artinya :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Penjelasan

Seseungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan yang baik itu telah di hadapan kalian, seaindainya kalian menghendakinya. Yaitu, hendaknya kalian mencontoh Rasulullah SAW. Di dalam amal perbuatannya, dan hendaknya kalian berjalan sesuai petunjuknya, seandainya kalian benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan adzabnya di hari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan, kecuali hanya kalian orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dengan ingatan yang banyak, maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu seharusnya membimbing kamu untuk taat kepadanya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Rasul-Nya.

Dalam konteks ini Abbas Al-Aqqad, seorang pakar muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifiksiaksn kedalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerja dan yang terakir beribadah. Sejarah hidup Nabi Muhammad SWA, membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai pucak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya , ibadahnya seni bahasa asing dikuasainya, seta pemikiran-pemikiranya sungguh menganggumkan.

SURAT  ALI IMRAN: 159

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[1]. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Penjelasan

Surat Ali Imran ini diturunkan setelah peristiwa perang Uhud. Pada perang itu hampir-hampir ummat Islam mengalami kekalahan total, padahal pada babak-babak awalnya mereka memperoleh kemenangan gemilang. Hal ini disebabkan karena sebagian pasukan Islam, yaitu mereka yang bertugas sebagai pasukan pemanah telah menyalahi kesepakatan. Mereka meninggalkan posisi strategisnya sebelum ada instruksi dari komandan perang, yaitu Rasulullah saw sendiri.

Sebagaimana biasa sebelum perang dimulai, Rasulullah merundingkan terlebih dahulu dengan para sahabat mengenai strategi dan taktik perang. Pada saat itu Rasulullah lebih cenderung memilih bertahan di kota Madinah sampai lawan menyerang ke dalam. Dengan begitu, menurut pendapat Rasulullah pasukan musuh bisa lebih mudah dikalahkan. Akan tetapi sebagian besar sahabat ketika itu berpendapat lain. Mereka lebih menyukai strategi ofensif, yaitu menyongsong mereka di luar kota Madinah. Mereka tidak mau jika dikesankan sebagai penakut, tidak berani keluar.

Karena pendapat mayoritas lebih cenderung keluar kota Madinah, maka Rasulullah memutuskan untuk memilih lokasi pertahanan, yaitu di bukit Uhud. Ternyata kemudian terjadi malapetaka besar. Pada perang ini pasukan Islam hampir-hampir hancur berantakan. Dengan kejadian ini para sahabat khawatir dan menduga tidak akan lagi dilibatkan dalam musyawarah untuk memecahkan berbagai masalah. Kekhawatiran semacam ini telah dijawab oleh Allah swt dengan menurunkan ayat di atas. Dengan demikian Rasulullah tetap diharuskan mengajak para sahabat untuk bermusyawarah dalam memecahkan berbagai masalah, dan tetap konsisten dengan cara itu. Maka pada ujung ayat Allah secara tegas menyatakan, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu

Allah SWT berfirman dengan kalimat yang ditujukan kepada RasulNya yang juga merupakan karunia bagi orang-orang beriman secara umum bahwa; hanyalah dengan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, sekiranya kamu berhati keras lagi berlaku kasar, tentulah mereka akan meninggalkan dirimu. Nabi juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabat tentang berbagai persoalan yang dihadapi agar hati mereka menjadi tenteram dan bersemangat dalam melaksanakan kewajiban.

Sebagai contoh misalnya; ketika perang Badar beliau bermusyawarah dengan kaumnya, tatkala kafilah dagang Abu Sofyan telah luput, yang tinggal hanyalah pasukan Qurisy, Rasulullah mengajak berunding para sahabat tentang kesediaan dan kesanggupan mereka untuk menghadapi pasukan siap tempur Quraysy yang jumlahnya tiga kali lipat?. Maka merekapun berseru “Yaa Rasulullah sekiranya engkau mengarungi lautan niscaya kami akan mengarunginya bersamamu, jika pun engkau berjalan hingga Birkul Ghamad (suatu tempat terpencil di Yaman yang sangat sulit untuk didatangi) maka kami pun akan menempuhnya bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Nabi mereka; “pergilah engkau dengan Tuhanmu dan peranglah kamu berdua, kami akan duduk menunggumu di sini, akan tetapi kami berkata; pergilah dan kami akan tetap bersamamu, kami ada di depanmu, kami ada disebelah kanan dan kirimu tetap berperang bersamamu” ketika itu serta merta berseri-serilah wajah Rasulullah SAW, beliaupun bangkit dan berseru: “Absyiruu ayyuhal qouwm…….Bergembiralah wahai kaumku, aku sudah melihat, kemenangan sudah di depan mata”.

Dengan musyawarah itu, semangat kaum muslimin menjadi semakin berkobar-kobar. Mereka menjadi tahu betul kondisi mereka, maka mereka bertempur dengan gagah berani hingga Allah benar-benar memberi kemenangan kepada mereka. Meski jumlah mereka hanya 313 sementara musuh berjumlah hingga 1000 orang dengan persenjataan lengkap.
Demikian pula ketika perang Uhud, beliau bermusyawarah dengan para sahabat, apakah bertahan di Madinah atau keluar menyongsong musuh. Maka merekapun menyongsong musuh dibukit Uhud.

Demikian pula dengan perang Khandaq beliau bermusyawarah dengan para sahabat ihwal perdamaian dengan kaum yang bersekutu (pasukan Ahzab) yang sudah mengepung Madinah, mereka akan menghentikan pengepungan jika diberi sepertiga dari buah-buahan dari hasil panen tahun itu, namun Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah menolaknya dengan berkata: “Demi Allah, dalam keadaan jahiliyahpun kami tidak hendak memberikan mereka cuma-cuma, demi Allah kami tidak akan memberikan sebutirpun setelah Allah memuliakan kami dengan Islam”

Allah SWT telah menurunkan rahmatNya dengan menjadikan hati Rasulullah menjadi hati yang lembut, santun dan penuh kasih sayang. Dan menjadikan ummatnya menjadi hamba-hamba Allah yang meneladani beliau SAW sebagai panutan, maka menjadi patutlah mereka mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT sebagaimana pertolongan yang Allah berikan kepada para Rasul sebelum beliau SAW. Allah berfirman….Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu….. meski sedemikian hebatnya Fir’aun dan bala tentaranya, dan sedemikian lemahnya Musa dan para pengikut setia beliau, ketika Allah mendatangkan pertolonganNya kepada Musa, maka Fir’aun dibinasakan oleh Allah, justru ketika dia dan bala tentaranya sedang mengejar-ngejar Musa. Sejarah membuktikan bahwa; dengan pertolongan Allah lah maka Fir’aun binasa bukan karena dia dikejar-kejar oleh Nabi Musa AS dan para pengikut beliau yang lemah-lemah.

Pada pasukan Badar yang tidak seimbang jumlahnya dengan musuh, kemenangan yang mereka raih semata-mata karena pertolongan Allah dan karena mereka pantas mendapatkan pertolongan, demikian pula dalam peristiwa-peristiwa lainnya. Allah mendatangkan pertolonganNya kepada mereka yang lemah dan teraniaya, yang ber akhlaq mulia, yang santun, yang taat dan istiqomah, dan yang senantiasa bertawakkal kepada Allah semata.
Allah berfirman: kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad ( ber-azam), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah ditanya tentang kata azamta dalam ayat ini, maka beliau bersabda: “maksudnya adalah bermusyawarahnya ahlur ra’yi kemudian mengikuti mereka”

Al-Baqarah 31

dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya . Hal ini pun ditegaskan oleh Hadits tentang syafa’atul uzhma. Nabi saw. bersabda : “ … lalu mereka datan kepada Adam seraya berkata, Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya, Dia membuat para malaikat bersujud kepadamu, dan Dia mengajarimu nama-nama seluruh perkara ” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah telah mengajari Adam nama-nama makhluk. Oleh karena itu, Dia berfirman, “kemudian Dia mengemukakan nama-nama itu kepada para malaikat.” ‘aradhahum menggunakan bentuk untuk yang berakal. Hal ini dimaksudkan untuk menyatakan universalitas sehingga termasuk ke dalamnya makhluk yang tidak berakal . Bagi ulama-ulama yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam as. dalam arti mengajarkan kata-kata, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kepada beliau dipaparkan benda-benda itu, dan pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda yang dipaparkan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kepada Adam nama benda itu pada saat dipaparkannya sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda-benda yang lain. Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dalam bentuk mendiktekan sesuatu atau menyampaikan suatu kata atau idea, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terarah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan. Di sini kita dengan mata hati kita di dalam cahaya kemuliaan melihat apa yang dilihat para malaikat di kalangan makhluk yang tinggi. Kita menyaksikan sejemput kecil dari rahasia Ilahi yang besar yang dititipkan-Nya pada makhluk yang bernama manusia ini, ketika Dia menyerahkan kepadanya kunci-kunci kekhalifahan. Rahasia kekuasaan itu diisyaratkan pada nama dan benda-benda yang berupa lafal-lafat yang terucapkan hingga menjadikannya isyarat-isyarat bagi orang-orang dan benda-benda yang diindranya .

Setelah pengajaran Allah dicerna oleh Adam as sebagaimana dipahami dari kata kemudian, Allah mengemukakannya benda-benda itu kepada para malaikat lalu berfirman, “sebutkanlah kepada-ku nama benda-benda itu, jika kamu benar”. dalam dugaan kamu bahwa kalian lebih wajar menjadi khalifah. Sebenarnya perintah ini bukan bertujuan penugasan menjawab, tetapi bertujuan membuktikan kekeliruan mereka. Mereka para malaikat yang ditanya itu secara tulus menjawab sambil menyucikan Allah “Maha suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Maksud mereka, apa yang Engkau tanyakan itu tidak pernah Engkau ajarkan kepada kami. Engkau tidak ajarkan itu kepada kami bukan karena Engkau tidak tahu, tetapi karena ada hikmah di balik itu.
Demikian jawaban malaikat yang bukan hanya mengaku tidak mengetahui jawaban pertanyaan, tetapi sekaligus mengakui kelemahan mereka dan kesucian Allah swt dari segala macam kekurangan atau ketidakadilan, sebagaimana dipahami dari penutup ayat ini. Benar, pasti ada hikmah dibalik itu. Boleh jadi karena pengetahuan menyangkut apa yang diajarkan kepada Adam tidak dibutuhkan oleh para malaikat karena tidak terkait dengan fungsi dan tugas mereka. Berbeda dengan manusia, yang bibebani tugas memakmurkan bumi.

Jawaban para malaikat, “Sesungguhnya Engkah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” juga mendaung makna bahwa sumber pengetahuan adalah Allah. Dia juga mengetahui segala sesuatu termasuk siapa yang wajar menjadi khalifat, dan Dia Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya, termasuk menetapkan makhluk itu sebagai khalifah. Jawaban mereka ini juga menunjukkan kepribadian malaikat dan dapat menjadi bukti bahwa pertanyaan mereka pada ayat 31 di atas bukanlah keberatan sebagaimana diduga sementara orang.

Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa Surat Al-Baqarah ayat 31 menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya.

At Taubah 122

tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.

Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:

يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء

“Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)”.

Tugas ulama umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut adalah merupakan tugas umat dan tugas setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah saw. telah bersabda;

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) daripadaku walaupun hanya satu ayat Alquran”.

Akan tetapi tentu saja tidak setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk bertekun menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu agama, karena sebagiannya sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya. Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut, serta menjalankan dakwah Islam dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.

Apabila umat Islam telah memahami ajaran-ajaran agamanya, dan telah mengerti hukum halal dan haram, serta perintah dan larangan agama, tentulah mereka akan lebih dapat menjaga diri dari kesesatan dan kemaksiatan, dapat melaksanakan perintah agama dengan baik dan dapat menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian umat Islam menjadi umat yang baik, sejahtera dunia dan akhirat.

Di samping itu perlu diingat, bahwa apabila umat Islam menghadapi peperangan besar yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, maka dalam hal ini seluruh umat Islam harus dikerahkan untuk menghadapi musuh. Tetapi bila peperangan itu sudah selesai, maka masing-masing harus kembali kepada tugas semula, kecuali sejumlah orang yang diberi tugas khusus untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam dinas kemiliteran dan kepolisian.

Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan bila ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang belum menerima pengetahuan.

Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi mercusuar bagi umatnya. Ia harus menyebarluaskan ilmunya, dan membimbing orang lain agar memiliki ilmu pengetahuan pula. Selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkan ilmunya agar menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama.

Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

Menurut pengertian yang tersurat dari ayat ini kewajiban menuntut ilmu pengetahuan yang ditekankan di sisi Allah adalah dalam bidang ilmu agama. Akan tetapi agama adalah suatu sistem hidup yang mencakup seluruh aspek dan mencerdaskan kehidupan mereka, dan tidak bertentangan dengan norma-norma segi kehidupan manusia. Setiap ilmu pengetahuan yang berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan mereka dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari. Umat Islam diperintahkan Allah untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik. Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya. Dalam hal ini, para ulama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berbunyi:

كل ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan yang wajib, maka ia wajib pula hukumnya”.

Karena pentingnya fungsi ilmu dan para sarjana, maka beberapa negara Islam membebaskan para ulama (sarjana) dan mahasiswa pada perguruan agama dari wajib militer agar pengajaran dan pengembangan ilmu senantiasa dapat berjalan dengan lancar, kecuali bila negara sedang menghadapi bahaya besar yang harus dihadapi oleh segala lapisan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RESUME AYAT TARBAWI

 

Di susun untuk memenuhi tugas Tafsir Ayat Tarbawi

Dosen Pengampu : Dr. H. Muhammad Anis, MA.

Di Susun Oleh             :

Furqon Tri Mashuri                 09470173

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2011

 


[1] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.